Tuntutan Iran kepada AS dalam Masalah JCPOA
Amerika Serikat dengan keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA telah melanggar perjanjian internasional ini, jadi sekarang Washington-lah yang harus menunjukkan itikad baik dan memenuhi kembali kewajibannya.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam wawancara dengan televisi CNN pada 1 Februari lalu, mengatakan jika AS kembali mematuhi kesepakatan nuklir secara penuh, Iran juga akan memenuhi komitmennya.
Pada dasarnya, statemen menlu Iran mengenai JCPOA dan AS menyinggung dua poin kunci yang sangat penting untuk mengurai kebuntuan saat ini. Pertama, penekanan tegas pada kepatuhan Iran terhadap JCPOA meskipun AS telah melanggar kesepakatan itu.
Zarif menggarisbawahi bahwa keputusan Iran mengurangi kewajiban kesepakatan nuklir merupakan tanggapan terhadap langkah tidak rasional AS dan juga kelambanan Eropa dalam memenuhi kewajiban JCPOA.
Oleh karena itu, jika ada tuntutan bahwa Iran harus lebih dulu kembali ke JCPOA, tentu ini tidak rasional dan tidak dapat dimengerti. Sebab, tindakan Iran sudah sesuai dengan ketentuan kesepakatan jika pihak lain melanggar kewajibannya. Berdasarkan pasal 26 dan 36 JCPOA, Iran memiliki hak untuk menangguhkan kewajibannya secara keseluruhan atau sebagian, jika pihak lain gagal memenuhi komitmennya.
Kedua, Zarif telah memberikan solusi rasional untuk keluar dari kebuntuan saat ini. Dalam wawancaranya dengan CNN, Zarif mencatat bahwa kesepakatan nuklir telah menyediakan sebuah mekanisme yaitu komisi bersama, dan komisi ini memiliki seorang koordinator.
Saat ini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell dipilih sebagai koordinator komisi bersama JCPOA, yang dapat mengoordinasikan langkah-langkah melalui konsultasi dengan Tehran dan Washington.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah AS dan pemerintahan baru bertekad untuk melupakan kebijakan gagal pemerintahan Trump atau tidak?
Jika AS dan tim baru yang ditunjuk oleh Presiden Joe Biden, mencari solusi yang masuk akal untuk JCPOA, mereka harus memanfaatkan peluang yang ada untuk segera memperbaiki pelanggaran di masa lalu tanpa membuang waktu. Langkah-langkah Iran dalam mengurangi kewajiban kesepakatan nuklir, bukanlah pelanggaran, tetapi bagian dari pengurangan komitmen setelah pihak lain tidak memenuji kewajiban JCPOA.
Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima syarat dan tuntutan baru apapun bagi kembalinya AS ke dalam JCPOA dan memenuhi kewajibannya. “Kesepakatan nuklir dinegosiasikan atas dasar apa yang bisa kita sepakati dan tidak bisa kita sepakati,” tegas menlu Iran.
Sikap ini cukup jelas dan menunjukkan bahwa Iran tidak ingin melanggar kesepakatan nuklir. Hal yang penting saat ini adalah bagaimana AS akan kembali ke dalam ketentuan JCPOA.
Perlu dicatat bahwa AS secara sepihak telah menarik diri dari kesepakatan nuklir, menerapkan kembali sanksi-sanksi yang telah dicabut, memberlakukan sanksi baru terhadap Iran, dan menekan negara lain supaya mematuhi sanksi tersebut. Sekarang pemerintah AS hanya memiliki satu jalan yang tersisa yaitu membatalkan semua tindakan ilegal itu dan mematuhi kesepakatan nuklir dengan Iran. (RM)