‎Mendzikirkan Hiburan: Strategi Budaya Wali Songo
https://parstoday.ir/id/news/opini-i183540-mendzikirkan_hiburan_strategi_budaya_wali_songo
Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
(last modified 2026-01-04T04:38:39+00:00 )
Jan 04, 2026 11:33 Asia/Jakarta
  • ‎Mendzikirkan Hiburan: Strategi Budaya Wali Songo

Oleh: Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin

Dalam kebudayaan Jawa, bunyi gamelan sering dipahami sebagai elemen pengiring kehidupan sosial: hadir dalam hajatan, ritus, dan perayaan bersama. Namun, dalam pembacaan yang lebih mendalam, bunyi tidak pernah sekadar bunyi. Ia adalah medium pembentukan rasa, dan pada tingkat tertentu, medium pembentukan kesadaran. Di titik inilah para Wali Songo memperlihatkan kecerdasan kebudayaan yang melampaui zamannya: mereka tidak mematikan hiburan, tetapi mendzikirkan hiburan.

Rangkaian nang ning nang gung bukanlah komposisi musikal yang netral. Ia bekerja sebagai struktur batin yang secara perlahan membimbing manusia keluar dari kegaduhan menuju kejernihan. Bukan dengan paksaan, bukan dengan larangan, melainkan melalui pengalaman estetik yang berulang dan meresap. Kesadaran tidak diperintah untuk berubah, tetapi dilatih untuk matang.

Bunyi nang dapat dibaca sebagai hentakan awal kesadaran. Ia menginterupsi rutinitas yang sering dijalani tanpa refleksi. Dalam nang terdapat ajakan untuk berhenti sejenak, memberi jarak dari hiruk-pikuk dunia, dan membuka ruang mendengar. Pada tahap ini, manusia belum melepaskan dirinya sepenuhnya, tetapi mulai menyadari bahwa hidup tidak bisa terus bergerak tanpa arah batin.

Dari situ, kesadaran diarahkan menuju ning. Ning bukan sekadar sunyi dalam arti fisik, melainkan keheningan eksistensial. Pada fase ini, manusia mulai menyadari keterbatasannya, menyadari bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Ego melemah, dorongan untuk menguasai mereda, dan kesadaran akan ketergantungan pada Yang Maha Ada mulai menguat. Ning adalah fondasi etis yang penting, karena dari sinilah lahir sikap hidup yang tidak agresif dan tidak eksploitatif.

Setelah keheningan itu, nang kembali hadir. Namun ia tidak lagi berfungsi sebagai hentakan, melainkan sebagai peneguhan. Manusia kembali ke ruang sosial dan kehidupan sehari-hari dengan orientasi batin yang berbeda. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak lagi dikuasai oleh dunia.

Puncak dari rangkaian ini adalah gung. Bunyi gung menandai keluasan dan keagungan. Pada titik ini, relasi dengan Yang Maha Agung tidak diwujudkan dalam klaim verbal atau ekspresi emosional yang berlebihan, melainkan dalam ketenangan sikap dan kejernihan tindakan. Dzikir tidak lagi menjadi aktivitas lisan, tetapi keadaan batin yang memancar dalam cara manusia hidup.

Dengan demikian, nang ning nang gung dapat dipahami sebagai pola perjalanan kesadaran. Ia bukan sekadar estetika, melainkan pedagogi kultural. Para wali memahami bahwa transformasi masyarakat tidak bisa dibangun melalui tekanan normatif semata. Ia harus tumbuh melalui pembiasaan rasa, melalui pengalaman yang dialami bersama, dan melalui pengulangan yang perlahan membentuk karakter.

Pendekatan ini tidak memutus masyarakat dari tradisinya. Gamelan bukan budaya asing, melainkan bagian dari kehidupan Nusantara. Para wali tidak merusak tradisi, tidak meniadakan kegembiraan, tetapi menggeser orientasinya. Dari hura-hura menuju perenungan, dari pelarian menuju pendalaman. Inilah strategi kebudayaan yang bekerja dari dalam, bukan dari luar.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan pemahaman yang matang tentang manusia paripurna. Manusia tidak diminta meninggalkan dunia, tetapi diajak menempatkan dunia secara proporsional. Tradisi tetap hidup, kebudayaan tetap berjalan, namun diarahkan agar tidak menjauhkan manusia dari kesadaran batinnya.

Kesadaran ini tidak berhenti pada relasi vertikal antara manusia dan Tuhan. Ia berbuah secara horizontal dalam relasi manusia dengan sesama dan dengan alam. Seseorang yang telah mengalami ning tidak mudah merusak, karena ia telah menyadari keterbatasan dirinya. Seseorang yang telah sampai pada gung tidak mudah serakah, karena ia telah bersentuhan dengan keluasan makna yang melampaui kepemilikan.

Di sinilah prinsip memayu hayuning bawana menemukan konteksnya. Merawat dan memperindah dunia bukan sekadar etika lingkungan, melainkan konsekuensi kesadaran. Alam tidak lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang saling bergantung.

Sebaliknya, ambrasto dur hangkoro—penghancuran sifat angkara murka—menjadi mungkin karena ego telah dilunakkan sejak tahap keheningan. Keserakahan dan kekerasan tumbuh dari kesadaran yang menempatkan diri sebagai pusat. Ketika pusat itu digeser, sifat-sifat destruktif kehilangan pijakannya.

Para Wali Songo telah menanamkan pola kesadaran jauh sebelum istilah krisis ekologis dikenal. Mereka menanamkan kesadaran melalui bunyi, ritme, dan rasa—membentuk masyarakat yang hidup sambil berzikir dan berzikir sambil hidup.

Dalam konteks hari ini, ketika hiburan modern sering menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, pelajaran dari nang ning nang gung menjadi semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan tidak harus bertentangan dengan spiritualitas, dan bahwa keberlanjutan hidup tidak mungkin dibangun tanpa kedalaman kesadaran.

Nang ning nang gung bukan nostalgia masa lalu, melainkan peta kesadaran. Ia menunjukkan bahwa ketenangan lahir dari pendalaman, bahwa peradaban yang berkelanjutan berakar pada kerendahan ego, dan bahwa hubungan manusia dengan alam pada akhirnya mencerminkan kualitas hubungan manusia dengan Yang Maha Agung.