Pemimpin yang Mengubah Persatuan Menjadi Strategi Praktis Dunia Islam
https://parstoday.ir/id/news/opini-i192412-pemimpin_yang_mengubah_persatuan_menjadi_strategi_praktis_dunia_islam
"Dari pendirian Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab hingga fatwa pengharaman penghinaan terhadap simbol Ahlussunnah, warisan Khamenei untuk persatuan Islam."
(last modified 2026-07-02T09:04:12+00:00 )
Jul 02, 2026 16:00 Asia/Jakarta
  • Persatuan
    Persatuan

"Dari pendirian Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab hingga fatwa pengharaman penghinaan terhadap simbol Ahlussunnah, warisan Khamenei untuk persatuan Islam."

Dari pendirian Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam dan dukungan terhadap dialog ulama Syiah dan Ahlussunnah, hingga fatwa pengharaman penghinaan terhadap simbol-simbol Ahlussunnah dan penekanan berkelanjutan untuk melawan arus takfiri, semua ini menunjukkan bahwa pendekatan mazhab dalam warisan pemikiran Pemimpin Syahid Revolusi Islam adalah strategi praktis dan jangka panjang untuk memperkuat konvergensi Muslim dan meningkatkan kewibawaan dunia Islam.

Dalam sejarah kontemporer dunia Islam, jarang ada topik yang mendapat perhatian sebanyak persatuan Islam dalam pemikiran dan tindakan para pemimpin agama dan politik. Di antara arus-arus pemikiran ini, nama Ayatullah Sayid Ali Hosseini Khamenei, Pemimpin Syahid Republik Islam Iran, selama lebih dari tiga dekade telah terkait erat dengan gagasan pendekatan mazhab Islam, dialog antara ulama Syiah dan Ahlussunnah, dan upaya mengurangi kesenjangan religius, sebuah pendekatan yang dari pandangannya merupakan strategi permanen untuk menjaga kehormatan dan kewibawaan umat Islam.

Konteks: Krisis Dunia Islam

Poin penting adalah bahwa pandangan ini terbentuk pada tahun-tahun ketika dunia Islam menghadapi serangkaian krisis internal dan eksternal, dari perang hingga kelanjutan pendudukan tanah-tanah Islam, penyebaran arus takfiri, dan peningkatan intervensi kekuatan asing. Dalam kondisi seperti ini, Pemimpin Syahid Iran berulang kali menekankan bahwa modal terbesar Muslim adalah persatuan kata, dan setiap perbedaan religius pada akhirnya akan menguntungkan musuh-musuh Islam.

Pemeriksaan terhadap posisi, tindakan, dan institusi-institusi yang terbentuk selama masa kepemimpinan beliau di bidang kerja sama negara-negara Islam dan pendekatan mazhab menunjukkan bahwa persatuan Islam bagi beliau bukan sekadar slogan politik, melainkan telah menjadi salah satu sumbu tetap kebijakan budaya dan agama Republik Islam Iran dan juga dunia Islam. Masalah ini terwujud dalam tindakan-tindakan Pemimpin Syahid Revolusi, dari pendirian Majelis Dunia Pendekatan Mazhab Islam dan dukungan terhadap Konferensi Internasional Persatuan Islam, hingga fatwa bersejarah tentang pengharaman penghinaan terhadap simbol-simbol Ahlussunnah dan penekanan berulang untuk menghindari setiap tindakan yang memicu perbedaan di antara Muslim.

Persatuan: Strategi yang Berakar dari Al-Qur'an

Dalam warisan pemikiran Ayatullah Sayid Ali Hosseini Khamenei, persatuan Islam, sebelum menjadi kebutuhan politikm berakar pada ajaran-ajaran Al-Qur'an. Beliau berulang kali merujuk pada ayat-ayat seperti "wa'taṣimū biḥabliLlāhi jamī'an wa lā tafarraqū" (Dan berpegangteguhlah kamu semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai), dan meyakini bahwa perbedaan religius, meskipun ada perbedaan fikih dan teologis, tidak boleh berujung pada permusuhan dan pertikaian di antara Muslim.

Pidato Bersejarah: 16 Mehr 1369

Pemimpin Syahid Revolusi dalam pertemuan dengan para pejabat dan tamu Konferensi Persatuan Islam pada 16 Mehr 1369 (8 Oktober 1990), setahun setelah beliau terpilih sebagai Pemimpin Republik Islam Iran, dengan tegas menyatakan:

"Ketika kami meneriakkan slogan persatuan, titik pertama adalah menghilangkan perbedaan, konflik, dan pertentangan yang selama berabad-abad merugikan Muslim."

Beliau dalam pidato yang sama juga menyampaikan poin penting lainnya: bahwa persatuan baru bermakna ketika ia melayani kehormatan dan kewibawaan dunia Islam dan mampu mengubah Muslim menjadi satu front tunggal dalam menghadapi ancaman bersama.

Dari pandangan Pemimpin Syahid Revolusi, perbedaan fikih antar mazhab Islam adalah hal yang alami, tetapi mengubah perbedaan-perbedaan ini menjadi konflik politik dan sosial adalah penyimpangan yang sepanjang sejarah telah berulang kali disalahgunakan oleh pemerintahan dan kekuatan asing.

Pendirian Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam

Salah satu ciri paling penting dari strategi persatuan Pemimpin Syahid Revolusi adalah upaya untuk mengubah pemikiran ini menjadi struktur-struktur yang berkelanjutan. Pada tahun 1369 (1990), atas perintah beliau, Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam didirikan, sebuah institusi yang misinya adalah menciptakan koneksi antara ulama Syiah dan Ahlussunnah, mengembangkan dialog-dialog ilmiah, mengurangi kesalahpahaman religius, dan memperkuat kerja sama antara para pemikir dunia Islam.

Pada saat itu, banyak analis menilai pendirian majelis ini sebagai titik balik dalam kebijakan agama Republik Islam Iran dan dunia Islam, karena untuk pertama kalinya sebuah institusi dengan misi spesifik pendekatan mazhab secara resmi memulai kegiatannya.

Pada tahun-tahun berikutnya, majelis ini berhasil mengumpulkan jaringan luas ulama Syiah dan Ahlussunnah dari puluhan negara Muslim, mengadakan pertemuan-pertemuan ilmiah, menerbitkan karya-karya penelitian, dan menyediakan wadah dialog antara para pemikir dari berbagai mazhab.

Konferensi Internasional Persatuan Islam

Di samping institusi ini, Konferensi Internasional Persatuan Islam juga telah menjadi salah satu peristiwa tahunan terpenting dunia Islam, sebuah pertemuan yang setiap tahun dihadiri oleh ratusan ulama agama, dosen universitas, dan tokoh politik dari berbagai negara.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei berulang kali dalam pesan-pesan dan pertemuannya dengan peserta konferensi ini menekankan bahwa persatuan bukan berarti mengesampingkan keyakinan religius, melainkan berarti kerja sama pada sumbu persamaan-persamaan Islam.

Perbedaan Mazhab: Proyek untuk Melemahkan Dunia Islam

Salah satu sumbu tetap dalam ucapan Ayatullah Sayid Ali Hosseini Khamenei adalah peran kekuatan-kekuatan asing dalam memicu perbedaan religius dalam Islam. Beliau meyakini bahwa banyak perang dan konflik tidak bersumber dari perbedaan-perbedaan akidah, melainkan dari intervensi politik kekuatan-kekuatan yang dirugikan oleh persatuan Muslim.

Dalam konteks ini, Pemimpin Syahid Revolusi dalam pertemuan dengan para pejabat sistem dan tamu Konferensi Persatuan Islam pada Mordad 1374 (Agustus 1995) menekankan:

"Hari ini kita memiliki musuh yang sama. Selain memiliki kitab yang sama, nabi yang sama, kiblat yang sama, dan prinsip-prinsip akidah yang sama, musuh kita juga satu. Masalah persatuan antar Muslim adalah masalah yang serius."

Beliau berulang kali memperingatkan bahwa pemicuan sentimen religius dan penghinaan terhadap simbol-simbol mazhab-mazhab Islam adalah jalan yang ditempuh musuh-musuh untuk menciptakan perpecahan di antara Muslim. Menurut keyakinan Pemimpin Syahid Revolusi, setiap arus atau media yang dengan sadar memicu perbedaan religius, secara praktis sedang bermain di lapangan mereka yang ingin melemahkan dunia Islam.

Fatwa Bersejarah: Pengharaman Penghinaan terhadap Simbol Ahlussunnah

Jika kita ingin menunjuk satu titik balik dalam tindakan praktis Ayatullah Sayid Ali Hosseini Khamenei untuk pendekatan mazhab, tanpa ragu kita harus merujuk pada fatwa pengharaman penghinaan terhadap simbol-simbol Ahlussunnah, fatwa yang pada tahun 1389 (2010), menyusul peningkatan ketegangan religius di kawasan, dikeluarkan dan mendapat sambutan luas di dunia Islam.

Kisahnya bermula ketika penerbitan beberapa pernyataan yang menghina istri mulia Nabi Islam SAW memicu protes luas ulama Ahlussunnah di berbagai negara. Dalam ruang seperti ini, Pemimpin Syahid Revolusi dalam menanggapi sebuah istifta (pertanyaan hukum), mengumumkan:

"Penghinaan terhadap simbol-simbol saudara-saudara Ahlussunnah, termasuk menuduh istri Nabi Islam SAW, adalah haram."

Fatwa ini bukan sekadar hukum fikih; banyak pengamat menilainya sebagai pesan politik dan sosial untuk mencegah terbakarnya perbedaan religius. Sejumlah ulama Ahlussunnah di Mesir, Lebanon, Irak, Pakistan, India, dan negara-negara Islam lainnya menyambut posisi ini dan menganggapnya sebagai langkah penting dalam mengurangi ketegangan antar mazhab dalam Islam.

Pada kenyataannya, Pemimpin Syahid Revolusi berusaha menunjukkan bahwa membela keyakinan Syiah tidak bertentangan dengan menghormati simbol-simbol mazhab-mazhab Islam lainnya, dan ada batas yang jelas antara dialog ilmiah dan penghinaan.

Persatuan Bukan Berarti Menghapus Perbedaan

Salah satu kesalahpahaman tentang pendekatan mazhab adalah anggapan bahwa tujuannya adalah menghilangkan perbedaan akidah antara Syiah dan Sunni,  sebuah pemahaman yang berulang kali ditolak oleh Pemimpin Syahid Revolusi. Beliau menekankan bahwa perbedaan-perbedaan fikih, teologis, dan historis antar mazhab Islam adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal, tetapi perbedaan-perbedaan ini tidak boleh berujung pada permusuhan, kekerasan, atau saling mengkafirkan.

Sampai-sampai pada hari keempat puluh wafatnya Imam Khomeini ra, 23 Tir 1368 (14 Juli 1989), Pemimpin Syahid Revolusi mendefinisikan persatuan Islam demikian:

"Persatuan Islam berarti berkumpulnya pemilik selera dan metode yang berbeda di sekitar sumbu Islam."

Dengan kata lain, beliau meyakini bahwa Muslim bisa memiliki pemahaman yang berbeda dalam masalah-masalah akidah dan agama, tetapi dalam topik-topik seperti membela Palestina, melawan Islamofobia, memerangi ekstremisme, pengembangan ilmiah, dan menjaga kewibawaan dunia Islam, mereka bisa bersatu.

Tradisi Pertemuan dengan Ulama Ahlussunnah

Pentingnya persatuan antar mazhab Islam begitu besar dalam pemikiran Pemimpin Syahid Revolusi, sehingga selama 37 tahun kepemimpinan beliau, pertemuan dengan ulama Ahlussunnah Iran dan negara-negara Islam lainnya telah menjadi salah satu program tetap beliau.

Dalam pertemuan-pertemuan ini, biasanya ditekankan pada saling menghormati, menghindari takfir, menjaga martabat mazhab-mazhab Islam, melawan arus-arus ekstremis, dan perlunya kerja sama dalam menghadapi ancaman bersama.

Di dalam Iran juga, beliau berulang kali menekankan pada pemenuhan hak-hak kewarganegaraan Ahlussunnah, pemanfaatan kapasitas para elit, dan menghindari setiap perilaku yang memecah belah.

Pada kenyataannya, dari pandangan Pemimpin Syahid Revolusi, keamanan dan kohesi negara-negara Islam hanya akan terjaga jika semua mazhab merasa memiliki bagian dalam membangun masa depan masyarakat Islam.

Haji: Pameran Terbesar Persatuan Muslim

Salah satu sumbu tetap dalam ucapan Pemimpin Syahid Revolusi adalah kedudukan Haji dalam mewujudkan persatuan umat Islam. Beliau meyakini bahwa berkumpulnya jutaan Muslim dari puluhan negara dunia adalah kesempatan yang tak tertandingi untuk saling mengenal, sinergi, dan menampilkan kekuatan dunia Islam, sebuah kesempatan yang tidak boleh dikorbankan demi perbedaan religius atau politik.

Ayatullah Khamenei dalam pesan kepada jamaah Baitullah al-Haram pada tahun 1381 (2002) memperingatkan:

"Mereka yang dalam upacara Haji mencari perpecahan dan fitnah, sedang menghancurkan simpanan besar persatuan umat Islam."

Beliau berulang kali menekankan bahwa Haji bukan sekadar ibadah individual, melainkan arena untuk memperkuat solidaritas Muslim dan mengingatkan kembali konsep umat yang satu.

Persatuan Bukan Taktik, Tapi Prinsip

Mungkin perbedaan paling penting antara pandangan Pemimpin Syahid Revolusi dengan beberapa pendekatan politik lainnya terletak pada poin ini: beliau tidak menganggap persatuan sebagai kebijakan temporer untuk melewati krisis, melainkan mempresentasikannya sebagai bagian dari identitas dan masa depan dunia Islam.

Ayatullah Khamenei dalam pidato-pidato berulang menekankan bahwa persatuan bukan taktik; ia adalah prinsip Islam dan strategi permanen. Berdasarkan ini, pendekatan mazhab tidak boleh tergantung pada kondisi politik atau hubungan antar-negara, melainkan harus berubah menjadi budaya yang berkelanjutan di tengah bangsa-bangsa Muslim.

Menurut keyakinan beliau, jika persatuan hanya diangkat pada masa krisis dan kemudian dilupakan, ia tidak akan bisa membawa pada kohesi nyata dunia Islam.

Kebutuhan yang Ditegaskan Kembali oleh Transformasi Kawasan

Transformasi dua dekade terakhir di Timur Tengah, dari perang Irak dan Suriah hingga munculnya kelompok-kelompok takfiri, dan dalam tahun-tahun terakhir perang Gaza setelah 7 Oktober 2023, sekali lagi telah mengubah masalah persatuan dunia Islam menjadi salah satu diskusi politik dan pemikiran terpenting di kawasan.

Banyak analis meyakini bahwa sebagian dari biaya yang dibayar negara-negara Islam pada tahun-tahun ini adalah hasil dari kesenjangan politik dan religius yang mendalam, kesenjangan yang kadang berujung pada perang internal dan kadang menyediakan peluang bagi intervensi aktor asing.

Dalam ruang seperti ini, menelaah pandangan Ayatullah Sayid Ali Khamenei tentang pendekatan mazhab, lebih dari sekadar membaca kembali bagian dari sejarah Republik Islam, adalah melihat pada salah satu diskusi strategis dunia Islam; sebuah pemikiran yang berpijak pada prinsip bahwa tidak ada perbedaan religius yang boleh menghalangi Muslim dari masalah-masalah yang lebih besar yang menargetkan persatuan dunia Islam.

Beliau berulang kali menekankan bahwa dunia Islam menghadapi tantangan-tantangan bersama; dari pendudukan tanah-tanah Islam dan Islamofobia hingga keterbelakangan ilmiah, ketergantungan ekonomi, dan ekstremisme. Dari pandangan Pemimpin Syahid Revolusi, membahas perbedaan-perbedaan religius dalam kondisi seperti ini berarti mengabaikan prioritas-prioritas utama umat Islam.

Kutipan Bersejarah: 21 Bahman 1375

Ayatullah Sayid Ali Hosseini Khamenei dalam pertemuan dengan para pejabat sistem sehubungan dengan Idul Fitri pada 21 Bahman 1375 (9 Februari 1997) menekankan:

"Dalam lingkup yang luas, rahasia kemenangan umat Islam adalah persatuan kata. Jika umat Islam ingin maju di bidang ilmu, kemajuan, kemajuan material, penguasaan atas takdir mereka sendiri, pembebasan dari dominasi orang asing, dan kebahagiaan internal dan eksternal, jalannya adalah melalui kalimat tauhid dan tauhid kata."

Beliau dalam kelanjutan pidato yang sama, dengan merujuk pada situasi Palestina, dengan tegas menyatakan:

"Jika hari ini bangsa Palestina menghadapi penderitaan dan bencana seperti ini, salah satu alasannya adalah perbedaan di antara Muslim, dan jika negara-negara Islam mencapai persatuan, mereka bisa bertahan dalam menghadapi ancaman bersama."

Melawan Takfir: Sumbu Tetap Pemikiran Persatuan

Pada tahun-tahun ketika arus-arus takfiri menyebar di sebagian dunia Islam, Pemimpin Syahid Revolusi berulang kali memperingatkan bahaya mengubah perbedaan religius menjadi kekerasan. Beliau meyakini bahwa takfir adalah pelayanan terbesar kepada musuh-musuh Islam, karena ia menghabiskan kekuatan umat Islam, alih-alih menghadapi tantangan utama, untuk konflik internal.

Meskipun arus-arus takfiri di Suriah dan sebagian Irak menguat pada akhir dekade 80-an (Syamsiah), Pemimpin Syahid Revolusi pada tahun 1383 (2004) telah memperingatkan tentang mereka. Beliau dalam pertemuan dengan para penyelenggara upacara Haji pada 30 Azar 1383 (20 Desember 2004) menekankan:

"Musuh ingin kita saling bergulat agar mereka merasa tenang. Mereka memicu beberapa orang untuk menghina simbol-simbol satu sama lain, dan jika mereka menghadapi reaksi timbal balik, mereka telah mencapai tujuan mereka."

Ayatullah Khamenei berulang kali meminta para ulama, khatib, media, dan aktivis budaya negara-negara Muslim, baik Syiah maupun Sunni, untuk menghindari setiap ucapan atau tindakan yang memicu sentimen religius, dan memisahkan perbedaan ilmiah dari konflik politik.

Tanggung Jawab Kolektif

Tentu saja, dalam pemikiran Pemimpin Syahid Revolusi, menjaga persatuan bukan sekadar tugas pemerintah atau institusi agama. Beliau berulang kali menekankan bahwa ulama, akademisi, media, dan masyarakat umum juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kohesi umat Islam.

Beliau dalam pertemuan dengan rakyat Kazerun pada 16 Ordibehesht 1387 (6 Mei 2008) berkata:

"Siapa pun yang mengajak bangsa pada perpecahan, siapa pun yang memukul genderang perbedaan, telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan negara dan bangsa ini."

Pandangan ini di arena dunia Islam juga memiliki makna yang sama: bahwa memecah belah, terlepas dari oleh siapa atau arus mana dilakukan, pada akhirnya akan melemahkan umat Islam.

Warisan yang Terus Menjadi Diskusi Dunia Islam

Penelaahan terhadap lebih dari tiga dekade posisi dan tindakan Pemimpin Syahid Revolusi menunjukkan bahwa pendekatan mazhab dan persatuan Syiah-Sunni adalah salah satu sumbu tetap dalam pemikiran dan kinerja beliau. Dari pendirian Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam dan dukungan terhadap Konferensi Persatuan Islam, hingga fatwa pengharaman penghinaan terhadap simbol-simbol Ahlussunnah, pertemuan-pertemuan berkelanjutan dengan ulama mazhab-mazhab berbeda, dan penekanan pada dialog, semuanya didefinisikan dalam kerangka strategis yang tujuannya adalah mengurangi kesenjangan religius dan memperkuat konvergensi Muslim.

Hari ini juga, dalam kondisi ketika dunia Islam menghadapi krisis-krisis seperti perang, ekstremisme, Islamofobia, masalah Palestina, dan intervensi asing, masalah pendekatan mazhab masih dianggap sebagai salah satu kebutuhan terpenting dunia Islam.

Dalam konteks ini, warisan pemikiran Ayatullah Sayid Ali Hosseini Khamenei di bidang persatuan Islam berpijak pada prinsip bahwa Muslim, meskipun ada perbedaan fikih dan teologis, bisa berdiri bersama di sekitar sumbu Al-Qur'an Karim, Sunnah Nabi Agung SAW, kepentingan bersama, dan pembelaan terhadap kewibawaan umat Islam.

Dari sudut pandang ini, persatuan dalam pemikiran beliau bukan slogan politik temporer, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga kewibawaan, kemandirian, dan solidaritas dunia Islam, sebuah strategi yang menurut keyakinan Pemimpin Syahid Revolusi, tanpa itu pencapaian cita-cita umat Islam yang satu tidak mungkin.[]