Amerika Tinjauan dari Dalam 15 Desember 2018
-
Senat AS
Dinamika Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya Senat AS setuju untuk mengakhiri dukungan kepada Arab Saudi di perang Yaman, ancaman Trump untuk menutup pemerintahan AS, upaya AS untuk melawan Iran di Dewan Keamanan PBB, dan berlanjutnya perang dagang antara AS dan Cina.
Senat AS Setuju Akhiri Dukungan untuk Saudi di Perang Yaman
Senat Amerika Serikat memutuskan untuk mengakhiri dukungan Washington kepada Arab Saudi dalam agresi militernya ke Yaman. Senat pada hari Kamis (13/12/2018) untuk pertama kalinya menggunakan kekuatan mereka untuk menentang intervensi militer AS di luar negeri di tengah dukungan kuat pemerintahan Trump kepada rezim Saudi dalam agresinya di Yaman.
Pemungutan suara Senat dengan hasil 56-41, merupakan sebuah kecaman terhadap perang yang dipimpin Saudi di Yaman – yang telah menewaskan ribuan warga sipil dan menciptakan krisis kemanusiaan – dan teguran lain terhadap Presiden Donald Trump terkait dukungannya kepada Saudi dan pemimpin de facto, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang diduga memerintahkan pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.
Beberapa senator Partai Republik bergabung dengan Demokrat untuk meloloskan sebuah resolusi, yang belum pernah terjadi sebelumnya melawan Trump. Resolusi ini meminta pemerintah AS untuk menghentikan dukungan intelijen dan dukungan militer lainnya kepada koalisi pimpinan Arab Saudi.
Beberapa analis menganggap resolusi sebagai tantangan langsung Senat bagi Presiden Trump. Para pendukung resolusi mengatakan bahwa keterlibatan pasukan AS dalam perang Yaman tidak sah, inkonstitusional, dan tidak bermoral. Kampanye ini disponsori oleh para Senator Bernie Sanders, Chris Murphy, Mike Lee.
"Ini adalah Kongres, bukan presiden, yang memiliki kekuatan untuk mengirim laki-laki dan perempuan kita ke medan perang," kata Senator Sanders saat Senat memulai debat pada Rabu lalu. Menurutnya, Kongres telah melepaskan tanggung jawab itu (otorisasi perang) selama beberapa dekade.
Sanders menyebut voting Senat sebagai pesan ke Riyadh. "Hari ini kami mengatakan kepada rezim despotik di Arab Saudi bahwa kami tidak akan menjadi bagian dari petualangan militer mereka," tegasnya.
Para senator juga dengan suara bulat menyetujui resolusi tak mengikat, yang menganggap Putra Mahkota Saudi, Mohammed Bin Salman, bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi. Kolumnis The Washington Post ini dibunuh di dalam Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober oleh tim intelijen Saudi, yang terikat dengan putra mahkota.
Trump Ancam Tutup Pemerintahan AS
Presiden AS Donald Trump dalam sebuah debat televisi dengan para pemimpin Demokrat di Oval Office, Gedung Putih pada hari Selasa (11/12/2018), mengancam akan menutup pemerintah kecuali Kongres menyetujui anggaran untuk pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko.
“Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan dari satu atau lain cara. . . Saya akan menutup pemerintahan,” ancam Presiden AS. "Saya bangga menutup pemerintah untuk keamanan perbatasan," tegasnya.
Ancaman ini dikeluarkan dalam debat dengan Nancy Pelosi, pemimpin Demokrat yang akan menjadi ketua DPR AS pada Januari 2019, dan Senator senior Demokrat Chuck Schumer. Sebelum pertemuan tertutup mereka, Trump membiarkan kamera televisi merekam pembicaraan mereka yang dengan cepat berubah menjadi perdebatan.
Setelah perdebatan tentang apakah Trump atau Schumer bertanggung jawab atas penutupan pemerintah, presiden mengatakan bahwa dia akan "bangga" untuk memicu penutupan jika Demokrat tidak mendukung undang-undang yang menyetujui anggaran untuk pembangunan tembok pembatas.
Pertemuan ini adalah sinyal tentang bagaimana sikap kubu Demokrat yang akan mengendalikan DPR AS terhadap Gedung Putih. Beberapa anggota Demokrat juga memperingatkan bahwa mereka akan membuka investigasi terhadap Trump terkait kolusinya dengan Rusia dalam pilpres.
Pada kesempatan itu, Trump berulang kali mengatakan bahwa ia akan menutup pemerintah jika Kongres tidak meloloskan RUU tembok pembatas senilai 5 miliar dolar. Trump telah berjuang untuk meyakinkan Demokrat dan Republik tentang perlunya sebuah tembok di perbatasan AS-Meksiko untuk menghalau para imigran.
Sebuah polling oleh NewHour-Marist NPR-PBS menemukan bahwa 57 persen orang Amerika lebih suka presiden berkompromi dengan tuntutannya agar pemerintah tetap berjalan. Namun, hanya 29 persen dari Republikan setuju bahwa presiden harus berkompromi tentang masalah tersebut.
Para pemimpin Demokrat di Kongres AS mengkritik ancaman Donald Trump meliburkan sejumlah sektor pemerintah jika bujet yang ia ajukan untuk membangun tembok di perbatasan Mexico tidak disetujui.
Associated Press melaporkan, para pemimpin partai di Kongres AS termasuk Nancy Pelosi, ketua Demokrat di DPR AS dari Demokrat dan Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat setelah berunding dengan Trump menekankan, presiden AS tidak mendapat suara cukup untuk menerima dana miliaran dolar bagi pembangunan tembok pemisah di perbatasan selatan negara ini.
Petinggi Kongres Amerika ini mengatakan, langkah Trump meliburkan pemerintah menelan biaya sangat mahal dan tidak dapat ditanggung warga.
Presiden AS setelah bertemu dengan Chuck Schumer dan Nancy Pelosi mengatakan bangga meliburkan pemerintah dan jika kubu Demokrat tetap menolak pembangunan tembok di perbatasan Mexico, dirinya akan benar-benar melakukan ancaman tersebut dan menyerahkan proyek ini kepada militer.
Media menyebut konyol pertikaian Trump dengan Schumer dan Pelosi di depan pengeras suara dan menulis, di sandiwara pertikaian ini, Mike Pence, Wakil presiden hanya diam berdiri dan menggelengkan kepalanya.
CNN: Trump Khawatir Dimakzulkan
Dominasi partai Demokrat di Dewan Perwakilan Amerika Serikat dalam pemilu sela awal November lalu, menyebabkan Presiden AS, Donald Trump semakin khawatir akan dimakzulkan.
Pejabat di kantor Gedung Putih menyebut salah satu isu yang mungkin akan menggiring Trump dimakzulkan adalah kasus pelanggaran keuangan yang dilakukan mantan pengacaranya, Michael Cohen.
Cohen diduga telah memberikan uang kepada dua wanita yang diklaim pernah berhubungan gelap dengan Trump ketika ia belum menjabat sebagai presiden. Kedua wanita itu bernama Stormy Daniels dan Karen McDougal.
Selain itu, Trump juga dibayangi sejumlah isu penting dari masalah kinerjanya hingga kebijakan kontroversial yang memicu kecaman luas di tingkat dunia.
Sebelumnya, Presiden AS memprotes keras hasil polling September lalu yang dipublikasikan media massa negara ini mengenai kinerja pemerintahannya yang dinilai lebih buruk dari para pendahulunya.
Hampir seluruh jajak pendapat yang membandingkan kinerja Trump dengan pendahulunya menunjukkan popularitas Trump berada di bawah para presiden AS sebelumnya.
Mantan direktur badan intelijen pusat Amerika Serikat, CIA mengatakan, Presiden Donald Trump tidak akan pernah punya peluang lagi untuk menduduki jabatan di pemerintahan.
John O. Brennan Selasa (11/12) menyinggung peluang terpilihnya kembali Donald Trump dalam pemilu mendatang sangat kecil, dan mengatakan, kondisi Trump tidak terlalu bagus, ujung-ujungnya ia akan diadili.
Jaksa Agung federal Amerika baru-baru ini mengumumkan, Donald Trump secara langsung memerintahkan mantan pengacaranya, Michael Cohen untuk membayar uang tutup mulut kepada dua perempuan selama masa kampanye presiden tahun 2016 lalu.
Mantan direktur CIA juga memprotes upaya Trump membantah tuduhan terkait pelanggaran aturan dana kampanye pemilu.
Pompeo: Cina Ancaman Terbesar bagi AS
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut Cina sebagai ancaman terbesar bagi Amerika Serikat untuk jangka menengah atau panjang. Mike Pompeo Senin (10/12) mengatakan, Cina mengingat populasi, kekayaan dan kemampuan dalam negerinya merupakan salah satu kendala terbesar bagi Amerika untuk jangka waktu menengah atau panjang.
"Menurut Washington, Beijing lebih berbahaya dari Moskow dan mengancam kepentingan Amerika di berbagai sektor," paparnya.
Di lain pihak, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi memperingatkan Amerika terkait langkah Washington yang memperkeruh konflik dengan Beijing.
Wang Yi Rabu (12/12) menunjukkan protes Cina atas penangkapan Meng Wanzhou, CFO perusahaan Huawei di Kanada atas permintaan Washington.
Menlu Cina mengatakan, Amerika Serikat jangan sampai mencari musuh dan menciptakan kesulitan bagi dirinya sendiri.
Polisi Kanada menangkap Wanzhou dengan dalih melanggar sanksi Washington terhadap Cina. Penangkapan ini dilakukan atas permintaan Amerika Serikat.
Pengadilan Kanada Selasa malam (11/12) membebaskan putri pendiri perusahaan Huawei, Meng Wanzhou, dari tahanan dengan uang jaminan. Hakim di pengadilan Vancouver menetapkan Meng dapat keluar dari penjara dengan membayar 10 juta dolar Kanada atau setara dengan Rp109,4 miliar.