Iran Aktualita 16 Februari 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i67558-iran_aktualita_16_februari_2019
Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya: Pesan Strategis Rahbar di 40 Tahun Revolusi Islam Iran, Presiden Iran Hadiri KTT Sochi di Rusia, Konferensi Anti Iran Digelar di Warsawa, dan Iran akan Balas Serangan Bom di Sistan-Baluchistan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 16, 2019 13:26 Asia/Jakarta
  • Peta Jalan Fase Kedua Revolusi Islam.
    Peta Jalan Fase Kedua Revolusi Islam.

Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya: Pesan Strategis Rahbar di 40 Tahun Revolusi Islam Iran, Presiden Iran Hadiri KTT Sochi di Rusia, Konferensi Anti Iran Digelar di Warsawa, dan Iran akan Balas Serangan Bom di Sistan-Baluchistan.

Pesan Strategis Rahbar di 40 Tahun Revolusi Islam Iran

Rakyat Iran dalam acara pawai akbar HUT Revolusi Islam ke-40 pada 11 Februari lalu, menyebut Amerika Serikat sebagai jelmaan dari tirani dan perwujudan nyata dari kejahatan, kekerasan, keburukan, pembuat krisis, dan pengobar perang di dunia. Mereka juga menegaskan rakyat Iran tidak akan pernah mundur dalam menghadapi keserakahan AS.

Para peserta pawai 22 Bahman mengikrarkan kembali janjinya kepada cita-cita Revolusi Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra pada tahun 1979 dan membaiat kembali Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei sebagai penggantinya.

Mereka juga menuntut para pejabat pemerintah untuk mengambil kebijakan tegas terhadap keserakahan AS dan sejumlah negara Eropa. Peserta pawai 22 Bahman mengecam perang psikologis dan sanksi ekonomi yang dilancarkan musuh. Mereka mengajak seluruh rakyat Iran untuk terlibat secara sadar di arena-arena Revolusi Islam dan secara serius melawan isu serta membantu pemerintah untuk mencari solusi dalam memecahkan persoalan ekonomi.

Sementara itu, Ayatullah Khamenei pada 13 Februari lalu mengeluarkan peta jalan "Fase Kedua Revolusi" untuk bangsa Iran.

Dalam pesannya itu, Rahbar mengatakan, "Revolusi Islam – seperti fenomena yang hidup dan tak tergoyahkan – selalu fleksibel dan siap untuk memperbaiki kesalahannya, tetapi ia tidak pasif. Ia menunjukkan sensitivitas terhadap kritik dan menganggap itu sebagai karunia Tuhan serta memberi peringatan kepada mereka yang hanya berbicara tanpa bertindak. Namun, revolusi ini tetap tidak mengambil jarak dari nilai-nilainya, berkat iman masyarakat.

Sejak terbentuknya sistem, Revolusi Islam tidak pernah mengalami stagnasi dan kemunduran, serta tidak melihat adanya konflik dan kontradiksi antara dinamika revolusioner dan tatanan politik dan sosial; melainkan ia selalu membela teori sistem revolusioner untuk selamanya.

"Terlepas dari semua masalah berat, Republik Islam mengambil langkah yang lebih besar dan lebih kuat hari demi hari. 40 tahun terakhir menunjukkan jihad besar, prestasi cemerlang, dan kemajuan luar biasa untuk Iran Islam. Besarnya kemajuan yang dibuat oleh bangsa Iran dalam 40 tahun terakhir akan terlihat nyata bila dibandingkan dengan rentang waktu yang sama setelah revolusi besar lainnya seperti Revolusi Perancis, Revolusi Oktober Uni Soviet, dan Revolusi India," ujar Ayatullah Khamenei.

Menurutnya, strategi manajemen jihad yang diilhami dari ajaran Islam dan keyakinan pada prinsip "Kita Bisa" yang telah diajarkan oleh Imam Khomeini kepada kita semua, telah mengantarkan Iran kepada kemuliaan dan kemajuan di berbagai bidang.

KTT Sochi di Rusia.

Presiden Iran Hadiri KTT Sochi di Rusia

Presiden Iran Hassan Rouhani mengecam negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat karena mendukung kelompok-kelompok teroris. "Sayangnya, kelompok-kelompok teroris di kawasan telah didukung oleh kekuatan asing, terutama Amerika selama bertahun-tahun," kata Rouhani dalam pertemuan dengan mitranya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan di kota Sochi, Rusia pada hari Kamis (14/2/2019).

"Memerangi terorisme membutuhkan kerja sama kolektif," ujar Rouhani sembari menggambarkan momok terorisme sebagai salah satu tantangan terburuk yang dihadapi wilayah Asia Barat.

KTT Sochi yang diselenggarakan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, bertujuan untuk memperkuat kerja sama tiga negara guna mengembalikan perdamaian dan stabilitas di Suriah. "Misi bersama Iran, Rusia dan Turki adalah menumpas terorisme serta mengembalikan stabilitas dan keamanan Suriah," tegas Rouhani.

KTT Sochi berlangsung antara Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Kamis lalu di kota resor Sochi.

Pada kesempatan itu, Rouhani menegaskan bahwa kehadiran ilegal pasukan AS di Suriah harus diakhiri dan semua daerah harus berada di bawah kendali pemerintah Damaskus. Dia meminta komunitas internasional untuk membantu pemulangan pengungsi Suriah ke negara mereka.

KTT Sochi Februari 2019 adalah pertemuan trilateral keempat. Ketiga pemimpin membahas beragam isu penting terutama terorisme di kawasan, situasi Suriah, pemulangan pengungsi Suriah, perundingan damai Astana, situasi di Provinsi Idlib, penarikan pasukan AS dari Suriah, dan penyusunan konstitusi baru Suriah.

Konferensi Anti Iran di Warsawa, Polandia.

Konferensi Anti Iran Digelar di Warsawa

Pekan lalu, Amerika dan rezim Zionis Israel – sebagai dua aktor utama perusak stabilitas Timur Tengah – bersama sekutunya di Eropa dan beberapa negara Arab di kawasan, mengadakan konferensi yang diklaim untuk keamanan Timur Tengah di Warsawa, ibukota Polandia.

Pertemuan itu digelar atas usulan Presiden Donald Trump dengan fokus utama masalah Iran. Namun, banyak negara peserta pada akhirnya menurunkan level kehadiran mereka di Warsawa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Ghassemi mengatakan, meskipun Washington telah mengerahkan seluruh upayanya, tapi konferensi Warsawa tidak membuahkan hasil signifikan yang menunjukkan kegagalan AS. Menurutnya, deklarasi Warsawa tidak memiliki validitas dan kredibilitas apapun.

"Konferensi yang mengusung tema perdamaian dan keamanan di Timur Tengah tidak akan berhasil ketika para pemain utama di kawasan seperti Iran, Lebanon, Suriah, Irak dan Palestina serta negara penting lainnya seperti Cina dan Rusia maupun negara Eropa dan non-Eropa, tidak hadir dalam pertemuan tersebut sehingga kredibilitasnya sangat rendah," ujar jubir Kemenlu Iran, Kamis (14/2/2019).

"AS dengan kebijakan konfrontatifnya serta dukungan terhadap terorisme, telah menciptakan instabilitas, ketidakamanan, kemiskinan, perang dan ekstremisme. Pidato menlu dan deputi menlu AS pada konferensi Warsawa yang terus memaksa Eropa keluar dari JCPOA, tetapi diabaikan Uni Eropa, adalah bukti terbaik dari kegagalan AS," tegas Ghassemi.

Paul R. Pillar, mantan analis CIA untuk Asia Barat mengatakan, AS sekarang memiliki alat tekan yang lebih lemah jika dibandingkan dengan masa lalu dan dengan menarik diri dari kesepakatan nuklir, Amerika telah terkucil, bukan Iran.

Brigadir Jenderal Mohammad Pakpour.

Iran akan Balas Serangan Bom di Sistan-Baluchistan

Komandan Senior Angkatan Darat Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Pakpour mengatakan bahwa Republik Islam akan menindak tegas dan membalas kelompok teroris yang bertanggung jawab atas serangan bom di Sistan-Baluchistan pada hari Rabu, 13 Februari 2019.

"Balasan keras akan diberikan kepada para teroris, pendukung dan para pemimpinnya, di mana pun mereka berada. Selama ini kami selalu menepati janji kami," kata Pakpour pada hari Kamis (14/2/2019) ketika menyinggung serangan terbaru yang menarget bus pasukan AD IRGC di jalan Khash-Zahedan.

Dia menambahkan, serangan teror anti-Iran yang berasal dari wilayah Pakistan telah menjadi masalah selama 20 tahun terakhir dan jika ada keinginan nyata dan keinginan untuk menghadapi terorisme di antara para politisi dan pemimpin Pakistan, maka hari ini akar terorisme tentunya telah tercerabut.

Pejabat tinggi militer Iran ini memperingatkan para pemimpin Pakistan bahwa jika mereka gagal mengatasi para teroris, maka para teroris itu pasti akan menimbulkan masalah bagi Pakistan sendiri, di mana cepat atau lambat mendatangkan malapetaka di negara tersebut.

Serangan bom mobil bunuh diri menghantam bus yang mengangkut pasukan IRGC di jalan Zahedan-Khash, Iran tenggara pada Rabu petang. Menurut pernyataan Unit Angkatan Darat IRGC, 27 pasukan penjaga perbatasan gugur syahid dan 12 lainnya terluka dalam serangan keji tersebut. Kelompok teroris Jaish al-Zulm mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. (RM)