Transformasi Timur Tengah, 23 Februari 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i67791-transformasi_timur_tengah_23_februari_2019
Transformasi di Timur Tengah pekan lalu diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya: Kelompok Perlawanan Palestina Peringatkan Israel Soal Masjid al-Aqsa, AS Ingin Hidupkan kembali Daesh di Irak, AS Ingin Memperpanjang Krisis di Suriah, dan Haaretz: Israel Anggota tak Resmi Koalisi Arab Saudi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 23, 2019 21:53 Asia/Jakarta
  • Warga Palestina melakukan shalat di Masjid al-Aqsa di al-Quds. (dok)
    Warga Palestina melakukan shalat di Masjid al-Aqsa di al-Quds. (dok)

Transformasi di Timur Tengah pekan lalu diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya: Kelompok Perlawanan Palestina Peringatkan Israel Soal Masjid al-Aqsa, AS Ingin Hidupkan kembali Daesh di Irak, AS Ingin Memperpanjang Krisis di Suriah, dan Haaretz: Israel Anggota tak Resmi Koalisi Arab Saudi.

Perlawanan Palestina Peringatkan Israel Soal Masjid al-Aqsa

Kelompok-kelompok perlawanan Palestina memperingatkan rezim Zionis Israel terkait serangan berkelanjutan ke Masjid al-Aqsa. "Masjid al-Aqsa adalah garis merah kelompok pejuang Palestina. Kami tidak akan membiarkan serangan rutin tentara Zionis terhadap Masjid al-Aqsa, dan rezim penjajah harus bertanggung jawab atas kejahatan brutalnya," kata mereka dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Pusat Informasi Palestina, Kamis (21/2/2019).

Mereka menyeru warga Palestina untuk meramaikan Masjid al-Aqsa dan melakukan protes di depan Bab al-Rahmah demi melindungi situs-situs suci umat Islam, terutama masjid tersebut. Kelompok-kelompok perlawanan Palestina menegaskan bahwa serangan itu terjadi di tengah kebisuan dunia Arab dan Muslim serta kompetisi di antara sebagian pemimpin Arab untuk memulihkan hubungan mereka dengan Israel.

Pada hari Selasa, pasukan rezim Zionis menyerang jemaah Muslim Palestina di Masjid al-Aqsa sehingga banyak orang terluka dan sejumlah lainnya juga ditangkap. Serangan itu terjadi dua hari setelah aparat rezim Zionis menutup paksa Bab al-Rahmah di Komplek Masjid al-Aqsa sehingga memicu protes dari warga Palestina.

Sementara itu, puluhan warga Palestina berkumpul di area Bab al-Rahmah di Komplek Masjid al-Aqsa pada hari Kamis (21/2/2019). Mereka memprotes rencana rezim Zionis Israel untuk menutup aula shalat di Bab al-Rahmah. Warga Palestina juga bersumpah akan melindungi tempat suci tersebut.

Pada hari Jumat, puluhan ribu warga Palestina melakukan shalat Jumat di Masjid al-Aqsa. Warga Palestina di Baitul Maqdis berhasil membuka gerbang-gerbang dan bangunan Bab al-Rahmah. Rezim Zionis telah menutup bangunan tersebut sejak 2003 dengan tujuan membagi Masjid al-Aqsa dari segi waktu dan tempat.

Sebelumnya, kelompok-kelompok pejuang Palestina menyeru warga untuk bergerak ke Masjid al-Aqsa sebagai reaksi atas serangan tentara Israel terhadap Bab al-Rahmah dan konspirasi jahat Zionis terhadap tempat suci umat Islam itu.

Pasukan Amerika di perbatasan Irak-Suriah.

AS Ingin Hidupkan kembali Daesh di Irak

Anggota Parlemen Irak dari Partai al-Bina, Mohammad al-Baldawi mengatakan, Amerika Serikat ingin membebaskan para teroris dari penjara dan kemudian menghidupkan kembali Daesh di Irak.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan membebaskan teroris Daesh dari penjara jika negara-negara Eropa tidak mengizinkan mereka kembali ke negara asalnya.

Al-Baldawi dalam wawancara dengan media al-Maalomah, Irak, Rabu (20/2/2019) menyampaikan kekhawatiran terkait aksi mencurigakan AS yang ingin mengulang skenario penjara Tasfirat di Tikrit dan Abu Ghraib di Baghdad. Menurutnya, AS marah karena gagal memaksakan kehadiran pasukannya di Irak.

"Di masa lalu, para teroris (al-Qaeda dan Daesh) di kedua penjara tersebut sengaja dilepas untuk merusak keamanan Irak dan sekarang Daesh ingin dihidupkan kembali," ungkapnya.

Salah satu komandan tentara rakyat Irak (al-Hashd al-Shaabi), Qassim Muslih juga berbicara tentang upaya AS untuk mempersenjatai kelompok-kelompok teroris. "Washington telah memberikan lampu hijau kepada mereka untuk diorganisir kembali," ujarnya. Muslih menegaskan pasukan keamanan dan tentara rakyat Irak memiliki kesiapan penuh untuk menumpas teroris.

Trump sebelum ini mengatakan AS meminta Inggris, Perancis, Jerman dan sekutu Eropa lainnya untuk menerima kembali lebih dari 800 teroris Daesh yang ditangkap di Suriah dan mengadili mereka.

AS dan Eropa secara praktis telah membantu penyebaran terorisme di kawasan dalam beberapa tahun terakhir, dan mereka mengadopsi standar ganda dalam menyikapi momok terorisme. Pada dasarnya, standar ganda Barat telah menjadi salah satu faktor utama dalam penyebaran teroris takfiri, terutama Daesh.

Pakar dari Institut untuk Studi Strategis Rusia, Ivan Ippolitov mengatakan, "AS selalu memanfaatkan terorisme dan ekstremisme sebagai alat untuk memajukan kepentingan luar negerinya dan dampaknya adalah melemahnya negara-negara Timur Tengah dan menciptakan ruang untuk pertumbuhan terorisme dan ekstremisme."

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton dalam bukunya "Hard Choices" mengatakan, Daesh dibentuk oleh AS dan sekutunya dengan memanfaatkan kevakuman yang ada di Timur Tengah.

AS Ingin Memperpanjang Krisis di Suriah

Penasihat politik dan media untuk Presiden Suriah, Bouthaina Shaaban mengatakan, AS dan sekutunya dengan mendukung teroris dan menghalangi penyelesaian krisis secara politik, sedang berupaya memperpanjang perang di Suriah.

"Keberadaan rezim Zionis dan dukungan AS kepadanya, terorisme, dan kekayaan minyak beberapa negara telah menjadi pemicu berlanjutnya krisis di Timur Tengah," tambahnya.

Krisis Suriah meletus sejak 2011 menyusul serangan luas berbagai kelompok teroris yang didukung oleh AS dan sekutunya di kawasan terutama Arab Saudi untuk mengubah perimbangan kekuatan, yang menguntungkan rezim Zionis Israel.

Gedung Putih mengumumkan hanya akan menyisakan 200 personil sebagai pasukan penjaga perdamaian di Suriah setelah AS meninggalkan negara itu. Namun, seorang pejabat senior pemerintah mengatakan pada hari Jumat (22/2/2019) bahwa Amerika akan mempertahankan sekitar 400 tentara AS di dua wilayah Suriah.

Jumlah tersebut adalah bagian dari total pasukan antara 800 hingga 1.500 tentara dari beberapa sekutu Amerika di Eropa untuk mengawasi zona aman di timur laut Suriah.

Tentara bayaran Amerika yang disewa oleh UEA untuk perang di Yaman.

Haaretz: Israel Anggota tak Resmi Koalisi Saudi

Surat kabar rezim Zionis menulis, Israel adalah anggota tidak resmi koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang Yaman.

Surat kabar Haaretz pada Jumat (15/2/2019) melaporkan, perusahaan-perusahaan layanan internet Israel, perusahaan dan distributor senjata, orang-orang yang memberikan pelatihan militer untuk melawan terorisme, orang-orang dari negara lain yang disewa untuk berperang di Yaman dan dikelola oleh korporasi Israel, semuanya terlibat dalam agresi militer ke Yaman.

Ini adalah pertama kalinya sebuah media Israel mengungkap hubungan antara rezim Zionis dan Saudi dalam menyerang Gerakan Ansarullah di Yaman. Pembantaian rakyat Yaman masih berlanjut oleh Arab Saudi dengan dukungan Barat dan Israel.

Situs berita al-Khaleej al-Jadeed pada September 2018 dalam salah satu laporannya mengungkap keterlibatan Israel dalam pelatihan pasukan Colombia dan Nepal yang disewa oleh Uni Emirat Arab untuk berperang di Yaman.

Menurut media Inggris, Liberty Fighter, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengakui bahwa skuadron pertama F-16 milik Israel ikut terlibat dalam perang Yaman dengan menyerang markas pelatihan para pejuang Ansarullah di Provinsi Taiz, utara Yaman. Arab Saudi berharap campur tangan rezim Zionis ini akan menandai babak baru dalam kemitraan Arab-Israel.

Keterlibatan langsung rezim Zionis dalam menyerang Yaman adalah sebuah kejahatan luar biasa Arab Saudi terhadap umat Islam. (RM)