AS Tinjauan dari Dalam, 6 Agustus 2020
-
Universitas Quinnipiac mencatat bahwa jika pilpres 2020 diadakan hari ini, lebih banyak pemilih akan memilih Biden daripada Trump.
Dinamika Amerika Serikat pekan ini diwarnai dengan sejumlah isu penting seperti kritik Joe Biden terhadap kinerja Presiden Donald Trump, dan babak baru perlombaan senjata nuklir AS dan Rusia.
Selain itu, AS merasa terusik dengan kerja sama ekonomi antara Cina dan Iran, dan terakhir Trump memberikan ultimatum 45 hari kepada Cina untuk menjual Tik Tok.
Biden: Trump Hancurkan Pertumbuhan Ekonomi AS!
Kandidat utama Partai Demokrat dalam pemilu presiden AS tahun 2020 mengkritik keras kinerja Donald Trump di bidang ekonomi. "Kenyataannya, Donald Trump telah menghancurkan pertumbuhan ekonomi Amerika," tulis Biden di akun Twitternya, Rabu (5/8/2020).
Menurut Biden, Trump telah menghancurkan pertumbuhan ekonomi yang diwarisi dari pendahulunya.
Hasil jajak pendapat terbaru di Amerika Serikat menunjukkan keunggulan relatif Joe Biden dari Donald Trump. Namun, Trump meragukan validitasnya dengan mengatakan jajak pendapat tersebut palsu, tapi lembaga yang melakukan polling tidak satu dan kebanyakan mengungkapkan data yang hampir sama.
Ekonomi AS mengalami resesi paling besar akibat terdampak pandemi Corona. Riset lembaga ISM menunjukkan ekonomi Amerika selama triwulan kedua tahun 2020 mengalami resesi paling dalam sejak resesi besat tahun 2007-2009. Ekonomi terbesar dunia antara bulan April hingga Juni mengalami penyusutan 9,5 persen. Indeks ini artinya jika perekonomian Amerika di tiga fase berikutnya berjalan seperti saat ini, maka sepertiga ekonomi negara ini akan meleleh akibat krisis Corona dan dampak pandemi ini.
Sebelum pandemi COVID-19, penurunan produksi bruto Amerika berkaitan dengan triwulan pertama tahun 1958. Produk Domesitk Bruto (PDB) AS sejak saat ini turun setiap tahun sebesar 10 persen. Syok ekonomi yang muncul di triwulan kedua tahun ini empat kali lipat lebih besar dan lebih buruk dari resesi musiman selama resesi besar tahun 2007-2009.
Pada April lalu, sekitar 20 juta orang kehilangan pekerjaan akibat penutupan perusahaan dan tempat kerja. Bernie Sanders, senator kubu Demokrat dari negara bagian Vermont di akun Twitternya menyatakan bahwa rakyat Amerika semakin miskin, virus Corona membuat separuh keluarga Amerika kehilangan pendapatan mereka.
Babak Baru Perlombaan Senjata Nuklir AS dan Rusia
Amerika Serikat selama pemerintahan Presiden Donald Trump, mulai memperluas dan meningkatkan kemampuan rudal dan nuklirnya dengan meninggalkan perjanjian pengendalian senjata. Langkah ini menimbulkan keprihatinan serius Rusia sebagai rival utama AS.
Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada 3 Agustus lalu, memperingatkan ancaman misil AS dan menyatakan bahwa Moskow tidak dapat mentolerir ancaman rudal Washington terhadapnya. "Penyebaran rudal darat-ke-udara jarak pendek dan menengah oleh AS mengancam keamanan global dan mendorong babak baru dari perlombaan senjata. Kami tidak bisa mengabaikan keberadaan ancaman rudal terhadap wilayah kami," tegasnya.
Statemen itu menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar yang logis dari situasi saat ini adalah berusaha mencapai sebuah perjanjian yang dapat diterima melalui jalur politik dan diplomatik. "Moskow siap untuk memulihkan keamanan internasional dan stabilitas strategis bagi dunia," tambahnya.
Dengan tujuan memperkuat kemampuan nuklir AS dan melemahkan Rusia, pemerintahan Trump – sama seperti pemerintahan Obama – menuduh Moskow melanggar Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF). AS menyatakan Rusia melanggar ketentuan INF dengan mengoperasikan rudal jelajah baru 9M729.
Pada saat yang sama, Washington berpendapat bahwa kepatuhan terhadap traktat tersebut akan menghalangi AS untuk mengembangkan rudal jarak menengah baru untuk melawan kemampuan misil Cina di Asia Timur.
Pada 4 Desember 2018, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Washington akan menangguhkan komitmennya pada Traktat INF selama 60 hari sehingga Moskow bisa menunjukkan kepatuhan penuhnya selama masa itu dan jika ini tidak terjadi, AS akan keluar dari kesepakatan tersebut.
Gedung Putih kemudian memutuskan keluar dari Traktat INF dan keputusan ini mendapat respons keras dari Kremlin. Pemerintah Rusia mengecam keputusan AS meninggalkan perjanjian rudal nuklir era Perang Dingin, dengan mengatakan bahwa itu adalah bagian dari rencana Washington untuk lari dari kewajiban hukum internasional.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah keputusan yang mengejutkan, juga mengeluarkan perintah penangguhan pelaksanaan Traktat INF pada 2 Februari 2019, dan memberi otorisasi kepada militer Rusia untuk mengembangkan rudal-rudal baru.
Pompeo: Kerja Sama Iran-Cina Membahayakan Kawasan
Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat kembali mereaksi kerja sama Iran dan Cina. Menurut laporan IRIB, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam menanggapi kerja sama Iran-Cina di laman Twitter-nya mengklaim, masuknya Cina ke Iran akan membuat Asia Barat tidak stabil.
"Akses Tehran ke sistem senjata, perdagangan, dan uang yang mengalir dari pemerintah Cina hanya memperburuk ancaman terhadap kawasan," ungkap Pompeo, menambahkan pernyataan tidak berdasarnya itu.
Menlu AS pada hari Selasa (04/08/2020) dalam wawancara dengan Fox News juga mengecam upaya Cina dan Iran untuk mencapai kesepakatan 400 miliar dolar dan kerja sama keamanan dan menyatakan bahwa sanksi Amerika Serikat mencakup setiap perusahaan Cina yang melakukan kerja sama dengan Iran.
Ini merupakan keberapa kalinya dalam beberapa hari terakhir bahwa Pompeo telah menyatakan keprihatinan tentang kerja sama ekonomi jangka panjang antara Iran dan Cina.

Trump Beri Waktu Cina 45 Hari untuk Jual Tik Tok
Presiden Amerika Serikat memberi waktu kepada Cina untuk mencapai kesepakatan final dengan Microsoft terkait penjualan aplikasi Tik Tok.
Stasiun televisi Al Jazeera (3/8/2020) melaporkan, Donald Trump memberi waktu 45 hari kepada Cina untuk merampungkan negosiasi penjualan aplikasi Tik Tok dengan Microsoft.
Pejabat Amerika mengklaim jika Tik Tok masih dikuasai oleh pengusaha Cina, maka ia akan tetap menjadi ancaman keamanan bagi Amerika, maka dari itu Trump hari Jumat (31/7) mengumumkan melarang Tik Tok di negaranya. Presiden Amerika bahkan mengaku sudah berbicara dengan direksi Microsoft agar perusahaan besar Amerika itu mau membeli Tik Tok dari pengusaha Cina.
Sejumlah besar pemuda Amerika menggunakan aplikasi Tik Tok, dan Trump khawatir Cina akan menggunakan aplikasi media sosial ini untuk mencampuri pemilu presiden Amerika mendatang, dan mengurangi peluang kemenangannya pada pemilu ini.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat menyatakan, berlanjutnya aktivitas jejaring sosial Cina, TikTok di Amerika Serikat dalam bentuknya yang sekarang tidak dapat ditolerir.
Menurut laporan YJC, Steven Mnuchin, Menteri Keuangan AS mengatakan, "Komite yang mengkaji investasi asing sepakat bahwa aplikasi TikTok Cina, dengan kondisi saat ini tidak dapat melanjutkan aktivitasnya di Amerika. Karena ada risiko bocornya informasi data 100 juta orang Amerika." (RM)