Benarkah Misi Pasukan AS di Irak sudah Selesai ?
-
pasukan AS di Irak
Perdana Menteri Irak Mustafa Al Kadhimi pada 29 Desember 2021 di akun Twitternya menulis, "Misi pasukan koalisi internasional Amerika Serikat di Irak sudah berakhir, dan seluruh tentara serta peralatan perang mereka sudah ditarik dari Irak."
PM Irak menambahkan, "Berdasarkan hasil negosiasi-negosisasi strategis yang sudah dilakukan, peran pasukan koalisi internasional di Irak, terbatas pada konsultasi dan logistik."
Pasukan AS sejak tahun 2003 ditempatkan di Irak. Perang melawan rezim Baath, dan penggulingan rezim itu telah berubah menjadi faktor kehadiran pasukan AS di Irak.
Sekitar 19 tahun lalu, pemerintah, parlemen, rakyat dan kelompok politik Irak beberapa kali menuntut penarikan pasukan AS dari negara mereka, salah satunya pada tahun 2011, saat itu sejumlah banyak tentara AS ditarik dari Irak.
Namun demikian, serangan ISIS ke Irak pada tahun 2014 kembali menjadi dalih kehadiran pasukan AS di Irak, dan kali ini kehadiran mereka dalam kerangka pasukan koalisi anti-ISIS.
Seiring dengan kekalahan kelompok teroris ISIS di Irak pada tahun 2017, tuntutan penarikan pasukan AS dari Irak kembali menyeruak, namun tuntutan-tuntutan ini tidak terlalu serius.
Kejahatan pemerintah AS meneror Letjen Syahid Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds, IRGC, dan Syahid Abu Mahdi Al Muhandis, Wakil Ketua Hashd Al Shaabi, Irak pada 3 Januari 2019 dinihari, menyebabkan isu penarikan pasukan AS dari Irak, semakin kencang disuarakan.
Parlemen Irak pada 5 Januari 2020, dua hari setelah teror terhadap Syahid Qassem Soleimani, mengesahkan draf penarikan pasukan AS dari Irak. Namun penolakan AS atas keputusan Parlemen Irak menyebabkan pertempuran kelompok-kelompok perlawanan Irak dan pasukan AS semakin sengit, sehingga perundingan kembali dilakukan pada Juni 2020.
Akhirnya Irak dan AS pada 26 Juli 2021 mencapai kesepakatan bahwa seluruh pasukan tempur AS harus ditarik dari Irak sampai akhir tahun 2021. Sekalipun sekarang berita penarikan total pasukan Amerika Serikat sudah diumumkan, akan tetapi dalam masalah ini ada beberapa poin penting.
Pertama, penarikan pasukan AS dari Irak tidak sama dengan penarikan pasukan AS dari Afghanistan, karena di Afghanistan, pasukan AS secara nyata keluar dari negara itu, dan tidak menyisakan pasukan di Afghanistan atas dalih apa pun, tapi di Irak kondisinya tidak demikian. Sebagian pasukan AS yang jumlahnya lebih dari 2.000 orang dalam format penasihat militer, dan pelatih pasukan Irak, tetap bertahan di negara itu. Oleh karena itu sebenarnya tidak terjadi penarikan total pasukan AS dari Irak.
Kedua, bertahannya pasukan AS sebagai penasihat militer di Irak menyebabkan pertempuran kelompok perlawanan Irak dengan pasukan AS akan terus berlanjut, meski mungkin saja intensitasnya menurun. Sehubungan dengan ini, Ketua Aliansi Fatah Irak, Hadi Al Ameri menekankan penarikan total pasukan tempur asing dari semua jenis dan tipenya dari Irak, hingga akhir tahun 2021.
Hadi Al Ameri mengumumkan, "Kami tidak akan menerima kehadiran pasukan tempur asing atas nama dan dalih apa pun setelah batas waktu ini."
Ia juga menegaskan bahwa seluruh pangkalan dan pusat militer Irak terutama pangkalan militer Harir, dan Ain Al Assad yang dikuasai pasukan asing, setelah 31 Desember 2021 diserahkan kepada pasukan Irak, dan aparat keamanan negara ini, serta kedaulatan penuh Irak atas zona udaranya harus terjamin. Masalah ini menunjukkan bahwa pasukan AS akan melanjutkan kehadirannya di Irak.
Ketiga, bahkan jika semua tentara AS tidak keluar dari Irak, dan sebagian bertugas sebagai penasihat militer di negara ini, penarikan sebagian pasukan AS dari Irak, tetap merupakan bagian kemenangan bagi pemerintah dan rakyat negara ini. Pesan kemenangan ini adalah bahwa rakyat Irak menuntut kebebasan dan penghormatan atas kedaulatan negaranya oleh negara-negara Barat terutama AS.
Kemenangan penting yang dicapai menjelang peringatan tahun kedua gugurnya para komandan poros perlawanan yaitu Syahid Qassem Soleimani dan Syahid Abu Mahdi Al Muhandis bersama rekan-rekannya, sekarang memiliki urgensitas yang lebih besar. (HS)