Operasi El'ad dan Ketidakberdayaan Rezim Zionis Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i120458-operasi_el'ad_dan_ketidakberdayaan_rezim_zionis_israel
Operasi muqawama di El'ad, di dekat Tel Aviv selain mengubah peringatan hari kemerdekaan rezim Zionis menjadi acara duka, juga menunjukkan ketidakberdayaan keamanan rezim ilegal ini.
(last modified 2026-04-05T11:58:22+00:00 )
May 07, 2022 06:14 Asia/Jakarta

Operasi muqawama di El'ad, di dekat Tel Aviv selain mengubah peringatan hari kemerdekaan rezim Zionis menjadi acara duka, juga menunjukkan ketidakberdayaan keamanan rezim ilegal ini.

Operasi mati syahid kelima warga Palestina selama 45 hari terakhir dilancarkan di wilayah El'ad Kamis (5/5/2022) sore di dekat Tel Aviv. Di operasi ini sedikitnya tiga Zionis tewas dan enam orang lainnya terluka. Operasi ini menggunakan senjata tajam. Sejumlah sumber menyebut senjata yang digunakan di operasi ini adalah pisau dan sebagian lainnya menyebutkan parang dan kapak. Pelaku atau kedua pelaku operasi ini melarikan diri dan aparat keamanan Israel sampai saat ini belum berhasil menangkap mereka.

Aksi ini adalah respon cepat rakyat Palestina atas kejahatan Kamis pagi pemukim Zionis terhadap Masjid al-Aqsa. Kamis pagi, pemukim Zionis dengan dalih merayakan peringatan ke-74 Hari Nakba dan pendudukan Palestina menyerbu Masjid al-Aqsa dengan dukungan militer rezim ini serta melukai sejumlah warga Palestina. Militer Isreal menyerang warga Palestina dengan pentungan dan gas air mata, serta menembaki warga tertindas ini dengan peluru karet.

Polisi Israel

Polisi Israel secara resmi menyetujui aksi pelecehan dan penyerbuan pemukim Zionis ke Masjid al-Aqsa pada hari Kamis. Setelah kejahatan ini, berbagai faksi Palestina termasuk Hamas dan Jihad Islam Palestina memperingatkan rezim Zionis akan dampak aksi penyerbuan pemukim Zionis ke Masjid al-Aqsa.

Sebelumnya, berbagai faksi Palestina juga memperingatkan bahwa Masjid al-Aqsa adalah garis merah bangsa Palestina. Oleh karena itu, operasi El'ad sebuah respon atas kejahatan Zionis terhadap warga Palestina di Masjid al-Aqsa. Sekaitan dengan ini, Gerakan Hamas menyatakan bahwa operasi El'ad bagian dari kemarahan bangsa Palestina atas pelanggaran penjajah terhadap kesucian Islam dan juga realisasi peringatan terbaru muqawama kepada Israel yang menyatakan Masjid al-Aqsa sebagai garis merah.

Isu lain adalah operasi El'ad kembali menunjukkan ketidakberdayaan sistem keamanan rezim Zionis dalam menghadapi aksi-aksi individu. Kurang dari dua bulan, 18 orang di bumi Palestina pendudukan tewas karena operasi mati syahid. Sekjen Gerakan Islam Lebanon (Hizbullah), Sayid Hasan Nasrullah di pidatonya di Hari Quds menilai operasi individu sebagai transformasi khusus dan baru di muqawama bangsa Palestina.

Sayid Hasan Nasrullah mengatakan, "Operasi ini menguak kerapuhan sendi-sendi keamanan dan lemahnya rezim Zionis Israel. Dan operasi seperti ini sebuah transformasi berbahaya bagi rezim Tel Aviv, karena tidak membutuhkan kamar operasi dan komando, dan juga tidak membutuhkan fasilitas khusus."

Operasi El'ad semakin menguak kerapuhan ini, karena aksi ini menimbulkan korban tewas dan terluka Zionis dan juga aparat keamanan rezim ilegal ini sampai kini belum juga berhasil menangkap pelaku operasi, bahkan juga tidak mengetahui jumlah pelaku.

Mengingat masalah ini, pemukim Zionis seraya mengkritik keras Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Omer Bar Lev, juga menuntut pengunduran dirinya. Omer Bar Lev mengakui bahwa aparat keamanan Israel sampai saat ini belum berhasil menangkap pelaku operasi di Distrik El'ad tersebut. Perdana Menteri Israel Naftali Bennett Jumat (6/5/2022) dini hari di akhir lobi keamanan terkait operasi di Distrik El'ad menyebut pelaku operasi mati syahid perusak dan mengklaim mereka akan membayar harga yang sangat mahal.

Sepertinya rezim Zionis Israel memilih menerapkan terorisme negara dan teror para pejabat Palestina khususnya Yahya al-Sinwar. Al-Sinwar, ketua Hamas di Jalur Gaza baru-baru ini meminta seluruh faksi muqawama di Gaza untuk siaga, karena perang dengan rezim Zionis tidak akan berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan, tapi justru menjadi awal.

Aksi gugur syahid warga Palestina di distrik El'ad Israel

Tak diragukan lagi teror pejabat Palestina akan membuat kondisi keamanan Israel semakin rapuh, karena Palestina telah membuktikan memiliki tekad baja dan lebih solid dalam melawan eskalasi kejahatan rezim ilegal ini. Bangsa Palestina juga akan melawan agresi dan kejahatan Israel dan bahkan teror tidak mampu mengakhiri operasi individu di bumi Palestina pendudukan. (MF)