Masih Adakah Harapan Stabilitasasi Harga Minyak OPEC?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i13837-masih_adakah_harapan_stabilitasasi_harga_minyak_opec
Data-data yang terpublikasikan di pasar minyak mentah dunia dalam triwulan kedua tahun 2016, mencatat kenaikan harga minyak hingga 25 persen.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 04, 2016 14:21 Asia/Jakarta
  • OPEC
    OPEC

Data-data yang terpublikasikan di pasar minyak mentah dunia dalam triwulan kedua tahun 2016, mencatat kenaikan harga minyak hingga 25 persen.

Laporan dalam hal ini menunjukkan bahwa OPEC telah memulai harga jual minyaknya pada 2016 pada 31.79 dolar. OPEC hingga kini mampu meraih harga di atas 48 dolar pada sejumlah kondisi. Meski demikian angka tersebut masih terpaut sangat jauh dibandingkan dengan harga dua tahun lalu. Harga minyak mentah di pasar dunia sejak Juni 2014, yakni ketika harga per barel minyak mencapai 100 dolar, telah anjlok hingga lebih dari separuhnya. Hal itu disebabkan surplus produksi minyak khususnya ddari Arab Saudi.

Negara-negara produsen minyak umumnya berbicara tentang distribusi, permintaan dan penyeimbangan, namun jarang membicarakan masalah termasuk bagaimana keputusan Arab Saudi telah merusak posisi negara produsen OPEC. Arab Saudi hingga kini tidak mengambil langkah efektif apapun untuk menghadang jatuhnya harga minyak. Meski demikian Khaled Al-Falih, Menteri Perminyakan Arab Saudi mengatakan, "Shock baru akan dapat dicegah dengan distribusi minyak lebih banyak ke pasar."

Menteri Perminyakan Arab Saudi dan Sekjen OPEC, kemarin setelah bertemu dan berunding menyatakan bahwa pasar minyak sedang menuju keseimbangan dan stabilisasi harga. Mohammed Barkindo, Sekjen baru OPEC dan Al-Falih, bertemu di kota Zahran, Arab Saudi membahas peran OPEC dalam menjaga stabilitas pasar minyak. Al-Falih mengatakan, pihaknya akan berusaha melalui OPEC untuk melanjutkan peran Arab Saudi dalam menjawab permintaan minyak global yang semakin meningkat serta menjamin distribusi minyak.

Sebenarnya Riyadh tidak ingin harga minyak jatuh lebih dalam dari harga saat ini karena tekanan finansial dalam negerinya. Berlanjutnya proses ini akan menimbulkan penurunan investasi dalam produksi minyak di tingkat global.

Namun Arab Saudi bersikeras mengesankan Iran sebagai halangan utama dalam stabilitasasi harga minyak. Padahal politik Iran dalam produksi minyak sangat transparan dan rasional. Menteri Perminyakan Iran, Bijan Zanggeneh menekankan, Tehran akan bergabung dalam langkah kolektif, setelah Tehran memulihkan tingkat produksinya hingga ke level sebelum sanksi.

Diperkirakan hingga bulan September, Iran akan meningkatkan produksinya hingga 3,8 atau 4 juta barel minyak mentah per hari.

Jatuhnya harga minyak selama dua tahun terakhir telah merugikan perekonmian negara-negara produsen minyak termasuk Venezuela, Kuwait dan bahkan Arab Saudi yang merupakan penyebab utama penurunan harga minyak. Arab Saudi tahun lalu mengalami defisit bujet hingga 80 miliar dolar dan tahun ini diperkirakan total defisit bujetnya akan melampaui angka tersebut.

Berlanjutnya penurunan harga minyak dunia bahkan membuat Kuwait untuk pertama kalinya mengalami defisit bujet. Kuwait pada Ahad 3 Juli 2016, menyatakan berencana menjual surat obligasi dan saham pemerintah senilai 10 milyar dolar.

Sebagian besar pengamat berpendapat OPEC harus mengambil keputusan baru untuk mereduksi tingkat produksi dan menyetabilkan harga minyak. (MZ)