Statemen Terbaru Netanyahu Picu Kecaman Keras di Negara-Negara Barat
Pernyataan terbaru Perdana Menteri Rezim Zionis, Benjamin Netanyahu yang menentang pengakuan negara merdeka Palestina merdeka memicu reaksi keras di negara-negara Barat
Perdana Menteri Rezim Zionis secara resmi mengumumkan penentangan terhadap pembentukan negara merdeka Palestina setelah berakhirnya perang Gaza.
"Semua tanah di sebelah barat Sungai Yordan harus berada di bawah kendali keamanan Israel," kata Netanyahu hari Kamis.
Alicia Kearns, Ketua Komisi hubungan Luar Negeri Inggris kepada media London, Standard hari Jumat (19/1/2024) mengatakan, "Retorika Netanyahu memecah belah dan berbahaya,".
"Penolakan jelas Netanyahu untuk mengakui hak-hak rakyat Palestina melemahkan dukungan sekutu, dan memprovokasi negara-negara tetangga, serta menjauhkan kita dari perdamaian," ujar Kearns.
Sementara itu, Brendan O'Hara, Juru Bicara Hubungan Luar Negeri Partai Nasional Skotlandia, meminta para pemimpin dua partai utama Inggris untuk mengakui negara merdeka Palestina sesegera mungkin.
Sekelompok legislator Yahudi di DPR AS pun bereaksi dan menentang pernyataan Perdana Menteri Rezim Zionis, Benjamin Netanyahu yang menolak pembentukan negara Palestina di masa depan.
Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, juga menuduh perdana menteri Israel menggagalkan upaya penyelesaian konflik dengan Palestina.
Pada pertemuan di Universitas Valladolid di Spanyol, Borrell mengungkapkan, "Berita buruknya adalah Israel, khususnya pemerintah saat ini sepenuhnya menolak menerima solusi (dua negara),".
Di sisi lain, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Rezim Zionis Benjamin Netanyahu menuntut pengurangan kekerasan Israel terhadap Gaza dan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan memasuki wilayah tersebut.
Sebelumnya, Rutte juga meminta Israel menahan diri dan segera mengizinkan lebih banyak bantuan dikirim ke Gaza.
Pada saat yang sama, Stephen Dujarric, Juru Bicara PBB hari Jumat mengatakan bahwa tentara rezim Zionis menjegal peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza utara.
Juru bicara PBB juga mengungkapkan situasi air minum di Gaza: dengan mengatakan, "Menurut data kami, hanya satu pipa air minum yang aktif di Gaza dan pipa air lainnya berada di luar jangkauan,".
Mengenai kejahatan perang Israel di Gaza, Dujarric juga mengungkapkan bahwa Sekretaris Jenderal PBB selalu mengutuk keras serangan terhadap warga dan infrastruktur sipil.
Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan jumlah korban syahid di Jalur Gaza telah meningkat melebihi 24.700 orang dan jumlah korban luka juga mencapai 62.108 orang.(PH)