Menteri Perang Rezim Zionis Akui Perang di Gaza Sulit
Yoav Gallant, Menteri Perang Rezim Zionis mengakui kondisi sulit di Gaza dan kerugian besar yang dialami tentara rezim ini dalam perang menghadapi pasukan perlawanan Palestina di wilayah itu.
Pada hari Rabu, Menteri Perang Rezim Zionis mengakui kerugian besar yang dialami tentara Israel dalam perang Gaza dan mengatakan bahwa kerugian yang telah kita keluarkan dalam hal jumlah korban tewas dan luka-luka serta kerugian finansial dalam perang ini belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal berdirinya Israel.
Menurut laporan media Israel, sejak awal perang Gaza, sekitar 560 tentara Israel tewas dalam pertempuran lapangan dan sekitar 3.000 lainnya terluka.
Jumlah tentara Zionis yang terbunuh dan terluka dalam pertempuran dengan pejuang perlawanan Palestina di Gaza lebih banyak dari total korban tentara Israel dalam dua perang sebelumnya dengan negara-negara Arab pada tahun 1967 dan 1973, yang masing-masing berjumlah sekitar 700 dan 2500 orang.

Selain kerugian besar tentara Zionis dalam perang Gaza, sumber-sumber Zionis mengakui bahwa kerusakan struktur ekonomi dalam perang 5 bulan ini melampaui 50 miliar dolar.
Yoav Gallant, Menteri Perang rezim Zionis mengakui rumitnya situasi Israel dalam menghadapi perlawanan kelompok Palestina di Gaza.
"Tel Aviv terpaksa melakukan reformasi hukum dinas militer guna melanjutkan perang dan memberi kompensasi kepada tentara yang terbunuh dan terluka." kata Gallant.
Sementara itu, Media rezim Zionis melaporkan bahwa ketegangan dalam Kabinet Perang, terutama antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz.
Media Zionis melaporkan dalam beberapa hari terakhir bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menolak usulan Mossad dan Shabak (Organisasi Intelijen dan Keamanan Dalam Negeri) untuk membuat perjanjian dengan Hamas.
Gadi Eisenkot, anggota kabinet rezim Zionis lainnya menilai keputusan Netanyahu mengenai tim perundingan Pertukaran tahanan tidak logis dan dianggap menjadi alasan eskalasi perselisihan di tubuh kabinet Israel.

Jenderal Zionis memperingatkan penguasa Israel bahwa serangan militer terhadap Rafah di selatan Jalur Gaza akan mendorong Israel menuju tepi jurang kehancuran.
Jenderal Zionis, Itzhak Brik menerbitkan sebuah artikel baru-baru ini mengenai kehancuran Israel, dengan mengatakan, "Jika kita memasuki Rafah, kita tidak akan berhasil mencapai tujuan menghancurkan Hamas Sebab ada kemungkinan kita akan menghadapi kondisi keamanan yang lebih sulit, dan akan kehilangan sandera selamanya. Apabila otoritas politik dan keamanan memutuskan untuk memasuki Rafah, mereka harus tahu bahwa kerusakan serius akan terjadi pada kekebalan politik dan keamanan Israel. Hubungan kita dengan dunia akan menghadapi masalah, dan bola salju di bidang ekonomi, keamanan, sosial dan hubungan internasional akan bergerak menuju jurang maut dan tidak ada jalan kembali,".

"Kami memiliki kondisi yang tidak menguntungkan di dunia, terutama di negara-negara Eropa dan Amerika. Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, baru-baru ini menuntut untuk tidak mengirim senjata ke Israel karena meningkatnya jumlah kematian warga sipil di Gaza," ujar Brik.
Di sisi lain, tekanan internal terus berlanjut terhadap kabinet Netanyahu untuk mengakhiri agresi militer Israel di jalur Gaza.
Sebuah surat kabar Zionis Kamis malam mengumumkan keluarga para tahanan Zionis di Gaza kembali berdemonstrasi di berbagai wilayah pendudukan menentang kabinet Perdana Menteri Benyamin Netanyahu.
Pengunjuk rasa yang marah juga menuntut penandatanganan perjanjian pertukaran tahanan dengan Hamas segera.
Mereka membawa plakat yang menentang Netanyahu dan anggota kabinetnya karena tidak setuju dengan Hamas mengenai pembebasan dan pertukaran tahanan.(PH)