Jun 20, 2024 17:03 Asia/Jakarta
  • Israel
    Israel

Koran New York Times menulis, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan kebijakan-kebijakan destruktifnya membuat rezim ini semakin terkucil.

Koran ini dalam artikelnya menulis, kebijakan Israel saat perdamaian pun membuat gila, tapi di masa perang, secara resmi hanya sebuah kegilaan. Israel semakin hari kian ditinggalkan, karena tidak ada negara yang bersedia mengiringi kebijakan ini.

 

Seperti dilaporkan Pars Today, Thomas L. Friedman, analis dan jurnalis koran NY Times dalam sebuah artikelnya dengan judul "Israel yang kita kenal telah musnah" mengisyaratkan kebijakan destruktif Israel.

 

Friedman, setelah kemenangan koalisi sayap kanan Israel pada pemilu sebelumnya, menulis: “Dalam artikel ini, saya memberikan peringatan serius tentang sifat ekstrim dari koalisi ini, banyak orang yang menentang saya. Peristiwa yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa mereka salah, dan situasi saat ini menjadi lebih buruk sejak saat itu… Israel berada dalam bahaya saat ini.”

 

Analis Amerika ini mengakui bahwa Israel sedang menghadapi Iran, yang merupakan kekuatan regional, dan rezim ini tidak memiliki jawaban diplomatis maupun opsi militer terhadap Iran. Seraya mengisyaratkan bahwa Israel menghadapi kemungkinan perang di tiga front, “Gaza”, “Lebanon” dan “Tepi Barat”, Friedman menambahkan, Hizbullah Lebanon memiliki rudal presisi yang dapat menghancurkan sebagian besar infrastruktur Israel; Dari bandara dan pelabuhan hingga pangkalan militer dan pembangkit listrik.

 

Israel diperintah oleh orang yang menurut “Friedman” hanya berusaha untuk tetap berkuasa dan ingin mempertahankan kekuasaan dengan cara apapun agar tidak diadili dan dipenjarakan.

 

Pakar politik ini menilai Netanyahu telah menjual jiwanya untuk membentuk kabinet dengan ekstremis Yahudi sayap kanan.

 

Di sisi lain, Ehud Barak, mantan Perdana Menteri Israel, baru-baru ini mengatakan bahwa jika Netanyahu tidak mundur dari kekuasaan, Tel Aviv akan segera menemukan dirinya dalam situasi ini, di mana di satu sisi terlibat konflik di Gaza, dan terlibat perang skala penuh dengan Hizbullah di utara, dan di Tepi Barat,  menghadapi intifada ketiga.

 

Menurut Barak, Gerakan Ansarullah Yaman dan Muqawama Irak telah memberi pukulan terhadap Israel, dan Iran juga serius melawan Tel Aviv.

 

Thoman Friedman mengingatkan, meletusnya konflik ini akan menyeret Amerika Serikat ke sebuah perang besar-besaran dan luas di Asia Barat.

 

Analis ini juga seperti pengamat Barat lainnya, merekomendasikan pemerintah Amerika menekan Netanyahu untuk menerima gencatan senjata dengan imbalan pembebasan tawanan Zionis, dan menarik pasukannya dari Gaza.

 

Ia juga seperti kritikus saat ini, menuntut pengunduran diri Netanyahu dan penyelenggaraan pemilu di bumi Palestina pendudukan.

 

Benny Gantz, anggota kabinet perang Zionis juga secara resmi mengundurkan diri dari kabinet Netanyahu, dan menuntut penyelenggaraan pemilu dini. Sementara itu, anggota ekstrim kabinet ini tengah berusaha meraih kekuasaan lebih besar. (MF)

 

 

Tags