Gaza Selatan di Ambang Bencana Kemanusiaan, Reaksi terhadap Statemen Baru Netanyahu
Ismail al-Thawabateh, Kepala Kantor Informasi Pemerintah di Gaza, mengumumkan bahwa sekitar 890 ribu orang saat ini di bagian selatan Jalur Gaza menghadapi kelaparan, kekurangan air minum, dan ancaman berbagai jenis penyakit.
Ismail al-Thawabateh, Kepala Kantor Informasi Pemerintah di Jalur Gaza, pada hari Jumat memperingatkan mengenai situasi kritis di selatan wilayah tersebut. Ia menyatakan bahwa sekitar 890 ribu orang di Provinsi Khan Younis dan wilayah al-Mawasi di Rafah kini menghadapi kelaparan, kekurangan air minum, dan risiko berbagai penyakit.
Menurut laporan Pars Today mengutip Kantor Berita IRIB, al-Thawabateh menambahkan bahwa para pengungsi ini hidup dalam kondisi yang sangat sulit dan tidak manusiawi; kekurangan parah bahan makanan, ketiadaan air minum yang bersih, dan hampir tidak adanya layanan kesehatan maupun tempat tinggal layak, telah membawa kehidupan mereka ke ambang bencana.
Kepadatan penduduk yang tinggi di rumah-rumah dan pusat penampungan sementara juga sangat meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan wabah. Kepala Kantor Informasi Pemerintah di Gaza menggambarkan situasi Jalur Gaza saat ini sebagai bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menyerukan intervensi segera komunitas internasional untuk menghentikan serangan dan memberikan bantuan kemanusiaan segera.
Lembaga-lembaga Islam Mengutuk Pernyataan Netanyahu tentang Rencana “Israel Raya”
Sejumlah lembaga dunia Islam bereaksi terhadap pandangan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu mengenai rencana “Israel Raya” yang berlandaskan penjajahan, dan mengutuk keras tindakan ini.
Al-Azhar dalam sebuah pernyataan, mengecam keras pernyataan provokatif dan tidak dapat diterima dari para pejabat rezim pendudukan mengenai “ilusi Israel Raya”. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan mentalitas penjajahan yang mengakar serta mengungkap ambisi dan niat ekstremis rezim ini untuk menguasai sumber daya negara-negara kawasan.
Dewan Hukama Muslim
Dewan Hukama Muslim dalam sebuah pernyataan, mengutuk keras pernyataan Netanyahu mengenai apa yang disebutnya “mimpi Israel Raya” dan menyebutnya sebagai tanda keserakahan kolonialis rezim tersebut. Dewan ini menegaskan bahwa sikap semacam itu merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan hukum internasional, serta bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah negara-negara.
Dewan ini menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera mengambil langkah menghadapi agresi rezim pendudukan, menghentikan serangan terhadap rakyat Palestina, mengakhiri kebijakan blokade dan pengusiran paksa, serta mewujudkan hak sah bangsa Palestina untuk membentuk negara merdeka dengan ibu kota Yerusalem al-Quds.
Reaksi Tunisia terhadap Pernyataan Netanyahu tentang “Israel Raya”
Kementerian Luar Negeri Tunisia, dalam pernyataan terpisah, menyebut pernyataan tersebut sebagai “kelanjutan dari kebijakan provokatif rezim Zionis terhadap negara-negara Arab dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan mereka.”
Pernyataan itu menggambarkan rezim pendudukan sebagai “entitas kolonial, rasis, dan pembangkang hukum” yang terlibat dalam genosida, kejahatan perang, dan pembersihan etnis terhadap bangsa Palestina.
Wakil Ketua Parlemen Arab: Diam terhadap Netanyahu Berakibat Berbahaya
Sementara itu, Khalil Atiyah, mantan Wakil Ketua Parlemen Arab, dengan keras menyerang klaim Perdana Menteri rezim Zionis tentang “mimpi Israel Raya” dan menegaskan bahwa diam terhadap Benjamin Netanyahu akan membawa dampak berbahaya.
Khalil Atiyah, merujuk pada pernyataan terbaru Netanyahu tentang hubungan emosional dengan pandangan yang disebut “Israel Raya” yang mencakup sebagian wilayah Mesir dan Yordania, mengkritik keras dan menyebutnya sebagai pengumuman terbuka proyek Zionis yang didasarkan pada penjajahan, ekspansionisme, penolakan hak-hak bangsa, dan pengabaian kedaulatan negara-negara.(PH)