Defisit Anggaran, Masalah Baru Negara Kaya Arab
Lembaga pemeringkat Moody`s, menyatakan bahwa reformasi subsidi bahan bakar oleh negara-negara Arab di Teluk Persia akan membantu mengurangi beban anggaran mereka, tapi tidak cukup untuk mengimbangi defisit akibat anjloknya harga minyak.
“Reformasi ekonomi di enam negara Arab untuk mengatasi dampak buruk jatuhnya harga minyak, tidak dapat menyelesaikan masalah di negara tersebut. Mereka perlu mengambil langkah-langkah yang lebih besar guna mencapai keseimbangan anggaran,” kata Moody`s pada hari Rabu (17/2/2016).
Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, enam negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) – yang sangat bergantung pada pendapatan minyak – telah memangkas subsudi bahan bakar, listrik, dan subsidi lainnya untuk mengurangi pengeluaran pemerintah. Akan tetapi, penghematan tujuh miliar dolar lewat program reformasi tidak seimbang dengan defisit anggaran yang mencapai puluhan miliar dolar di negara-negara P-GCC.
Moody`s mengharapkan negara-negara P-GCC untuk mengambil langkah-langkah fiskal lainnya seperti, menaikkan pajak perusahaan dan memperkenalkan pajak pertambahan nilai untuk menghadapi periode panjang rendahnya pendapatan minyak.
Setelah penurunan tajam harga minyak selama satu tahun lalu, enam negara Arab di Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir telah menaikkan harga bahan bakar dan memangkas subsidi untuk menutupi defisit anggarannya.
Para pejabat Arab Saudi mengkonfirmasi defisit anggaran senilai 98 miliar dolar pada tahun 2015, sebuah angka yang sangat fantastis untuk negara kaya minyak itu. Pemerintah Qatar juga memprediksi akan menyaksikan defisit anggaran sebesar 12,8 miliar dolar pada 2016.
Negara-negara Arab di Teluk Persia kini harus menghadapi defisit anggaran luar biasa, padahal dalam satu tahun lalu, beberapa dari mereka seperti, Saudi dan Qatar memainkan peran signifikan untuk merusak pasar minyak dunia dengan tujuan menekan Iran dan Rusia. Langkah itu ditempuh karena Tehran dan Moskow menentang kebijakan regional Riyadh dan Doha di Suriah dan Yaman.
Harga minyak OPEC dari 100 dolar pada tahun 2013 sekarang diperdagangkan kurang dari 30 dolar per barel.
Selain itu, pemerintah Arab Saudi dan Qatar juga banyak menghabiskan pendapatan minyaknya untuk biaya intervensi di Libya, Suriah, dan Yaman. Petualangan mereka di negara lain telah menjadi salah satu faktor utama defisit anggaran di Saudi dan Qatar.
Beberapa negara Arab di Teluk Persia terjebak dalam masalah ekonomi karena mengikuti kebijakan agresif yang dijalankan rezim Al Saudi di kawasan. Selama mereka masih mengadopsi kebijakan yang sama dengan Saudi, negara-negara tersebut juga akan enyaksikan berlanjutnya masalah politik, ekonomi, dan sosial. (IRIB Indonesia/RM)