Siapakah Direktur Mossad Berikutnya dan Apa yang Dikatakan Media Regional tentang Gofman?
-
Roman Gofman dan Benjamin Netanyahu
Pars Today - Keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menganut apartheid dan pro-perang, untuk memilih penasihat militernya, Roman Gofman, sebagai kepala badan intelijen dan operasi khusus Mossad, telah memicu gelombang spekulasi tentang latar belakang dan pandangan ekstremisnya tentang Palestina, Iran, dan senjata nuklir. Para ahli yakin bahwa ia akan bertindak sesuai dengan posisi ekstremis atasannya, yaitu operasi perang dan teror di Timur Tengah.
Menurut laporan IRNA, Goffman akan menjabat pada Juli 2026. Sara Netanyahu, istri Perdana Menteri Zionis Israel disebut-sebut berperan langsung dalam proses pemilihan Roman Gofman sebagai kepala Mossad yang baru dan mengadakan pertemuan informal yang panjang dengannya sebelum pengumuman resmi pengangkatan tersebut.
Isu ini telah memicu gelombang protes, dengan para pejabat Israel menggambarkan pilihan itu sebagai tindakan bodoh, pesan berbahaya, dan tanda ketidakpercayaan terhadap struktur internal Mossad. Beberapa pihak mengatakan bahwa apa yang dilakukan Perdana Menteri di Shin Bet dan kini diulanginya di Mossad, mengirimkan pesan yang sangat berbahaya.
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh situs investigasi Shomrim membahas pendidikan Gofman di Internal Security College, lembaga pendidikan tertinggi bagi para elit keamanan dan pemerintahan Israel. Gofman bergabung dengan kepolisian pada tahun 2019 setelah menyelesaikan komando Brigade ke-7, dan setelah meraih gelar magister ilmu politik dari Universitas Haifa dan dipromosikan menjadi brigadir jenderal, ia diangkat menjadi komandan Divisi Bashan.
Pusat Informasi Palestina melaporkan bahwa selama masa studinya, Gofman menulis sebuah makalah akademis yang menyajikan rencana aneh untuk menyelesaikan krisis program nuklir Iran, dengan dasar penjualan hulu ledak nuklir Israel ke Mesir, Arab Saudi, dan Turki.
Makalah berjudul “Hari Penghakiman yang Telah Berlalu” ini ditulis pada akhir tahun 2019 dan menggambarkan skenario futuristik di mana seorang perdana menteri Israel hipotetis berbicara tentang pergeseran strategis dalam rezim pada tahun 2025, pergeseran yang konon terjadi setelah Iran berupaya memperoleh senjata nuklir.
Dalam artikel ini, alih-alih mencoba mencegah proliferasi nuklir dengan cara militer atau diplomatik tradisional, Gofman mengusulkan opsi mempersenjatai negara-negara kunci di kawasan itu secara terkontrol untuk menciptakan pencegahan multipolar dan mencegah dominasi Iran.
Menurut skenario ini, ancaman “Israel” untuk menyebarkan senjata nuklir di kawasan itu memaksa kekuatan besar (Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok) untuk campur tangan dan pada akhirnya mengarah pada adopsi kebijakan di mana masing-masing kekuatan ini mendukung salah satu negara di kawasan (Arab Saudi, Mesir, atau Turki) dan melengkapinya dengan kemampuan nuklir. Hasilnya adalah pembentukan keseimbangan baru yang mencegah ledakan perlombaan senjata atau monopoli kekuatan nuklir oleh Iran.
Rencana ini, yang sifatnya teoritis, menurut Shomrim, selain menunjukkan pemikiran Gofman yang tidak konvensional, juga menimbulkan kekhawatiran mengenai pendekatannya terhadap kasus keamanan Israel yang paling sensitif.
Laporan itu juga mengutip artikel bersama karya Gofman dan seorang koleganya yang meneliti hubungan antara seorang komandan militer profesional dan seorang penasihat strategis politik. Studi itu menekankan bahwa tugas komandan keamanan bukan hanya sekadar melaksanakan perintah, tetapi juga mampu menarik garis strategis, memengaruhi para pembuat keputusan politik, dan bahkan melakukan manuver lapangan dalam situasi yang kompleks.
Para penulis mengidentifikasi tiga alat utama untuk memperluas pengaruh komandan keamanan, dialog langsung dengan elit politik, perluasan jaringan komunikasi, dan manuver operasional di lapangan. Mereka juga mempertanyakan apakah Gofman melihat dirinya sebagai pelaksana rencana para politisi atau sebagai mitra dalam merancang strategi besar.
Pandangan ini kini telah dikritik oleh beberapa mantan pejabat Mossad dan analis keamanan. Mereka mengatakan bahwa Netanyahu berupaya mengkonsolidasikan pengaruh politiknya di aparat intelijen dengan penunjukan ini. Sebuah proses yang dapat merusak prinsip-prinsip profesionalisme dan imparsialitas Mossad.
Beberapa pihak memperingatkan bahwa Gofman kurang memiliki pengalaman intelijen yang mendalam dan pemahaman yang cukup tentang operasi luar negeri yang kompleks, inti dari kegiatan Mossad, dan bahwa pengangkatannya dapat menyebabkan ketidakpercayaan internal dan bahkan gelombang pengunduran diri.
Media berbahasa Ibrani menggambarkan pemilihan Gofman sebagai salah satu pengangkatan paling kontroversial dalam sejarah Mossad. Para kritikus mengatakan bahwa Gofman, tidak seperti kepala sebelumnya, bukan berasal dari korps intelijen Mossad dan tidak memiliki pengalaman dalam operasi luar negeri atau manajemen intelijen keamanan.
Berkas Gofman saat ini sedang ditinjau oleh Komite Penasihat untuk Jabatan Senior, dan jika disetujui, ia akan menggantikan David Barnea pada Juni 2026. Pengangkatan ini terjadi pada saat Mossad berada pada titik kritis keamanan yang paling sensitif dalam beberapa dekade, dan banyak yang melihatnya sebagai ujian berat bagi struktur internal dan independensi lembaga tersebut.
Pengangkatan Roman Gofman sebagai kepala Mossad, salah satu badan keamanan paling sensitif dalam rezim Israel, disambut dengan reaksi keras dari para pejabat keamanan, termasuk Rami Igra, mantan pejabat senior di dinas intelijen ini, reaksi yang tidak ditujukan kepada Gofman secara pribadi, melainkan kepada keputusan politik Netanyahu untuk memilih seseorang dari luar struktur Mossad.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi Israel Channel 11 (Kan), Igra menekankan bahwa Mossad adalah dinas intelijen yang kompleks dengan puluhan unit operasional, dan kepemimpinannya membutuhkan pengalaman lapangan bertahun-tahun, pengetahuan tentang jaringan internal, dan kehadiran operasional.
Ia memperingatkan bahwa Gofman akan membutuhkan waktu lama untuk memahami struktur internal Mossad dan mengenali dinamika kekuasaan di dalam badan tersebut, menambahkan, "Diperlukan sekitar dua tahun untuk dapat mempercayai keputusan operasionalnya dan memastikan bahwa organisasi tersebut tidak terpapar kesalahan fatal."
Merujuk pada ratusan veteran agen Mossad yang telah terlibat dalam operasi sensitif selama bertahun-tahun, mantan pejabat Mossad itu mengatakan bahwa menunjuk seseorang dari luar lembaga dapat sangat menurunkan moral mereka. Ia mengingat bahwa pada periode serupa, ketika Danny Yatom diangkat untuk memimpin lembaga ini dari luar pada tahun 1999, ia dan banyak veteran lainnya memutuskan untuk meninggalkan lembaga tersebut. Ia menekankan bahwa penunjukan seperti itu merupakan pukulan langsung terhadap keamanan Israel dan struktur lembaga tersebut.
Menurut sumber yang mengetahui, beberapa faktor berperan dalam pilihan ini, termasuk keinginan Netanyahu untuk memiliki lebih banyak kendali atas lembaga tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, Mossad telah memainkan peran penting dalam kasus Iran, berbagai operasi militer di kawasan, dan koordinasi keamanan dengan Amerika Serikat.
Para analis percaya bahwa Netanyahu lebih suka menunjuk seseorang yang dekat dengannya untuk memimpin lembaga itu yang akan bertindak berkoordinasi dengan Kantor Perdana Menteri dalam membuat keputusan-keputusan sensitif.
Beberapa juga percaya bahwa ketidakpercayaan terhadap beberapa komandan senior Mossad menyebabkan pemilihan ini. Laporan menunjukkan bahwa Netanyahu memiliki perbedaan pendapat dengan beberapa pemimpin senior Mossad dan menganggap beberapa opsi internal sebagai "non-blok" atau "kritis". Memilih seseorang di luar struktur Mossad bisa menjadi cara untuk melewati para pejabat tersebut.
Di sisi lain, para ahli mengatakan bahwa dalam situasi di mana Israel secara bersamaan menghadapi tantangan keamanan di berbagai front di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran, Netanyahu mencari seseorang yang akan sepenuhnya selaras dengannya di tingkat politik dan keamanan dan yang akan menunjukkan dukungan penuh pada saat-saat penting.(sl)