Siapakah Abu Ubaidah dan Mengapa Ia Menjadi Simbol Perang Media Perlawanan?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i183278-siapakah_abu_ubaidah_dan_mengapa_ia_menjadi_simbol_perang_media_perlawanan
Pars Today – “Syahid Palestina paling terkenal namun anonim” yang identitasnya baru terungkap bersamaan dengan pengumuman kesyahidannya, telah menjadi simbol perlawanan dan keteguhan dalam menghadapi agresi rezim Zionis.
(last modified 2025-12-31T03:41:36+00:00 )
Des 31, 2025 10:36 Asia/Jakarta
  • Abu Ubaidah
    Abu Ubaidah

Pars Today – “Syahid Palestina paling terkenal namun anonim” yang identitasnya baru terungkap bersamaan dengan pengumuman kesyahidannya, telah menjadi simbol perlawanan dan keteguhan dalam menghadapi agresi rezim Zionis.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas pada hari Senin mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kesyahidan Abu Ubaidah, mantan juru bicara sayap militer gerakan tersebut. Hamas menyatakan bahwa komandan besar ini gugur sebagai syahid setelah dengan berani berdiri menghadapi musuh dan tidak pernah berpaling dari medan perjuangan. Ia gugur bersama keluarganya akibat pemboman keji dan pengecut oleh tentara Zionis di Gaza—tanah keteguhan dan jihad.

Menurut laporan Pars Today mengutip Mehr News Agency, Abu Ubaidah mengorbankan nyawanya dalam salah satu pertempuran paling mulia dalam sejarah perjuangan bangsa Palestina, yakni Operasi “Badai Al-Aqsa”, demi cita-cita suci yang selama bertahun-tahun ia suarakan.

Dalam pernyataannya, Hamas memperingatkan musuh Zionis bahwa pembunuhan para pemimpin, komandan, dan simbol perlawanan tidak akan pernah mampu mematahkan tekad bangsa Palestina. Kejahatan-kejahatan tersebut justru akan menambah kekuatan, keteguhan, dan komitmen Hamas dalam mempertahankan tanah dan kesucian mereka. Sejarah Hamas membuktikan bahwa gerakan ini selalu bangkit lebih kuat, lebih solid, dan dengan tekad baja setelah para pemimpinnya gugur.

Untuk pertama kalinya, Hamas mengungkap identitas asli Abu Ubaidah. Nama lengkapnya adalah Hudhaifah Samir al-Kahlout, dengan kunyah Abu Ibrahim, yang berperan sebagai juru bicara Brigade Izzuddin al-Qassam.

Riwayat Hidup dan Kepribadian Syahid al-Kahlout
Syahid Hudhaifah al-Kahlout berasal dari desa Na’liyah di wilayah Palestina yang diduduki. Keluarganya terusir dari desa tersebut pada peristiwa Nakba tahun 1948 dan kemudian menetap di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza utara.

Menurut sumber Palestina dan Zionis, ia beberapa kali menjadi target upaya pembunuhan. Pesawat tempur Zionis berulang kali membombardir rumahnya sejak perang pertama terhadap Jalur Gaza pada 2008, dilanjutkan perang 2012 dan 2014, hingga upaya pembunuhan intensif dalam genosida terbaru.

Berdasarkan laporan harian Zionis Yedioth Ahronoth tertanggal 25 Juli 2014, kehidupan keamanan Abu Ubaidah tidak menghalanginya melanjutkan pendidikan akademik. Pada 2013, ia meraih gelar magister dari Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Gaza dengan tesis berjudul “Tanah Suci antara Yudaisme, Kristen, dan Islam”. Ia bahkan tengah mempersiapkan diri untuk meraih gelar doktor dalam waktu dekat.

Menurut analis politik Iyad al-Qarra, Abu Ubaidah memiliki kepribadian yang seimbang dan sangat menjaga kerahasiaan, yang memberinya wibawa dan karakter unik. Ia menjalankan perang psikologis dengan menjadikan tentara dan masyarakat Zionis sebagai sasaran utama.

Al-Qarra menilai bahwa sosok Abu Ubaidah merupakan salah satu senjata propaganda dan perang media terpenting yang dimiliki Hamas dalam seluruh konfrontasinya dengan penjajah. Sebagaimana rakyat Palestina dan para pendukung perlawanan menantikan pidato-pidatonya, tentara Zionis, aparat intelijen, dan opini publik Israel pun terus mengawasinya.

Abu Ubaidah: Sosok yang Unik
Syahid Palestina anonim ini meraih ketenaran yang luar biasa tanpa pernah mencarinya. Pasca Operasi Badai Al-Aqsa, Abu Ubaidah dengan penuh risiko tampil di medan perang informasi dan psikologis dengan ciri khasnya: seragam militer, keffiyeh merah, dan ikat kepala hijau bertuliskan “Brigade al-Qassam”.

Ia dikenal memiliki kefasihan tinggi dalam bahasa Arab, menjadikannya pejuang tangguh di medan media. Para pengamat menilai bahwa kata-katanya menghujam musuh layaknya peluru, sarat dengan keyakinan dan ketegasan yang tercermin dalam ungkapan-ungkapannya yang presisi dan berirama.

Peran Menonjol Abu Ubaidah Pasca 7 Oktober
Sejumlah pidato terpenting Abu Ubaidah disampaikan setelah operasi Hamas pada 7 Oktober 2023. Beberapa hari setelah perang dimulai, ia mengungkapkan bahwa perencanaan operasi tersebut telah dimulai sejak 2021, pasca perang 11 hari pada Mei tahun itu. Ia menyebut sekitar 4.500 anggota Hamas terlibat dalam operasi tersebut, dengan 3.000 di antaranya terjun langsung ke medan.

Terkait tujuan Operasi Badai Al-Aqsa, Abu Ubaidah menjelaskan bahwa salah satu target utama adalah penghancuran “Brigade Gaza” dalam militer Israel, bagian dari Komando Selatan. Ia menyatakan: “Tipu daya strategis, perencanaan militer, dan eksekusi operasi yang mengesankan telah mengejutkan musuh.” Ia menambahkan bahwa musuh kini menyadari telah mengalami kekalahan strategis yang serius dan belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga kemudian melakukan kejahatan brutal terhadap warga sipil tak berdosa.

Salah satu pidato paling terkenal Abu Ubaidah adalah kritik tajamnya terhadap para pemimpin Arab atas ketidakmampuan mereka menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Sanksi Amerika terhadap Abu Ubaidah
Amerika Serikat pada April 2024 menjatuhkan sanksi terhadap Abu Ubaidah dan menyebutnya sebagai “komandan perang informasi” Hamas. Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa ia memimpin “Unit Pengaruh Siber Brigade al-Qassam”.

Meski suara Abu Ubaidah akhirnya terdiam setelah pengumuman resmi kesyahidannya—akibat pemboman rumahnya oleh jet tempur Zionis pada Agustus lalu—namun warisan perjuangan dan pengaruhnya akan tetap hidup dan abadi.