Qatar: Diplomasi adalah Solusi Terbaik untuk Masalah Nuklir Iran
-
Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Perdana Menteri Qatar
Pars Today - Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar menekankan di Forum Ekonomi Dunia di Davos bahwa diplomasi adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah nuklir Iran.
Menurut laporan ISNA, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Perdana Menteri Qatar menyatakan bahwa Qatar selalu percaya bahwa "ada tempat untuk diplomasi" dan bahwa "peningkatan ketegangan akan memiliki konsekuensi".
Menurut National News, Abdulrahman Al Thani mengatakan, "Masalah ini pernah dicoba 20 tahun yang lalu di Irak dan tidak berhasil... Kami tidak ingin menyaksikan peningkatan ketegangan militer di wilayah kami."
Mengacu pada perlunya bertindak dengan "diplomasi" terhadap Iran, ia menyatakan, Dengan semua krisis di sekitar kita, kita harus bertindak tenang dan mencari perlindungan dalam kebijaksanaan. Kami pikir ada banyak cara untuk menemukan solusi yang dapat menyelesaikan masalah dan memberikan jaminan keamanan yang akan membawa kemakmuran bagi kita dan rakyat Iran.
Abdulrahman Al Thani menambahkan, “Yang membuat saya khawatir adalah meningkatnya ketegangan yang terjadi di kawasan ini, baik itu perang di Gaza atau apa yang terjadi di Iran.”
Merujuk pada pembicaraan yang sedang berlangsung antara negara itu dengan Iran dan Amerika Serikat, ia menekankan bahwa diplomasi adalah cara terbaik untuk mengatasi program nuklir Iran.
Dalam percakapan dengan Presiden dan CEO Forum Ekonomi Dunia, Perdana Menteri Qatar menyerukan pembentukan “arsitektur keamanan regional baru” di Timur Tengah agar negara-negara tidak merasa terancam satu sama lain.
“Banyak hal terjadi tahun lalu, aspek positifnya lebih besar daripada aspek negatifnya. Di Suriah, kita memiliki presiden [baru], di Lebanon pemerintahan baru telah berkuasa. Perang di Gaza hampir berhenti, tetapi sayangnya kita masih menyaksikan pembunuhan. Kita berada dalam posisi yang lebih baik, tetapi itu tidak berarti kawasan ini bergerak menuju stabilitas. Masih banyak ketidakpastian,” ujarnya.
Abdulrahman Al Thani juga mengatakan bahwa "dewan perdamaian" yang dipimpin AS dapat menjadi "jalan" untuk membantu menstabilkan Gaza seiring berlanjutnya gencatan senjata, meskipun ia menyampaikan kekhawatiran tentang pembunuhan warga Palestina yang terus berlanjut.
Menteri Luar Negeri Qatar mengatakan, “Implementasi fase pertama perjanjian tidak berarti pekerjaan telah selesai. Semua negara yang bergabung dengan dewan perdamaian harus melakukan banyak upaya untuk menjadikannya faktor stabilitas. Kami senang dapat berperan dalam jalan menuju perdamaian dan stabilitas di kawasan kami. Ada banyak tantangan, tetapi saat ini kami tidak punya alternatif lain. Yang terpenting adalah Gaza distabilkan, pasukan Israel mundur, dan masyarakat dapat melanjutkan kehidupan mereka.”
Ia menyimpulkan dengan menekankan bahwa Yaman tidak boleh dibiarkan hancur, dan mencatat bahwa upaya harus dilakukan untuk memastikan partisipasi yang beragam dan inklusif dalam struktur pemerintahan di Yaman dan Suriah.(sl)