Bloomberg: Negara‑Negara Arab Teluk Persia Kecewa terhadap Trump
-
Donald Trump
Pars Today – Kantor berita Bloomberg dalam sebuah laporan, mengutip sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut dan meminta agar identitas mereka tidak diungkapkan, menyatakan bahwa dengan berlanjutnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta tidak adanya strategi yang jelas dari pemerintahan Donald Trump, beberapa negara Arab di kawasan Teluk Persia semakin merasa kecewa terhadap pendekatan Amerika Serikat dan mulai mempertanyakan nilai menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer
Menurut laporan yang disiarkan Minggu (29/3/2026) dini hari oleh IRNA, sejumlah pejabat negara-negara Arab Teluk menyatakan keraguan dan kekhawatiran mengenai logika pengambilan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tingkat komitmennya terhadap kebijakan yang sebelumnya telah diumumkan, serta tujuan sebenarnya dari perang melawan Iran.
Berdasarkan laporan tersebut, seiring berlanjutnya perang antara Amerika Serikat, rezim Zionis, dan Iran, para pejabat negara-negara tersebut dalam pembicaraan tertutup mulai mempertanyakan kredibilitas jaminan keamanan dari Amerika Serikat serta tidak adanya strategi yang jelas dari pemerintahan Trump.
Laporan Bloomberg menambahkan bahwa dengan terus berlangsungnya serangan balasan antara pihak-pihak yang terlibat dalam perang ini, kondisi Selat Hormuz saat ini serta kerugian ekonomi yang signifikan yang dialami negara-negara Arab di kawasan Teluk telah menimbulkan kekhawatiran bahwa setiap kemungkinan kesepakatan antara Washington dan Teheran mungkin tidak akan mencakup tuntutan pertahanan dan keamanan mereka.
Menurut IRNA, agresi militer bersama Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran dimulai pada dini hari tanggal 9 Esfand 1404 (28 Februari 2026). Tindakan tersebut terjadi saat perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh beberapa negara kawasan masih berlangsung.
Setelah dimulainya agresi militer tersebut, Republik Islam Iran memberikan tanggapan yang tegas, terarah, dan proporsional. Dalam kerangka respons yang dianggap sah ini, posisi militer dan keamanan rezim Zionis di berbagai kota di wilayah Palestina yang diduduki, serta pangkalan dan lokasi penempatan pasukan Amerika di kawasan, menjadi sasaran serangan rudal, drone, dan serangan udara yang presisi.
Para pejabat resmi Republik Islam Iran menegaskan bahwa operasi-operasi tersebut dilakukan dalam kerangka hak inheren untuk membela diri sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa‑Bangsa, dengan tujuan menciptakan efek pencegahan, menghentikan kelanjutan agresi, dan membebankan biaya kepada para pihak yang dianggap sebagai penyerang. Iran juga memperingatkan bahwa setiap kelanjutan atau perluasan agresi akan dihadapi dengan respons yang lebih keras dan lebih luas. (MF)