Israel Kuasai Ali al-Tahir dan Reaksi Perlawanan Hizbullah
Israel Membentuk Citra “Kemenangan” di Ali al-Tahir, tetapi jika kawasan tersebut sebelumnya telah dikosongkan, maka persoalannya bukanlah kekalahan Hizbullah, melainkan contoh jelas perbedaan dua logika perang.
Dalam perang, pihak yang berdiri beberapa meter lebih maju tidak selalu berarti sebagai pemenang. Terkadang, yang lebih penting daripada siapa yang menguasai sebuah ketinggian adalah apa yang tersisa di ketinggian tersebut dan berapa besar biaya yang harus dibayar musuh untuk mencapainya.
Persoalan Ali al-Tahir menjadi penting justru dari sudut pandang ini.
Menurut laporan Pars Today, berdasarkan narasi yang disampaikan Hizbullah, kawasan tersebut telah dikosongkan sebelum pasukan Israel masuk, dan peralatan strategis milik pasukan perlawanan juga telah dipindahkan dari kawasan itu. Jika narasi ini dijadikan dasar analisis, apa yang direbut oleh militer Israel belum tentu merupakan pusat operasional vital atau infrastruktur penentu milik Hizbullah. Bisa jadi, itu hanyalah sebuah titik geografis yang sengaja tidak dipertahankan Hizbullah melalui pertempuran konvensional demi mempertahankan kawasan tersebut.
Di sinilah banyak pemberitaan media Israel melakukan kesalahan mendasar: mereka mengukur Hizbullah dengan parameter seperti mengukur sebuah pasukan konvensional.
Pasukan konvensional biasanya memiliki garis pertahanan, perbatasan, posisi tetap, dan kehilangan sebuah ketinggian atau mundur dari suatu poros dapat secara langsung berarti kekalahan di bagian tertentu dari front.
Namun, organisasi seperti Hizbullah pada dasarnya tidak dibangun berdasarkan logika tersebut.
Dalam perang asimetris, wilayah memang penting, tetapi “mempertahankan wilayah dengan segala cara” tidak selalu menjadi prinsip utama.
Bagi kekuatan semacam ini, yang lebih penting adalah di mana musuh berhenti, di mana musuh menjadi rentan, berapa banyak pasukan yang dikerahkannya ke suatu kawasan, dan berapa besar biaya yang harus ditanggung untuk mempertahankan posisi barunya.
Dengan kata lain, Hizbullah belum tentu bertanya: “Bagaimana kita mempertahankan bukit ini selamanya?”
Bisa jadi pertanyaan utamanya adalah: “Bagaimana kita membuat keberadaan musuh di bukit ini menjadi mahal bagi mereka?”
Perbedaan ini mengubah seluruh makna medan perang.
Pasukan konvensional mungkin memandang mundur sebagai tanda hilangnya inisiatif, tetapi dalam perang gerilya dan asimetris, mundur dapat menjadi bagian dari operasi itu sendiri. Pihak yang bertahan dapat mengosongkan suatu kawasan, mempertahankan kekuatan utamanya, menarik musuh untuk bergerak lebih jauh, lalu menentukan sendiri waktu dan lokasi pertempuran berikutnya.
Karena itu, bahkan jika militer Israel saat ini telah menduduki sebagian kawasan Ali al-Tahir, pertanyaan yang menentukan masih belum terjawab: lalu apa setelah ini?
Apakah keberadaan Israel di kawasan tersebut telah menghancurkan kemampuan operasional Hizbullah?
Apakah jaringan komando atau peralatan strategis pasukan perlawanan telah dihancurkan?
Ataukah Israel hanya memasuki kawasan yang sebelumnya telah dikosongkan dari sebagian besar kapasitas operasionalnya?
Jika jawaban atas pertanyaan terakhir adalah ya, maka kesenjangan antara realitas militer dan gambaran propaganda Israel akan sangat besar.
Di sinilah politik dalam negeri Israel juga masuk ke dalam persoalan ini.
Pemilu Israel akan digelar pada 27 Oktober, dan Netanyahu kembali menghadapi persaingan yang sensitif demi mempertahankan kelangsungan karier politiknya. Laporan-laporan terbaru juga menunjukkan bahwa isu keamanan dan rekam jejak perang pemerintahannya menjadi salah satu poros utama persaingan elektoral.
Dalam situasi seperti ini, Netanyahu lebih membutuhkan “citra keberhasilan” daripada sebelumnya.
Ia membutuhkan peta yang menunjukkan suatu kawasan dengan warna baru; gambar tentara Israel berdiri di atas sebuah ketinggian; serta tajuk berita yang dapat menyampaikan kepada publik dalam negeri bahwa militer telah maju dan Hizbullah telah mundur.
Bahkan sebuah pencapaian taktis yang terbatas dapat diubah oleh mesin propaganda pemilu menjadi sebuah “kemenangan strategis.” Namun, persoalan Netanyahu adalah bahwa perang yang sesungguhnya tidak berakhir dengan gambar-gambar kampanye pemilu.
Jika Hizbullah telah menarik sebagian besar kekuatannya dari kawasan tersebut, jika struktur tempurnya tetap utuh, dan jika pasukan Israel setelah memasuki wilayah-wilayah baru masih harus membayar mahal untuk mempertahankan kehadiran mereka, maka penguasaan sebuah ketinggian bukanlah akhir cerita, melainkan awal dari tahap berikutnya.
Dan mungkin inilah realitas terpenting dari Ali al-Tahir:
Israel dapat mewarnai sebuah bukit dengan warna baru di peta, tetapi Hizbullah pada dasarnya tidak berperang demi mempertahankan warna-warna di atas peta.
Logika pasukan perlawanan adalah mempertahankan kemampuan tempur, memilih waktu untuk melancarkan serangan, serta menguras kekuatan musuh yang membutuhkan hasil cepat untuk membuktikan bahwa dirinya menang.
Dari sudut pandang ini, apa yang saat ini ditawarkan Netanyahu sebagai sebuah pencapaian mungkin justru akan berubah menjadi persoalan yang jauh lebih sulit di kemudian hari: bukan bagaimana militer Israel memasuki Ali al-Tahir, melainkan berapa harga yang harus dibayar untuk tetap berada di sana.