Misi Kunjungan Menhan AS ke Irak
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter pada 22 Oktober, melakukan kunjungan ke Baghdad untuk bertemu dengan para pejabat Irak dan pasukan AS yang ditempatkan di negara itu. Kunjungan ini dilakukan enam hari setelah Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi memulai operasi pembebasan Mosul.
Perjalanan para pejabat AS ke Irak sebelum digelar sebuah operasi militer atau adanya transformasi penting, adalah sebuah kegiatan yang rutin. Namun, kunjungan Carter kali ini dilakukan tanpa pemberitahuan awal dan setelah menyelesaikan agendanya di Turki. Selama di Ankara, Carter bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mendiskusikan berbagai isu.
Operasi pembebasan Mosul tampaknya menjadi alasan utama kunjungan Carter ke Baghdad setelah mengunjungi Ankara.
Meskipun pemerintah Irak menolak tegas keterlibatan Turki dalam operasi pembebasan Mosul, namun negara itu tetap bersikeras untuk ikut dalam operasi. Turki adalah sebuah negara anggota NATO dan sekutu AS di wilayah Asia Barat.
AS sedang mencoba untuk mengelola ketegangan antara pemerintah Turki dan Irak. Carter sebelum bertolak ke Ankara mengatakan bahwa Turki harus menghormati integritas teritorial Irak, tapi perjalanan menhan AS itu ke Baghdad sepertinya bertujuan untuk membujuk pemerintah Irak terkait partisipasi pasukan Turki dalam operasi pembebasan Mosul.
Operasi tersebut memiliki arti penting bagi pemerintah AS. Hal ini berhubungan dengan pemilu Presiden AS yang akan digelar pada 8 November 2016. Gedung Putih sedang berupaya menampilkan dirinya sebagai aktor utama dan jagoan dalam operasi pembebasan Mosul untuk memperbesar peluang kemenangan kandidat Partai Demokrat dalam pemilu.
Dengan kata lain, pemerintahan Obama memandang operasi pembebasan Mosul sebagai sebuah 'Kartu AS' untuk kemenangan kandidat Demokrat.
Struktur kependudukan kota Mosul juga memiliki banyak arti bagi AS. Mosul memiliki penduduk sekitar 2 juta orang, di mana mayoritas mereka adalah Arab Sunni. Pemerintah AS – yang fokus dengan perimbangan kekuatan antara kelompok-kelompok Irak – berupaya mengelola pembebasan Mosul dan mencegah pemerintah al-Abadi memanfaatkan kemenangan potensial di kota itu untuk memperkuat posisinya di Irak.
AS juga dapat mempertahankan kehadirannya di Irak dengan memanfaatkan isu sektarian dan melalui faksi-faksi politik Sunni, yang didukung oleh Turki dan Arab Saudi.
Dengan memperhatikan kondisi itu, operasi pembebasan Mosul sangat penting bagi Washington, di mana kunjungan terbaru Carter ke Baghdad adalah perjalanan keduanya dalam tiga bulan terakhir. (RM)