Krisis Kredibilitas Elite Inggris setelah Skandal Epstein
-
Peter Mandelson, mantan Duta Besar Inggris di AS
Pars Today - Penyebaran dokumen terbaru terkait kasus Jeffrey Epstein (miliarder yang terkenal dengan perdagangan seks) di Amerika Serikat dan dampaknya yang langsung dirasakan di London telah mengangkat nama-nama terkemuka ke permukaan berita dan memicu seruan untuk pertanggungjawaban, yang kini telah berubah menjadi pukulan berat terhadap kredibilitas elite politik dan struktur kekuasaan di Inggris.
Menurut laporan pada Selasa (03/02/2026) pagi IRNA, Kepolisian Metropolitan London mengumumkan bahwa mereka telah menerima beberapa laporan tentang dugaan penyalahgunaan jabatan dan sedang dalam tahap peninjauan awal untuk menentukan apakah kasus ini akan berlanjut ke proses penyelidikan kriminal resmi.
Reaksi ini muncul setelah publikasi dokumen baru terkait kasus Epstein di AS, yang mengungkapkan bahwa nama Peter Mandelson, mantan Duta Besar Inggris di AS, kembali muncul di media Inggris dan memicu pertanyaan baru mengenai hubungan dan keterlibatannya dalam kasus ini.
Di sisi AS, Departemen Kehakiman AS mengumumkan bahwa mereka telah memulai publikasi dokumen terkait kasus Epstein sejak 30 Januari, yang mencakup lebih dari 6 juta halaman dokumen, lebih dari 3 juta halaman di antaranya bersama lebih dari 2.000 video dan 180.000 gambar. Namun, proses ini juga memunculkan masalah baru, di mana beberapa file yang dipublikasikan sementara dihapus karena kekhawatiran data pribadi korban belum sepenuhnya disensor.
Pejabat AS menyatakan bahwa file yang bermasalah segera dihapus dan setelah ditinjau kembali, versi yang telah diperbaiki akan dipublikasikan. Isu ini menghidupkan kembali diskusi lama mengenai sejauh mana klaim transparansi Barat diterapkan, dan siapa yang benar-benar membayar harga tertinggi dalam praktik ini.
Korban dan pengacara mereka menyatakan bahwa meskipun publik menginginkan kejelasan tentang peran jaringan kekuasaan dalam kasus ini, publikasi yang tidak lengkap dapat merugikan korban lebih lanjut dan menempatkan mereka dalam tekanan sosial dan media.
Reaksi terhadap masalah ini di London lebih terkait dengan nama Mandelson. Laporan yang diterbitkan di media Inggris mengungkapkan bahwa dokumen baru itu berisi korespondensi dan informasi keuangan yang kini telah menjadi masalah politik dan kehormatan dalam negeri Inggris dan membawa institusi resmi ke dalamnya.
Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris dalam reaksinya yang mengangkat masalah ini dari kontroversi media menjadi krisis politik meminta Mandelson untuk mundur dari posisinya di Dewan Bangsawan Inggris, sekaligus membahas reformasi mekanisme disiplin dalam lembaga ini.
Sementara itu, laporan menunjukkan bahwa pejabat administratif tertinggi pemerintah Inggris di Kantor Perdana Menteri telah ditugaskan untuk memeriksa klaim terkait kinerja masa lalu Mandelson selama masa jabatannya. Di kalangan politikus London, muncul pertanyaan apakah kasus ini dapat mencapai tingkat tuduhan penyalahgunaan jabatan publik atau tidak.
Dokumen baru ini juga kembali menyoroti nama Andrew Mountbatten-Windsor, saudara Raja Inggris yang sekali lagi disebut dalam kaitannya dengan Epstein. Baru-baru ini, dengan terungkapnya dokumen baru, tekanan media dan politik untuk mengusut keterlibatannya meningkat, bahkan Perdana Menteri Inggris menyatakan bahwa dia harus memberi kesaksian di depan komite Kongres AS tentang hubungannya dengan kasus Epstein.
Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa pengacara korban mengajukan klaim baru dan mendesak agar kasus ini ditindaklanjuti dengan lebih serius.
Sensitivitas London terhadap yang berkaitan dengan kerajaan dalam kasus ini muncul karena setiap kali nama-nama yang dekat dengan kekuasaan terkait dengan tuduhan penyalahgunaan dan hubungan tersembunyi, jurang antara pernyataan resmi tentang standar moral dan kenyataan yang mencuat menjadi semakin jelas.
Secara keseluruhan, kasus Epstein di Inggris kini bukan lagi sekadar berita impor panas, melainkan menjadi bagian dari serangkaian skandal berulang dan janji reformasi yang gagal. Gelombang dokumen baru di AS terus mengisi halaman utama, dengan pertarungan terkait perlindungan korban dan debat politik mengenai transparansi.
Namun, di London, tekanan untuk pertanggungjawaban semakin tinggi, dan Kepolisian Metropolitan menyatakan bahwa saat ini masih dalam tahap evaluasi awal dan belum ada penyelidikan kriminal resmi.
Ketidakpastian ini telah menyebabkan gelombang berita dan tekanan opini publik bergerak lebih cepat daripada respons resmi, mengubah kasus ini dari skandal individu menjadi krisis kredibilitas bagi elit Inggris.(sl)