Kemarahan Saudi terhadap Mesir
Berlanjutnya sikap independen Mesir dalam menyikapi krisis Suriah memicu reaksi keras Raja Salman bin Abdul Aziz yang memutuskan untuk membekukan seluruh kesepakatan yang telah dicapai antara Riyadh dan Kairo.
Salah satu strategi utama Arab Saudi di Timur Tengah adalah menggiring negara-negara Arab supaya mengamini kebijakan Riyadh dalam masalah kawasan. Dukungan Mesir terhadap sepak terjang Saudi sangat penting bagi Riyadh. Meskipun Kairo saat ini membutuhkan dana besar, termasuk dari Riyadh, tapi Mesir memilih bersikap independen dan tidak mengekor dikte Riyadh.
Puncak sikap Mesir tersebut berbuah penentangan keras Kairo terhadap kebijakan Arab Saudi dalam krisis Suriah. Mesir secara resmi menyatakan menentang intervensi asing dalam masalah internal negara Arab yang dilanda perang itu. Ketika Riyadh menyampaikan kekecewaannya atas pembebasan Aleppo dari cengkeraman kelompok teroris, pemerintah Mesir secara resmi menyampaikan selamat kepada Suriah atas pembebasan kota penting Suriah itu.
Friksi antara Arab Saudi dan Mesir sangat kentara dalam pertemuan Liga Arab pada 19 Desember 2016. Arab Saudi dan sekutunya kembali menyampaikan kekhawatirannya menyikapi kondisi kemanusiaan di Aleppo dan melanjutkan sikap menentang pemerintah Suriah.
Sebaliknya, Mesir justru mengungkapkan dukungannya terhadap Damaskus. Sameh Shoukry, menteri luar negeri Mesir dalam sidang Liga Arab menegaskan urgensi mempertahankan teritorial Suriah. Menurutnya, kondisi buruk kota Aleppo sebagai akibat dari kegagalan publik internasional dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap penyelesaian politik krisis Suriah.
Menlu Mesir juga menyerukan supaya publik dunia menghentikan pertempuran bersenjata di Suriah, dan meretas solusi politik bagi penyelesaian krisis di negara Arab itu. Sameh Shoukry secara tidak langsung menyebut Arab Saudi sebagai salah satu aktor yang memainkan peran penting dalam konflik bersenjata di Suriah.
Friksi antara Arab Saudi dan Mesir telah dimulai sejak dua bulan lalu. Tapi mencapai puncaknya ketika Mesir menyampaikan sikap independen dalam masalah Suriah di sidang Liga Arab. Sikap Kairo tersebut memicu kemarahan Raja Salman yang mereaksi dengan menginstruksikan penghentikan seluruh kesepakatan yang telah dicapai negaranya dengan Mesir. Riyadh mengira dengan keputusan barunya itu bisa menekan Kairo supaya mengamini dikte Saudi dalam masalah Suriah.
Pada April lalu, kedua negara menandatangani 17 nota kesepahaman dan dokumen kerja sama di bidang listrik, perumahan, energi nuklir, pertanian, perdagangan dan industri. Keputusan baru Raja Salman diambil di saat sebelumnya Riyadh juga memutus bantuan minyak Aramco terhadap Mesir.
Kebijakan politik luar negeri Mesir dalam menyikapi krisis Suriah menunjukkan pandangan realistis Kairo. Mesir paham benar stabilitas dalam negeri tidak akan terwujud dengan keterlibatan Kairo dalam urusan internal negara lain di kawasan. Sebaliknya, seluruh negara kawasan harus bekerja sama untuk mewujudkan stabilitas regional.