Siapakah Pemuda Ini?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i29680-siapakah_pemuda_ini
Karavan haji dari Kufah bergerak menuju Mekah. Malam, gelap, angin dan rasa dingin, membuat karavan berpencar. Mata tidak bisa melihat mata. Hammad bin Habib di padang sahara itu tersesat dan melanjutkan perjalanannya tanpa arah dan tujuan.
(last modified 2026-01-05T09:58:27+00:00 )
Des 31, 2016 20:09 Asia/Jakarta
  • Imam Sajjad as
    Imam Sajjad as

Karavan haji dari Kufah bergerak menuju Mekah. Malam, gelap, angin dan rasa dingin, membuat karavan berpencar. Mata tidak bisa melihat mata. Hammad bin Habib di padang sahara itu tersesat dan melanjutkan perjalanannya tanpa arah dan tujuan.

Akhirnya di padang sahara tanpa air dan rerumputan itu dia sendirian bernaung di bawah sebuah pohon. Kondisi sudah sangat gelap dan tiba-tiba matanya tertuju pada seorang pemuda berpakaian putih dan berbau harum. Hammad berpikir, ia salah melihat. Tapi ternyata tidak, dia benar-benar melihat.

 

Pemuda itu memiliki wajah yang bercahaya. Hammad penasaran, apa tujuan kedatangan pemuda ini di sisi pohon. Pemuda ini sedang siap untuk mengerjakan salat dan bermunajat:

 

“Ya Allah! Dengan kekuatan-Mu, Engkau menguasai segalanya. Berikan padaku keindahan mengingat-Mu dan jadikan aku sebagai pengikut-Mu.”

 

Kemudian pemuda itu berdiri dan mengerjakan salat. Pemuda ini tidak bergerak dalam waktu yang lama, dan Hammad tahu bahwa ada sebuah mata air jernih memancar dari tempat pemuda ini. Hammad sekarang yakin bahwa dia sedang berada di sisi salah satu wali Allah. Diapun berwudhu dan berdiri mengerjakan salat di belakang pemuda ini. Dia mendengar munajat pemuda ini. Setiap kali pemuda ini sampai pada ayat yang menjelaskan tentang pahala atau azab ilahi, mengulangnya dengan suara tangisan dan kesedihan. Munajat ini berlanjut sampai mendekati subuh dan pemuda itu dalam munajatnya mengatakan:

 

“Ya Allah! Kegelapan malam telah berakhir. Tapi aku belum mendapatkan upah dari-Mu dan di lautan munajat-Mu aku belum sampai pada sebuah balasan. Sampaikan salam untuk Muhammad dan berikan padaku apa yang lebih baik...”

 

Kemudian pemuda itu mengakhiri salatnya. Hammad menggunakan kesempatan dan maju bertanya, “Hai lelaki mulia! Engkau bermunajat kepada Tuhanmu demikian, maka mintakan padanya agar menunjukkan jalan padaku. Karena aku sedang menjalani safar haji, sementara aku telah kehilangan jalanku.”

 

Pemuda itu berkata, “Bila engkau bertawakal kepada Allah, maka engkau tidak akan tersesat. Sekarang mari bersamaku!”

 

Kemudian pemuda itu memegang tangan Hammad dan bergerak dengan kecepatan yang sungguh menakjubkan. Begitu subuh tiba, pemuda itu kepadanya berkata, “Hai lelaki! sekarang kita sudah berada di Mekah.”

 

Hammad mendengar suara riuh orang-orang dan melihat sebuah jalan. Dia tidak percaya atas apa yang disaksikannya. Oleh karena itu dia menghadap kepada pemuda itu dan berkata, “Demi Allah! Katakan padaku, siapakah engkau?”

 

Pemuda itu berkata, “Karena engkau telah bersumpah, aku katakatan bahwa aku adalah Ali bin Husein.”

 

Engkau adalah Penggantiku

 

Imam Husein as sebelum mencapai syahadah, mendapatkan tugas dari Allah untuk mengenalkan putranya Imam Sajjad as sebagai penggantinya. Oleh karena itu, pada hari Asyura beliau memanggil putranya dan menyampaikan kata-kata dan pesan terakhirnya, seraya berkata, “Putraku! Atas kehendak Allah, engkau tidak akan berperang melawan para musuh. Aku telah memilihmu sebagai penggantiku...”

 

Kemudian menyerahkan Asma Allah dan warisan para nabi kepadanya dan melanjutkan, “Setelah engkau kembali ke Madinah, temuilah Ummu Salamah dan ambillah ilmu-ilmu ilahi, Quran dan pedang yang aku titipkan padanya dan selesaikanlah urusan umat Islam...”

 

Dari sejak saat itu, Imam Zainul Abidin secara sembunyi-sembunyi dan dengan berbagai kesulitan mengarahkan dan membimbing masyarakat dan sampai akhir usianya, kenangan musibah tragedi Asyura tetap hidup di sisinya.

 

Ayahku Sajjad

 

Imam Muhammad Baqir as berkata, “Ayahku Ali bin Husein, setiap kali teringat sebuah nikmat dari nikmat-nikmat ilahi, maka beliau langsung bersujud. Setiap kali musibah yang akan menimpa beliau tertolak atau tipu daya musuh tidak berpengaruh, maka beliau langsung bersujud. Setiap kali selesai mengerjakan salat wajib, beliau bersujud syukur. Setiap kali terjadi perdamaian antara dua orang, beliau mengerjakan sujud syukur, sehingga bekas sujud tampak di dahi, sikut dan kedua telapak tangan serta kedua lututnya. Oleh karena itu, beliau digelari Sajjad.”

 

Apakah Engkau Akan Mengazabku?

 

Ali Zainal Abidin adalah seorang imam yang karena banyaknya beribadah disebut sebagai Zainul Abidin [hiasan orang-orang yang beribadah] dan karena sujudnya yang lama, beliau disebut pelaku sujud [Sajjad]. Selain Shahifah Sajjadiyah, yang merupakan kumpulan doa-doa irfaninya, beliau juga meninggalkan banyak doa yang masing-masing dari sisi kandungan termasuk pengetahuan yang terkaya. Meski demikian, ketika beliau berdoa dan bermunajat, sedemikian rupa bermunajat seakan-akan merasa ketakutan pada akibat perbuatannya.

 

Dinukil dari Abu Hamzah Syumali, “Suatu malam saya melihat Imam Zainul Abidin berdiri mengerjakan salat di dekat kabah. Beliau begitu lama berdiri dimana sewaktu-waktu berat badannya diletakkan pada kaki kanannya dan sewaktu-waktu pada kaki kirinya. Dan saya mendengar dengan suaranya yang sendu mengatakan:

 

“Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan mengazabku, sementara kecintaan pada-Mu ada di hatiku. Demi kemuliaan-Mu! Bila Engkau lakukan demikian, maka Engkau telah menetapkan aku bersama orang-orang yang lama memusuhimu...”

 

Lelaki Ini Adalah Ali bin Husein

 

Pada masa khilafah Abdul Malik bin Marwan, putranya bernama Hisyam pergi haji. Ketika dia melakukan thawaf tidak ada seorang pun yang perhatian padanya. Di masjidil Haram disediakan sebuah mimbar untuk Hisyam. Dia naik ke atas mimbar dan beberapa orang penduduk Syam mengelilingi mimbar itu. Pada saat itu Imam Zainul Abidin masuk ke dalam masjid mengerjakan thawaf. Ketika sampai di hajarul aswad, masyarakat minggir memberikan jalan supaya Imam Zainal Abidin menyelesaikan thawafnya. Melihat pemandangan ini, Hisyam tidak suka. Salah satu orang yang mengelilingi mimbar Hisyam, bertanya kepadanya, “Hai Hisyam, siapakah lelaki tampan dan bercahaya itu, sehingga masyarakat benar-benar menghormatinya?”

 

Hisyam menjawab, “Aku tidak tahu.”

 

Farazdaq seorang penyair yang mencintai Ahlul Bait Rasulullah Saw berkata, “Hai Hisyam, engkau lebih mengetahuinya daripada aku dimana lelaki ini adalah Sayyidus Sajidin Ali bin Husein as.”

 

Kemudian melanjutkan beberapa bait syair tentang Imam Zainul Abidin. Hisyam marah dan memerintahkan agar Farazdaq dimasukkan ke dalam penjara. Berita ini sampai ke telinga Imam Zainul Abidin. Beliau mengirim banyak uang untuk Farazdaq dan mengirim pesan, uang ini sebagai hadiah keberanianmu. Namun Farazdaq mengembalikan uang itu dan mengirim pesan, “Saya melakukan hal ini karena Allah dan Rasul-Nya. Saya membaca syair untuk mendapatkan ridha Allah, bukan untuk mendapatkan hadiah.”

Imam Zainul Abidin mengirim kembali uang itu dan mengirim pesan, “Terimalah hadiah ini karena aku.” Farazdaq kali ini menerima uang tersebut. (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Sajjad a