Mengapa Trump Kembali Mengancam India?
-
Narendra Modi dan Donald Trump
Pars Today – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam India dengan tarif tambahan.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan India bahwa ia mungkin akan mengenakan tarif perdagangan tambahan terhadap negara itu menyusul pembelian minyak Rusia. Trump mengatakan kepada wartawan di pesawat kepresidenan AS pada hari Minggu (04/01/2026) bahwa Amerika Serikat dapat meningkatkan tarif terhadap India jika India tidak mematuhi tuntutan AS untuk membatasi pembelian minyak Rusia.
Presiden AS mengatakan, "Modi [Perdana Menteri India] adalah orang yang baik. Dia tahu bahwa saya tidak senang dan penting baginya untuk menyenangkan saya."
Menanggapi pertanyaan tentang pembelian minyak Rusia oleh India, Trump mengatakan, "Mereka berbisnis dan kita dapat meningkatkan tarif terhadap mereka dengan sangat cepat."
Kementerian Perdagangan India tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Amerika Serikat menggandakan tarif barang-barang India menjadi 50 persen tahun lalu sebagai hukuman atas pembelian minyak Rusia dalam jumlah besar oleh India. Meskipun tarifnya tinggi, ekspor India ke Amerika Serikat dilaporkan meningkat pada November 2025.
Kini, Trump, yang telah kecanduan menggunakan kekuatan semi-keras, yaitu kekuatan ekonomi dalam bentuk pemberlakuan tarif perdagangan, sekali lagi mengancam India dengan tarif yang tinggi. Hal ini tampaknya berakar pada hubungan ekonomi dan geopolitik yang kompleks antara Washington dan New Delhi.
Setelah pecahnya perang Ukraina pada tahun 2022, India menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Rusia yang murah. Dari perspektif AS, langkah ini dilihat sebagai pelemahan sanksi Barat terhadap Moskow dan membantu membiayai perang Rusia.
Akibatnya, pemerintahan Trump memutuskan untuk memberikan tekanan ekonomi pada ekspor India dengan memberlakukan tarif tinggi pada barang-barang India untuk memaksa New Delhi mengurangi ketergantungannya pada minyak Rusia.
Tarif baru AS, yang telah mencapai 50%, menargetkan berbagai ekspor India, termasuk tekstil, perhiasan, karpet, barang kulit, furnitur, dan bahan kimia. Sektor-sektor ini sebagian besar padat karya dan bergantung pada tenaga kerja murah, dan ekspor mereka ke AS bernilai puluhan miliar dolar.
Para ahli telah memperingatkan bahwa tarif itu dapat membahayakan ratusan ribu pekerjaan di India. Di sisi lain, beberapa industri, seperti farmasi, yang memainkan peran kunci dalam memasok obat-obatan murah ke pasar AS, saat ini dikecualikan dari tarif ini.
Alasan Trump untuk langkah ini tidak terbatas pada minyak Rusia. AS juga khawatir tentang perluasan hubungan pertahanan dan ekonomi India dengan Rusia. Washington melihat kesepakatan senjata dan kerja sama energi antara kedua negara sebagai ancaman terhadap tatanan global yang dipimpin AS.
Selain itu, Trump mencoba mengirimkan pesan yang jelas kepada negara-negara lain bahwa kerja sama ekonomi apa pun dengan Rusia akan mahal.
Tentu saja, ancaman Trump, terutama pengenaan tarif tinggi pada barang-barang India dan tekanan untuk mengurangi pembelian minyak Rusia, adalah kenyataan yang tidak dapat diabaikan oleh India. Tindakan ini menunjukkan bahwa Washington tidak senang dengan hubungan energi dan pertahanan India dengan Rusia, memandangnya sebagai semacam dukungan tidak langsung untuk perang di Ukraina.
Namun, India berada dalam posisi di mana ia tidak dapat sepenuhnya menjauhkan diri dari Rusia. Alasan pertama adalah kebutuhan mendesak akan senjata dan suku cadang Rusia, yang tidak memiliki pengganti yang cepat dan murah di pasar global. Alasan kedua adalah India telah menghemat miliaran dolar dengan membeli minyak Rusia yang murah dalam beberapa tahun terakhir, yang telah membantu perekonomian negaranya.
Konsekuensi dari keputusan Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap India berlapis-lapis.
Pertama, hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan India, yang sebelumnya mencapai lebih dari $200 miliar per tahun, menghadapi bahaya serius. Penurunan ekspor India ke Amerika Serikat dapat memberikan peluang bagi pesaing regional seperti Vietnam, Bangladesh, dan Pakistan untuk menggantikan barang-barang India di pasar Amerika.
Kedua, langkah ini dapat merusak kepercayaan politik antara kedua negara. India, yang menganggap dirinya sebagai mitra strategis Amerika melawan Tiongkok, mungkin melihat tekanan ini sebagai tanda ketidakstabilan dalam hubungan dan bergerak menuju penguatan kerja sama lebih lanjut dengan Rusia dan bahkan Tiongkok.
Ketiga, konsekuensi sosial di India juga signifikan; Mulai dari pengangguran yang meluas di industri pengguna hingga meningkatnya tekanan pada pemerintahan Narendra Modi, yang sedang mengejar kebijakan swasembada ekonomi.
Terakhir, ancaman Trump untuk menaikkan tarif menunjukkan penggunaan instrumen ekonomi sebagai senjata geopolitik. Meskipun kebijakan ini dapat menekan India dalam jangka pendek, dalam jangka panjang hal itu berisiko melemahkan hubungan strategis Amerika dengan salah satu sekutu Asia terpentingnya.
India, yang menekankan kebutuhan vitalnya akan energi murah dan mempertahankan kemerdekaan kebijakan luar negerinya, kemungkinan besar tidak akan mudah berhenti membeli minyak Rusia.
Oleh karena itu, krisis perdagangan ini dapat menjadi salah satu titik ketegangan yang berkelanjutan dalam hubungan antara kedua negara. Sementara itu, India telah secara signifikan memperluas hubungannya dengan Tiongkok dan Rusia sebagai respons terhadap tindakan permusuhan Trump, terutama peningkatan tarif perdagangan.(sl)