Pengulangan Pernyataan Intervensionis Presiden AS; Apakah Trump Peduli pada Rakyat Iran?
https://parstoday.ir/id/news/world-i183634-pengulangan_pernyataan_intervensionis_presiden_as_apakah_trump_peduli_pada_rakyat_iran
Presiden Amerika Serikat kembali mengulangi pernyataan-pernyataan intervensionisnya terhadap Republik Islam Iran menyusul peristiwa-peristiwa terbaru.
(last modified 2026-01-05T09:58:27+00:00 )
Jan 05, 2026 18:57 Asia/Jakarta
  • Pengulangan Pernyataan Intervensionis Presiden AS; Apakah Trump Peduli pada Rakyat Iran?

Presiden Amerika Serikat kembali mengulangi pernyataan-pernyataan intervensionisnya terhadap Republik Islam Iran menyusul peristiwa-peristiwa terbaru.

Tehran, Parstoday- Ketika para pejabat Republik Islam Iran menegaskan pentingnya mendengarkan suara para pengunjuk rasa, Donald Trump pada Ahad, 4 Januari, dalam percakapannya dengan para wartawan di pesawat kepresidenan AS, kembali memperingatkan Iran terkait penggunaan kekerasan terhadap para demonstran. Dalam beberapa hari terakhir, menyusul fluktuasi harga—terutama nilai tukar mata uang—dan kondisi ekonomi, sejumlah aksi protes terjadi di Iran.

Pernyataan intervensionis Donald Trump tersebut disampaikan di saat para pejabat Republik Islam Iran, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa penghormatan terhadap rakyat dan mendengarkan tuntutan mereka merupakan prinsip utama dalam tata kelola pemerintahan.

Trump sebelumnya juga telah mempublikasikan pernyataan dukungan terhadap para pengunjuk rasa di Iran melalui platform media sosialnya, Truth Social. Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS juga mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran dengan dalih upaya pembangunan kembali fasilitas nuklir dan penguatan kemampuan rudal pascaperang 12 hari, serta dengan dalih mendukung para demonstran di Iran.

Menanggapi klaim dan ancaman Presiden AS tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menyebut pernyataan Trump sebagai “ceroboh dan berbahaya”. Ia mengatakan bahwa sikap tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang menentang diplomasi atau menganggapnya tidak perlu. Araghchi menegaskan bahwa bangsa besar Iran, sebagaimana di masa lalu, akan dengan tegas menolak segala bentuk campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka. Ia juga menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga dan mengetahui secara tepat target yang akan disasar apabila kedaulatan Iran dilanggar.

Klaim terbaru Trump yang mengatasnamakan dukungan terhadap rakyat Iran disampaikan oleh sosok yang, setelah keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA pada Mei 2018, menerapkan kebijakan tekanan maksimum dan menjatuhkan sanksi paling luas terhadap Iran. Pada masa jabatan keduanya, ia kembali menjalankan kampanye tekanan maksimum dan, dengan dukungan langsung terhadap rezim Zionis dalam perang 12 hari, terlibat dalam pemboman fasilitas nuklir Iran. Tampaknya tujuan utama pernyataan terbaru Trump adalah memicu ketidakstabilan, mendorong berlanjutnya aksi protes, serta menghasut tindakan kekerasan dan perusakan.

Pada saat yang sama, pernyataan Presiden AS mengenai kepeduliannya terhadap rakyat Iran tidak dapat dipisahkan dari rekam jejak kebijakan dan perilakunya terhadap Iran. Ketika seseorang yang selama masa jabatannya berulang kali menjatuhkan tekanan ekonomi, politik, bahkan ancaman militer terhadap suatu bangsa, kemudian mengklaim dirinya peduli, klaim tersebut lebih menyerupai kontradiksi nyata daripada sikap yang tulus. Menilai klaim ini menuntut peninjauan kembali catatan kebijakannya terhadap Iran.

Selama masa kepresidenannya, Trump menjalankan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran. Kebijakan ini mencakup sanksi ekonomi luas yang tidak hanya menargetkan pemerintah Iran, tetapi juga kehidupan sehari-hari rakyat. Sanksi tersebut menyebabkan penurunan tajam nilai mata uang nasional, keterbatasan akses terhadap obat-obatan dan kebutuhan pokok, serta meningkatnya kesulitan ekonomi bagi jutaan warga Iran. Bagaimana mungkin seseorang yang merancang dan menerapkan kebijakan semacam itu kini mengklaim dirinya peduli terhadap rakyat Iran? Kepedulian sejati tidak sejalan dengan tekanan dan perampasan kebutuhan dasar hidup.

Di sisi lain, dalam kebijakan luar negerinya, Trump secara konsisten berpihak pada Israel. Dukungan tanpa syaratnya terhadap tindakan Israel di kawasan—termasuk ancaman dan serangan terhadap Iran—menunjukkan bahwa kepeduliannya bukan tertuju pada rakyat Iran, melainkan pada kepentingan sekutu regional Amerika Serikat. Keselarasan dengan Israel dalam menekan Iran, khususnya di bidang militer, secara nyata mengancam keamanan dan ketenangan rakyat Iran. Dengan demikian, klaim kepedulian Trump lebih menyerupai alat propaganda dan politik ketimbang sebuah realitas.

Pernyataan-pernyataan intervensionis Trump juga mencerminkan pandangan yang tidak tulus terhadap bangsa Iran. Ia berulang kali berupaya menciptakan jurang antara rakyat dan pemerintah Iran untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan Washington. Ucapan semacam ini bukan lahir dari kepedulian, melainkan dari upaya mencapai tujuan politik dan geopolitik Amerika Serikat di kawasan. Kepedulian sejati menuntut penghormatan terhadap kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri bangsa-bangsa, bukan campur tangan dalam urusan internal mereka.

Poin penting lainnya adalah kecenderungan Trump menggunakan bahasa ancaman. Ancaman serangan militer atau peningkatan sanksi tidak pernah dapat dianggap sebagai tanda kepedulian. Pendekatan semacam itu hanya menambah tekanan psikologis dan ekonomi terhadap rakyat serta menciptakan suasana ketidakstabilan. Jika Trump benar-benar peduli terhadap rakyat Iran, seharusnya ia memilih jalur dialog dan keterlibatan konstruktif, bukan ancaman dan sanksi.

Secara keseluruhan, klaim Trump tentang kepeduliannya terhadap rakyat Iran bertentangan sepenuhnya dengan rekam jejaknya. Kebijakan tekanan maksimum, keberpihakan pada Israel dalam ancaman terhadap Iran, serta pernyataan-pernyataan intervensionis menunjukkan bahwa tujuan utamanya bukanlah mendukung rakyat Iran, melainkan memajukan kepentingan politik dan ekonomi Amerika Serikat beserta sekutunya. Oleh karena itu, klaim tersebut lebih tepat dipandang sebagai pertunjukan politik dalam kerangka tujuan hegemonik Amerika daripada sebagai sikap kemanusiaan yang jujur.(PH)