Amar Makruf Dan Nahi Munkar
-
Imam Shadiq as
Abu Bashir salah seorang sahabat Imam Shadiq as mengatakan, “Saya bertanya kepada Imam tentang ayat ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu... (QS. Tahrim: 6)
Saya dengan segala usaha; minimal bisa menjaga diri saya dari api neraka dengan menjauhi dosa. Lalu terkait anggota rumah saya, apa yang harus saya lakukan?”
Imam Shadiq as berkata, “Engkau perintahkan anggota rumah dan keluargamu pada apa yang diperintahkan Allah dan laranglah mereka dari apa yang dilarang Allah. Bila mereka menaati, maka engkau telah menjaga mereka dari api neraka. Bila mereka tidak menaati, maka engkau telah menjalankan tugasmu. Oleh karena itu, cukup engkau lakukan amar makruf dan nahi munkar saja pada mereka.”
Akal Atau Parameter Pahala
Suatu hari Sulaiman Dailami berkata kepada Imam Shadiq as, “Si fulan dalam hal ibadah, keberagamaan dan nilai-nilai kemanusiaan begini dan begitu.”
Imam Shadiq as berkata, “Bagaimana dengan akalnya?”
Sulaiman berkata, “Saya tidak tahu.”
Imam berkata, “Pahala manusia sebatas mereka.” Kemudian beliau menceritakan sebuah kisah:
Seorang dari Bani Israil hidup dan beribadah kepada Allah di salah satu pulau yang subur dan penuh dengan air dan pepohonan. Suatu hari seorang malaikat melewati pulau itu dan berkata kepada Allah, “Ya Allah! Katakan berapa besarnya pahala hamba ini? Allah menunjukkan pahala orang itu kepada malaikat. Dengan takjub malaikat melihat pahala orang itu sangat sedikit [padahal malaikat tidak tahu apa rahasianya]. Allah mewahyukan kepadanya, “Tinggallah bersama dia selama beberapa hari!”
Malaikat berubah menjadi bentuk manusia dan pergi menemui hamba tersebut.
Orang yang ahli ibadah itu bertanya kepada malaikat, “Siapakah engkau?”
Malaikat menjawab, “Aku sama seperti engkau sebagai hamba yang ahli ibadah. Karena aku tahu kadar ibadahmu, aku mendatangimu untuk bersama-sama beribadah kepada Allah.”
Setelah beberapa hari bersamanya, malaikat berkata kepadanya, “Betapa bersihnya tempatmu dan bagus hanya untuk beribadah.”
Orang itu berkata, “Di sini ada satu aib.”
Malaikat berkata, “Apakah aib itu?”
Orang itu berkata, “Tuhan kita tidak punya hewan berkaki empat, bila Dia punya keledai, maka semua rerumputan yang engkau lihat di sini tidak akan punah.”
Allah mewahyukan kepada malaikat, “Sekarang engkau tahu mengapa Aku memberikan pahala sedikit? Karena aku akan memberi pahala pada setiap orang sebatas akalnya.”
Rasulullah Saw bersabda, “Ketika dikabarkan kepada kalian tentang kebaikan seseorang, maka lihatlah dengan baik akalnya. Karena pahala seseorang tergantung pada kadar akhlaknya.”
Maknanya Akal
Salah seorang sahabat Imam Shadiq as bertanya kepada beliau, “Apakah akal itu?”
Imam Shadiq as menjawab, “Akal adalah sesuatu yang dengan perantaranya, Allah disembah dan surga didapatkan.”
Dia bertanya, “Lalu, apakah yang dimiliki Muawiyah bukan akal?”
Imam menjawab, “Itu adalah tipu muslihat dan kejahatan yang kelihatannya sebagai akal, tapi pada hakikatnya tidak demikian.”
Celakalah Orang Yang Meninggalkan Perdagangan dan Kerja
Imam Shadiq as menanyakan kondisi salah satu sahabatnya Umar bin Muslim. Dikabarkan kepada beliau, “Dia sibuk beribadah dan meninggalkan perdagangan.”
Imam Shadiq as berkata, “Celakalah dia. Apakah dia tidak tahu bahwa doa orang yang meninggalkan perdagangan dan kerja tidak akan dikabulkan?!”
Dalam buku ‘Awali al-Laali disebutkan, Rasulullah Saw bersabda, “Aku adalah musuh orang yang mulutnya dibuka menghadap Allah dan mengatakan “Ya Allah! Berikanlah rezeki padaku” tapi dia meninggalkan kerja, usaha dan perdagangan.”
Kikir Dan Rakus
Dia adalah sahabat Imam Shadiq as. Suatu malam ketika melakukan thawaf kabah, dia melihat Imam Shadiq as dalam thawaf senantiasa mengatakan, “Ya Allah jagalah aku dari kikir dan rakus!”
Kepada Imam Shadiq as dia berkata, “Sejak awal malam sampai selesai, apakah Anda tidak berdoa lainnya, selain doa ini?”
Imam Shadiq as berkata, “Apakah ada yang lebih buruk dari kikir dan rakus dimana Allah berfirman, “Beruntunglah orang-orang yang menjaga dirinya dari kekikiran.” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq a