Kematianmu Mematahkan Punggungku
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32093-kematianmu_mematahkan_punggungku
Imam Husein benar-benar sedih setelah penguburan kakaknya, Imam Hasan as.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 31, 2017 12:41 Asia/Jakarta
  • Imam Hasan as
    Imam Hasan as

Imam Husein benar-benar sedih setelah penguburan kakaknya, Imam Hasan as.

Beliau meratap, “...Bagaimana aku bisa melupakan kejauhanmu? Aku akan menangis karena kepergianmu selama masih ada burung yang terbang di langit, angin berhembus dari utara ke selatan dan dari selatan ke utara. Mataku tidak akan kering dari air mata, selama ranting di pohon-pohon Hijaz masih menghijau. Tangisanku berlangsung lama dan air mataku akan mengalir. Engkau jauh dan kuburanmu dekat. Engkau asing dan orang yang masih tertinggal tidak gembira berbeda dengan orang yang pergi. Orang yang terampas bukan orang yang dirampas harta kekayaannya. Orang yang terampas adalah orang yang saudaranya dikubur di dalam tanah...

Semoga Tuhanmu merahmatimu, hai Aba Muhammad. Kehidupanmu menyebabkan kemuliaan. Kematianmu mematahkan punggung. Betapa baiknya ruhmu, ruh terhormat yang ada di dalam tubuhmu dan betapa baiknya tubuhmu, tubuh yang saat ini ada di dalam kafan...”

Kematian Juga Akan Mendatangimu

Begitu kabar syahadah Imam Hasan as sampai di telinga Muawiyah, saking senangnya ia mengucapkan takbir dan melakukan sujud syukur. Orang-orang sekitar Muawiyah juga seperti dia menunjukkan kegembiraannya; mengucapkan takbir dan bersujud syukur.

Istri Muawiyah; Fakhitah, begitu melihat kegembiraan Muawiyah, berkata, “Hai Muawiyah! Ada apa sehingga engkau menunjukkan kegembiraan seperti ini?!”

Muawiyah berkata, “Mereka telah menyampaikan kabar kematian Hasan bin Ali.”

Mendengar kabar itu, Fakhitah menangis dan berkata, “Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Rajiun. Demi Allah! Pemimpin umat Islam dan anaknya putri Rasulullah telah meninggal dunia.”

Sedangkan Muawiyah lebih senang menunjukkan kegembiraannya pada yang lainnya. Begitu Ibnu Abbas datang menemui Muawiyah, kepadanya ia berkata, “Ibnu Abbas! Apakah Abu Muhammad; Hasan bin Ali meninggal dunia?!”

Ibnu Abbas berkata, “Semoga Allah merahmatinya. Aku tahu bahwa engkau mengetahui bahwa Hasan bin Ali telah dibunuh. Aku juga mendengar kisah ucapan takbir dan sujud syukurmu. Hai Muawiyah! Hati-hatilah bahwa engkau juga tidak akan selamat dari kematian. Terlambat atau cepat, kematian juga akan mendatangimu...”

Berduka Untuk Imam Hasan as

Setelah kematian Imam Hasan as, dua kota suci di Hijaz; Mekah dan Madinah libur selama tujuh hari dan para wanita Bani Hasyim berduka selama satu bulan. Selain itu, masyarakat khususnya para wanita, sampai satu tahun tidak mau memakai baju baru dan perhiasan.

Di Irak, masyarakat dua kota penting; Kufah dan Basra menyelenggarakan majlis duka selama beberapa hari. Penguasa kota Basra menyampaikan kabar menyedihkan ini kepada masyarakat. Mendengar berita ini, masyarakat menangis tersedu-sedu. Setelah itu para pemuka pengikut Ahlul Bait Rasulullah Saw berkumpul dan menulis surat untuk Imam Husein as. Dalam surat itu, selain menyampaikan belasungkawa kepada Imam Husein, juga meminta beliau untuk mengambil baiat dari masyarakat sebagai pengganti Imam Hasan as.

Pemberi Syafaat Di Hari Kiamat

Imam Shadiq as menukil dari ayahnya; Imam Baqir as berkata, “Imam Husein as setiap malam Jumat menziarahi kuburan Imam Hasan as.”

Suatu Hari Imam Hasan as berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah! Apakah pahala orang yang menziarahi kami?”

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menziarahiku saat aku masih hidup atau setelah kematianku atau ayahmu, saudaramu dan engkau sendiri, maka seyogyanya bagiku untuk menyelamatkannya pada Hari Kiamat dari kejadian-kejadian para hari itu.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Hasan as