Konferensi Parlemen Arab dan Nasib Palestina
-
Ahmed Aboul-Gheit
Sekjen Liga Arab, Ahmed Aboul-Gheit mengkritik kontradiksi sikap pemerintah baru Amerika Serikat terkait isu-isu dunia Arab.
Ahmed Aboul-Gheit Sabtu (11/2) di acara pembukaan konferensi parlemen Arab di Kairo mengatakan, “Kami menyaksikan indikasi kontradiksi di pemerintah baru Amerika Serikat dan kami memilih untuk menunggu dan memantau peristiwa selanjutnya.” Ia menambahkan, saat ini masih terlalu dini untuk menilai seluruh kinerja dan sikap pemerintah baru Amerika terkait dunia Arab. Sekjen Liga Arab menambahkan bahwa sejumlah kasus sangat mengkhawatirkan terkait isu Palestina masih tetap eksis.
Konferensi parlemen Arab digelar di Kairo sejak hari Sabtu dan peserta di sidang ini mengkaji kondisi kawasan dan agresi rezim Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, peran parlemen Arab dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina mengambil hak-hak mereka yang terampas, serta pembentukan pemerintah independen Palestina dengan ibukota al-Quds.
Para peserta konferensi dijadwalkan menyusun dokumen dan menyerahkan kepada pemimpin Arab yang akan menghadiri KTT ke 28 Liga Arab di Yordania (bulan Maret mendatang). Kebijakan kontradiktif Presiden AS, Donald Trump memicu gambaran buram terkait sikap Washington. Di kondisi seperti ini, berbagai negara seraya mengkritik kebijakan dalam dan luar negeri Amerika yang mengklaim sebagai pemimpin dunia, mengalami ketidakmenentuan dalam menyusun hubungannya dengan Amerika.
Tak diragukan lagi perilaku tak jelas seperti ini terkait isu Palestina juga sangat kentara. Terkait isu Palestina, selama era kampanye presiden, Trump menekankan dukungan terhadap pembangunan distrik Zionis dan relokasi kedubes negara ini dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.
Meski Trump selama beberapa hari terakhir sedikit banyak mulai melunak dari sikap sebelumnya akibat sejumlah peristiwa dan represi publik, namun bagaimana pun juga kebijakan tak jelas dan spontan presiden kontroversial Amerika terkait transformasi regional dan internasional masih memicu kekhawatiran di tingkat kawasan dan global.
Dalam hal ini, sikap pasif pemerintah Arab juga menuai kritik opini publik. Kebijakan arogan sejumlah negara Arab dalam mendukung rezim Zionis membuat mereka bukan saja tidak membantu menyelesaikan krisis regional di Suriah, Irak dan Libya, bahkan membuat mereka menjadi unsur yang tidak efisien terkait nasib bangsa Palestina yang menjadi isu utama dunia Islam.
Wajar selama negara-negara Arab dan organisasi di bawah mereka seperti Liga Arab tidak mengejar kebijakan transparan dan kebijakan mereka mengikuti keputusan Amerika, maka tidak bisa diharapkan mereka akan memainkan peran konstruktif di konstelasi regional dan internasional.
Sejumlah pemimpin Arab cenderung memberi dukungan kepada kelompok teroris dan mengobarkan krisis di Suriah, Irak dan Yaman ketimbang menindaklanjuti isu-isu penting dunia Islam, khususnya nasib Palestina. (MF)