Pahala Menangis Karena Takut Kepada Allah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32827-pahala_menangis_karena_takut_kepada_allah
Imam Baqir as berkata, “Bila air mata berlinang di mata, maka haram bagi api mengenai wajah itu.”
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 13, 2017 11:00 Asia/Jakarta
  • Imam Shadiq as
    Imam Shadiq as

Imam Baqir as berkata, “Bila air mata berlinang di mata, maka haram bagi api mengenai wajah itu.”

“Dan bila air mata itu mengalir ke wajah, maka pada Hari Kiamat kepayahan dan kehinaan tidak sampai padanya.”

Kemudian beliau berkata, “Untuk segala hal ada balasan dan pahalanya. Kecuali air mata, dia adalah kaffarah atau tebusannya lautan dosa.

Selanjutnya beliau berkata, “Bila dalam sebuah perkumpulan ada seorang yang menangis, maka karena berkah orang itu, Allah mengharamkan badan mereka untuk masuk ke dalam api neraka.”

Beberapa Wejangan

Imam Muhammad Baqir as berkata, “Allah menyembunyikan tigal hal pada tiga hal; keridhaan-Nya berada pada ketaatan-Nya. Untuk itu jangan meremehkan ketaatan sekecil apapun, karena boleh jadi keridhaan Allah ada di dalamnya.

Kedua, kemarahan-Nya tersembunyi dalam maksiat-Nya. Oleh karena itu, jangan meremehkan maksiat apapun, karena boleh jadi kemarahan-Nya ada di dalamnya.

Ketiga, Allah menyembunyikan para wali-Nya pada makhluk. Untuk itu jangan meremehkan siapapun, karena boleh jadi dia adalah wali Allah.

Dan Imam berkata kepada anak-anaknya, “Anakku, ketika Allah memberikan nikmat kepadamu, maka ucapkanlah Alhamdulillah. Bila ada sebuah perkara yang membuatmu sedih, maka ucapkanlah La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.”

“Dan bila rezekimu berkurang, maka ucapkanlah Astaghfirullah.”

Seorang Lelaki Ahli Surga

Dari nukil dari Hakam bin Utaibah bahwa dia berkata, “Kami berada bersama Imam Muhammad Baqir as dan rumahnya penuh orang. Tiba-tiba datang seorang lelaki tua dan berdiri di samping pintu ruangan dan berkata:

“Assalamu’alaika Ya Ibna Rasulillah Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh, dan dia kemudian diam.

Imam Baqir as menjawab, “Wa’alaikassalam Wa Ramatullahi Wa Barakatuh.”

Kemudian lelaki tua itu tahu akan kehadiran orang-orang yang ada di situ. Dia berkata, “Assalamu’alaikum, dan kemudian diam sampai ketika orang-orang yang hadir menjawab salamnya. Pada saat itu dia menghadap kepada Imam Baqir as dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Aku jadi tebusanmu. Beri aku tempat di sisimu. Demi Allah, aku mencintaimu dan mencintai orang yang mencintaimu. Dan kecintaan ini bukan karena rakus pada dunia dan aku memusuhi orang yang memusuhimu dan aku benci padanya. Ini bukan karena permusuhan pribadi antara aku dan dia. Aku bersumpah, aku menilai halal apa yang engkau nilai halal dan aku menilai haram apa yang engkau nilai haram. Aku menjadi tebusanmu. Apakah engkau punya harapan rahmat ilahi untukku?

Kemudian Imam Baqir as berkata, “Kesinilah! Imam mempersilahkan duduk lelaki tua itu di sampingnya. Kemudian berkata:

“Hai syeikh! Seorang lelaki datang kepada ayahku Ali bin Husein as dan bertanya seperti pertanyaanmu. Pada waktu itu ayahku berkata kepadanya, “Bila engkau meninggal dunia, maka engkau akan masuk bertemu Rasulullah Saw, Ali, Hasan, Husein dan Ali bin Husein dan engkau akan gembira. Begitu ruhmu sampai di tenggorokan, maka ruh dan raihan bersama Kiramal Katibin menyambutmu.”

Saking gembiranya, lelaki tua ini meminta Imam Baqir untuk mengulangi kata-kata tersebut. Kemudian lelaki tua ini mengatakan, “Allahu Akbar. Wahai Abu Ja’far [Imam Baqir], bila aku meninggal dunia, aku akan masuk bertemu Rasulullah, Ali, Hasan, Husein dan Ali bin Husein? Aku akan gembira? Ruh dan raihan bersama Kiramal Katibin akan menyambutku? Kemudian dia menangis tersedu-sedu.

Pada saat itu orang-orang yang hadir di situ juga ikut menangis dan Imam Baqir as mengusap air mata lelaki tua ini.

Kemudian lelaki tua ini mengangkat kepalanya dan berkata kepada Imam Baqir as, “Wahai putra Rasulullah! Berikan tanganmu padaku. Dia mencium tangan Imam Baqir dan menariknya ke mata dan wajahnya, kemudian dia menarik bajunya sendiri dari belakang dan mengusapkan tangan Imam Baqir dada dan perutnya. Kemudian dia bangkit dan pamitan pergi. Imam Baqir memperhatikannya dari belakang dan berkata, “Barang siapa yang ingin melihat seorang lelaki ahli surga, maka lihatlah lelaki tua ini.”

Tenggelam Dalam Salat

Dikabarkan bahwa ketika Imam Baqir as berdiri untuk mengerjakan salat, wajahnya berubah; kadang menjadi merah dan kadang menjadi kuning.

Ketika salat beliau begitu menjaga penghormatan dan tata krama di hadapan Allah sehingga semua orang tahu. Keagungan Allah dalam salatnya benar-benar meliputi wujudnya, sehingga wajahnya berubah dan tubuhnya bergetar.

Munajat

Imam Shadiq as menceritakan tentang ibadah ayahnya:

“Aku selalu menghamparkan tempat tidur ayahku dan aku menunggunya sampai beliau datang. Suatu malam kedatangan ayah terlambat. Aku mencari beliau ke masjid. Di masjid tidak ada seorangpun. Aku hanya melihat ayahku berada di sudut masjid. Beliau sedang bersujud dan dalam keadaan menangis dan bermunajat. Aku mendengarkan munajatnya demikian:

“Ya Allah. Engkau Maha Suci dan Maha Terpuji. Sembahanku, Aku memuji-Mu atas dasar penghambaan. Perbuatan dan ibadahku hanya sedikit. Untuk itu lipatgandakanlah [ibadahku] itu untukku.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Muhammad Baqir as