5. Kisah-Kisah Penuh Pelajaran Tentang Kedua Ayah Dan Ibu (5)
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i33170-5._kisah_kisah_penuh_pelajaran_tentang_kedua_ayah_dan_ibu_(5)
Pemuda Dan Ibu Yang Lumpuh Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Ibu saya sudah tua dan lumpuh. Saya memanggulnya dan menyuapinya. Ketika saya membersihkan kotorannya, saya memalingkan wajah saya demi menghormatinya. Apakah saya sudah memenuhi haknya?”
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Feb 19, 2017 12:52 Asia/Jakarta
  • Anak dan ibu
    Anak dan ibu

Pemuda Dan Ibu Yang Lumpuh Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Ibu saya sudah tua dan lumpuh. Saya memanggulnya dan menyuapinya. Ketika saya membersihkan kotorannya, saya memalingkan wajah saya demi menghormatinya. Apakah saya sudah memenuhi haknya?”

Rasulullah Saw berkata, “Tidak. Karena dalam beberapa waktu perutnya sebagai tempatmu. Dari susunya tersiapkan makanan dan minumanmu. Tangan dan kakinya sebagai penjagamu dan selama ini ia mengharapkan kelanggengan hidupmu. Sementara dalam masa pengabdian ini engkau mengharapkan kematiannya supaya engkau segera nyaman.” (Gonahan-e Kabireh, jilid 1, hal 138)

Imam Sajjad as dan Ibu

Imam Sajjad as tidak pernah makan sepiring dengan ibunya. Beliau berkata, “Saya takut menjulurkan tangan untuk sesuap makanan yang dimaukan ibu saya. Sehingga dengan perbuatan ini saya tidak menghormati beliau.” (Gonahan-e Kabireh, jilid 1, hal 148)

Orang Yang Tidak Diridhai Ibunya, Mati Dalam Keadaan Bisu

Seorang lelaki sedang sekarat menghadapi kematian. Dia dituntun untuk membaca dua kalimat syahadat, namun tidak bisa mengucapkannya. Kejadian ini dikabarkan kepada Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Panggillah ibunya!”

Ketika ibunya menemui Rasulullah Saw, beliau berkata, “Apakah engkau sakit hati pada anakmu?”

Dia berkata, “Putraku sangat menyayangiku. Dia banyak berbuat baik padaku dan menanyakan kondisiku. Namun ketika dia sudah berkeluarga, dia telah melupakan aku dan menyalahkan aku.”

Rasulullah Saw berkata, “Bilal! Siapkan api dan bakarlah pemuda ini!”

Begitu ibunya melihat kejadian ini, dia bertanya, “Untuk apa?”

Rasulullah Saw berkata, “Untuk aku tunjukkan kepadamu; bagaimana dia dibakar dengan api neraka bila dia mati dan engkau tidak meridhainya.”

Ibunya berkata, “Aku telah menjadikan Allah, Rasulullah dan semua malaikat sebagai saksi bahwa aku sudah meridhai anakku.”

Kemudian Rasulullah berkata kepada Bilal, “Sekarang tuntunlah dia untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.”

Bilal menjalankan perintah Rasulullah dan menuntun pemuda itu untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Tiba-tiba dia bisa mulutnya terbuka dan dengan suara keras mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسوُلُ الله

(Rah-e Takamol, jilid 6, hal 154)

Akibat Menghormati Ayah Dan Ibu Dan Perhatian Imam Husein as

Seorang ulama; almarhum Syeikh Husein Masykur berkata, “Saya bermimpi pergi berziarah ke makam Sayidus Syuhada [Imam Husein as] dan seorang pemuda Arab juga datang dan dengan tersenyum, dia mengucapkan salam kepada Imam Husein as. Imam Husein pun menjawab salamnya dengan tersenyum.

Besok malamnya yakni malam Jumat, saya datang ke makam Imam Husein as dan saya berhenti di sebuah sudut. Tiba-tiba ada seorang pemuda Arab yang saya lihat di dalam mimpi, datang. Ketika dia mendekati makam Imam Husein, dia mengucapkan salam sambil tersenyum, tapi saya tidak melihat Imam Husein as. Saya memperhatikan pemuda Arab itu sampai dia keluar dari makam Imam. Saya membuntutinya dan menanyakan sebab senyumannya kepada Imam Husein.

Saya menceritakan mimpi yang saya alami kepadanya dan saya berkata, “Apa yang engkau lakukan sehingga Imam Husein menjawab salammu dengan tersenyum?”

Dia berkata, “Saya punya ayah dan ibu yang sudah tua. Kami tinggal sejauh beberapa farskh dari Karbala. Setiap malam Jumat saya datang untuk menziarahi makam Imam Husein. Malam Jumat ini aku membawa ayahku untuk berziarah dengan aku naikkan di atas keledai, dan malam Jumat berikutnya aku membawa ibuku. Pada malam Jumat giliran ayahku, ketika aku menaikkannya ke atas keledai, ibuku menangis seraya berkata, “Bawalah aku, mungkin minggu depan aku sudah tidak hidup lagi.”

Aku berkata, “Sekarang hujan dan suhunya dingin dan sulit.”

Beliau tidak menerima. Terpaksa aku harus menaikkan ayah di atas keledai dan aku memanggul ibuku dan dengan segala kerepotan aku membawa mereka ke makam Imam Husein as. Karena aku masuk ke dalam area makam dalam kondisi seperti itu, Aku bisa melihat Imam Husein dan aku mengucapkan salam kepadanya. Beliau tersenyum kepadaku dan menjawab salamku. Dari sejak saat itu, sampai sekarang, setiap malam Jumat ketika aku datang, Aku melihat Imam Husein dan dengan tersenyum beliau menjawab salamku.”

Dari kisah ini, bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang bisa menjadikan seseorang mendapatkan perhatian para pembesar agama, dan berhasil mengambil hati dan keridhaan mereka adalah kejujuran, keikhlasan dan kecintaan serta pengabdian kepada orang-orang yang beriman khusunya pada kedua ayah dan ibu. (Dastanha-ye Shegeft. Dastan-e 87)

Akibat Mengirim Kebaikan Pada Ayah

Ustad Ahmad Amin mengatakan bahwa salah seorang ulama menceritakan kepada saya, “Setiap kali aku menghadapi masalah dan kepepet dalam masalah ekonomi, aku pergi ke kuburan ayahku dan membaca beberapa surat al-Quran. Kemudian Allah memudahkan urusanku dan memperbanyak rezekiku. (Rah-e Takamol, jilid 6, hal 145-146)

Berbakti Kepada Ayah Bermafaat Untuk Hari Kiamat

Ibrahim bin Syuaib mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Ja’far Shadiq as, “Ayahku benar-benar sudah tua dan lemah sedemikian rupa sehingga aku menggendongnya untuk buang hajat.”

Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Bila engkau sendiri bisa melakukan hal ini, gunakanlah kesempatan ini. Lakukanlah dengan tanganmu sendiri, akan bermanfaat bagimu di Hari Kiamat.” (Rah-e Takamol, jilid 6, hal 176)

Pengaruh Berbakti Kepada Ibu Dalam Keimanan Kepada Allah

Saya punya seorang teman yang sudah lama tidak bertemu. Suatu hari saya menemuinya dan ternyata dia sudah berubah. Dia tidak lagi mau salat dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama. Sebagai kewajiban saya, saya nasihati dia dan saya ajak kembali untuk bertakwa dan beriman.

Kejadian di atas sudah berlalu. Suatu hari saya menemuinya di makam Kazhimain sedang mengerjakan salat. Saya mendekatinya. Setelah mengucapkan salam dan saling menanyakan kondisi masing-masing, dia mengatakan bahwa setiap hari Jumat datang berziarah dan hanya pada hari itu saja dia mengerjakan salat.

Saya menggunakan kesempatan yang ada dan menasihatinya kembali. Saya membacakan beberapa bait syair dengan tujuan memberikan semangat kepadanya. Sampai pada filsafat salat juga saya sampaikan kepadanya bahwa salat bisa membersihkan kotoran batin manusia dan menjauhkan setan yang bak darah mengalir dalam tubuh manusia serta menjaga manusia dari godaannya. Kesimpulannya, salat tidak membiarkan hati manusia menjadi gelap karena banyaknya dosa. Karena dosa akan menutup pintu-pintu langit di hadapan manusia. Setelah saya menjelaskan panjang lebar, kami berdua berpisah.

Setelah beberapa lama saya menemuinya kembali. Dia mengundang saya untuk makan siang di rumahnya. Saya pun menerima undangannya. Ketika saya sampai di rumahnya, saudaranya menyambut dan menjamu saya. Saya berkata, “Dimanakah temanku?”

Dia menjawab, “Dia pergi ke masjid di dekat rumah kami untuk mengerjakan salat Zuhur.”

Setelah beberapa menit dia datang dan menghadap ke saya dan berkata, “Seandainya saja aku tidak memiliki nikmat apapun dari nikmat-nikmat Allah, kecuali bila aku bisa mensyukurinya.”

Di sela-sela pembicarannya, saya memahami bahwa dia punya ibu yang tua dan lumpuh dan setiap malam dia memanggulnya ke atas atap rumah dan paginya dia bawah kembali turun, dan dengan segala kesenangan dan niat yang baik, dia mengabdi kepada ibunya.

Pada saat itu saya paham bahwa sebab dia mendapatkan hidayah adalah pengabdiannya kepada ibunya sehingga saat ini dia memiliki iman yang sedemikan rupa. (Rah-e Takamol, jilid 6, hal 176) (Emi Nur Hayati) 

Sumber: Hak Kedua Ayah dan Ibu serta Anak