Zat Yang Paling Mendengar Di Antara Para Pendengar
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i33338-zat_yang_paling_mendengar_di_antara_para_pendengar
Imam Shadiq as berkata, “Nabi Daud as pada hari Arafah melihat banyak orang di padang Arafah yang sedang berdoa dan bermunajat kepada Allah. Beliau memisahkan diri dari orang-orang dan naik ke atas gunung Arafah. Di sana beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah.
(last modified 2026-03-28T18:01:20+00:00 )
Feb 22, 2017 18:04 Asia/Jakarta
  • Imam Shadiq as
    Imam Shadiq as

Imam Shadiq as berkata, “Nabi Daud as pada hari Arafah melihat banyak orang di padang Arafah yang sedang berdoa dan bermunajat kepada Allah. Beliau memisahkan diri dari orang-orang dan naik ke atas gunung Arafah. Di sana beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah.

Setelah selesai berdoa, malaikat Jibril turun kepadanya dan berkata, “Allah berfirman, “Mengapa engkau pergi ke atas gunung? Seakan-akan Aku tidak mendengar suara orang-orang.”

Kemudian malaikat Jibril membawa Nabi Daud as ke tepi laut Jeddah dan membawanya ke dasar lautan yang paling dalam. Jarak kedalamannya sama seperti orang berjalan di atas bumi selama empat puluh hari.

Di dasar lautan itu Nabi Daud as melihat sebuah batu dan memecahnya, di antara pecahan batu itu ada seekor ulat.

Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Daud as, “Allah berfirman, “Aku mendengar suara ulat ini yang berada di kedalaman lautan di tengah-tengah batu ini. Apakah engkau beranggapan bahwa suara hamba-hamba-Ku yang memohon pada-Ku dari mana saja tidak Ku-dengar?!”

Posisi Pengabdian Kepada Ahlul Bait Rasulullah Saw

Dinukil dari Imam Jawad as bahwa Imam Shadiq as memiliki seekor kuda. Setiap kali ke masjid, beliau menunggangi kuda itu. Imam Shadiq as punya seorang budak yang menjaga kuda itu di sisi masjid. Suatu hari seorang lelaki warga Khorasan datang mendekati budak tersebut dan berkata, “Kuda ini milik siapa dan siapa nama majikanmu?”

Dia menjawab, “Aku adalah budaknya Imam Shadiq as dan kuda ini adalah milik beliau.”

Kepada budak tersebut lelaki Khorasan itu berkata, “Mungkinkah engkau bertransaksi denganku? Aku berikan semua kekayaanku padamu dan engkau berikan pekerjaanmu padaku. Aku punya harta yang banyak sekali mulai dari desa dan ladang. Akan kutulis, ambillah semua hartaku dan berikan padaku pekerjaanmu. Aku sebagai budak dan engkau merdeka.”

Budak berkata, “Aku harus meminta izin kepada majikanku terlebih dahulu.” Begitu Imam Shadiq as keluar dari masjid, seperti biasanya beliau menunggangi kudanya dan budaknya mendampinginya sampai ke rumah. Sang budak mendekati Imam Shadiq dan berkata, “Saya sudah lama mengabdi kepada Anda dan saya tidak merasa kesulitan dalam pengabdian ini. Sekarang bila ada kesempatan bagus, apakah Anda akan mempersulit terkait masalah itu?”

Imam Shadiq as berkata, “Tidak. Aku tidak akan mempersulit, bahkan akan membantumu.”

Sang budak berkata, “Seorang lelaki Khorasan datang dan berkata demikian.” Kemudian dia menceritakan kejadian yang ada.

Imam Shadiq as berkata, “Terserah kamu. Bila engkau ingin, maka pergilah. Engkau merdeka.”

Sang budak berkata, “Maksud saya adalah bermusyawarah dengan Anda. Kemaslahatan saya ada pada apa?”

Imam Shadiq as berkata, “Engkau sudah lama di sini, ada keakraban dan kecintaan di antara kita. Aku perlu menasihatimu; kalau orang lelaki ini rela menukar kemerdekaannya menjadi budak dan menyerahkan semua harta kekayaannya dan meninggalkan kota dan negerinya, dan menerima untuk mengabdi sebagai seorang budak, dia tidak gila. Tapi dia adalah seorang lelaki yang mulia dan besar serta beriman. Ketika Hari Kiamat tiba, Rasulullah Saw bergabung pada cahaya  kasih sayang ilahi. Ali as juga Sayidah Khadijah, para pemimpin agama dan para imam maksum semuanya berkumpul bersama. Para pengikut dan pengabdi mereka juga bersama mereka dan setiap posisi yang mereka miliki di dunia, di alam akhiratpun mereka akan bekerja sesuai dengan posisi tersebut dan hubungan yang ada selama ini akan tetap ada.

Sang budak berpikir sejenak dan berkata, “Wahai putra Rasulullah, saya tidak akan pergi dan saya tidak akan menyerahkan posisi ini dengan harga apapun.”

Keajaiban Penciptaan

Imam Shadiq as berkata kepad Mufaddhal; salah satu muridnya, “Hai Mufaddhal! Pikirkan tentang kecerdasan yang diberikan oleh Allah kepada hewan-hewan untuk kepentingan dan kemaslahatan mereka, supaya semua makhluk-Nya memanfaatkan pemberian-Nya.”

Kemudian Imam shadiq as menjelaskan tiga contoh hewan:

1. Hai Mufaddhal! Lihatlah penciptaan kijang! Di sela-sela rumput yang dimakannya, terkadang dia menelan ular yang menyebabkan dia benar-benar kehausan. Kemudian dia pergi ke tepi air. Dia mengerang karena kehausan. Tapi dia tidak akan minum air. Karena dia tahu, kalau dia minum air, maka racun ular itu akan merasuk ke dalam tubuhnya dan menyebabkan dia mati. Dia benar-benar menahan kehausan ini dimana manusia tidak mampu menahannya. Sesungguhnya, siapakah yang memberikan kecerdasan pada kijang ini?”

2. Hai Mufaddhal! Pikirkan tentang penciptaan rubah! Ketika rubah kelaparan, dia akan kembung dan pura-pura mati. Burung akan menganggap dia mati. Ketika burung menghinggapinya untuk memakannya, rubah langsung melompat dan menerkamnya.

Rubah termasuk hewan yang tidak mampu memburu. Allah telah memberikan kecerdasan dan tipu muslihat padanya supaya dia bisa menebus ketidakmampuannya dalam memburu.

3. Adapun terkait penciptaan babi laut. Pertama dia membunuh ikan, kemudian menjadikannya beberapa potong dan mengeluarkan air dari tubuhnya ikan. Dia meletakkan ikan di permukaan air dan dia sendiri sembunyi di bawah ikan. Ketika burung datang menghampiri potongan-potongan ikan, babi langsung melompat dan menerkam burung.

Untuk itu berpikirlah tentang penciptaan-penciptaan ini dan pahamilah kebesaran Allah.

Jawaban Imam Shadiq as Untuk Khalifah Muqtadir

Manshur Dawaniqi khalifah diktator kedua Abbasiyah menulis surat untuk Imam Shadiq as, “Mengapa engkau tidak datang kepada kami sebagaimana masyarakat umumnya?”

Imam Shadiq as menulis jawaban surat itu, “Aku tidak punya alasan untuk takut kepadamu. Engkau tidak punya urusan akhirat yang bisa aku harapkan. Engkau tidak punya nikmat yang bisa kuucapkan selamat untuknya. Engkau tidak melihat apa yang engkau miliki sebenarnya musibah sehingga aku sampaikan belasungkawa. Oleh karena itu, buat apa aku harus datang kepadamu?”

Manshur kembali menjawab surat Imam Shadiq as, “Berkumpullah bersama kami, supaya engkau nasihati kami.”

Imam Shadiq as menjawab suratnya, “Orang yang menginginkan dunia tidak akan menasihatimu, dan orang yang menginginkan akhirat tidak akan berkumpul bersamamu.”  (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as