Ufuk Baru Hubugan Mesir dan Iran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i33490-ufuk_baru_hubugan_mesir_dan_iran
Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry membenarkan adannya kontak antara Kairo dan Tehran untuk menjalin hubungan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 25, 2017 11:56 Asia/Jakarta
  • Menlu Mesir, Sameh Shoukry
    Menlu Mesir, Sameh Shoukry

Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry membenarkan adannya kontak antara Kairo dan Tehran untuk menjalin hubungan.

Sameh Shoukry saat sidang bersama anggota komite hubungan luar negeri parlemen negara ini Kamis (23/2) membenarkan adanya sejumlah kontak antara Kairo dan Tehran. “Republik Islam Iran anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).” Menlu Mesir juga menekankan penghormatan penuh Kairo terhadap bangsa Iran serta menambahkan, kedua pihak berusaha memperkokoh hubungan.

 

Selama empat dekade terakhir, hubungan dua negara Mesir dan Republik Islam Iran berada di level terendah. Hal ini sedikit banyak dipicu oleh kebijakan kedua negara dalam menyikapi rezim Zionis Israel. Iran sama sekali tidak mengakui secara resmi eksistensi rezim Zionis dan menyebutnya sebagai rezim ilegal. Sementara Mesir sejak thun 1979 menandatangani perjanjian Camp David dengan Israel untuk memperluas hubungan damai dengan rezim ilegal ini.

 

Oleh karena itu, Republik Islam Iran yang menetapkan dukungan terhadap cita-cita bangsa Palestina sebagai salah satu kebijakan utama luar negerinya, pada tahun 1979 memutus hubungan dengan Mesir sebagai bentuk protes atas perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel.

 

Seiring berlalunya waktu, Mesir dan Iran berusaha memulihkan hubungan di antara mereka, namun hal ini masih belum sukses. Salah satu dalih berlanjutnya pemutusan hubungan Tehran dan Kairo berkaitan dengan kasuh bahwa sejumlah negara Arab termasuk Arab Saudi serta kekuatan Barat dan Israel memanfaatkan kendala yang dialami Mesir khususnya krisis ekonomi untuk mencegah terjalinnya hubungan negara ini dengan Iran.

 

Dengan kata lain, ketika Mesir pernah tercatat sebagai kekuatan besar Arab, selama beberapa dekade negara ini gagal menerapkan kebijakan independen dan harus memperhatikan kepentingan negara ketiga ketika ingin menjalin hubungan dengan negara lain termasuk dengan Republik Islam Iran.

 

Pasca revolusi 2011 dan dukungan Republik Islam Iran terhadap revolusi rakyat Mesir, berbagai upaya telah diambil untuk menjalin hubungan kedua negara, di mana lawatan presiden Mesir saat itu, Mohammad Morsi ke Tehran juga dalam koridor ini. Namun akibat represi Arab Saudi dan kekuatan Barat, hubungan Kairo dan Tehran masih tetap terputus. Hal ini dipicu Arab Saudi yang menentang hal ini dan Riyadh ingin Kairo tetap menjadi sekutunya. Penerapan hubungan Iran dan Mesir dapat memperlemah posisi Arab Saudi di kawasan.

 

Selama satu tahun terakhir, ketika kedua negara berusaha menghidupkan kembali hubungan di antara mereka, hubungan diplomatik Mesir dan Arab Saudi berada di level terendah. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa apa yang mendorong sejumlah kotak antara Mesir dan Iran adalah menurunnya intervensi Arab Saudi di urusan internal dan kebijakan luar negeri Mesir.

 

Meski sampai kini hubungan Tehran dan Kairo belum terjalin, namun seiring dengan menurunnya intervensi kekuatan asing khususnya Arab Saudi di kebijakan luar negeri Mesir, diharapkan hubungan Mesir dan Iran dapat dihidupkan kembali dalam waktu dekat. (MF)