Besarnya Balasan Memberikan Petunjuk
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i34314-besarnya_balasan_memberikan_petunjuk
Imam Shadiq as dalam sebuah riwayat panjang mengatakan:
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 12, 2017 09:31 Asia/Jakarta
  • Imam Shadiq as
    Imam Shadiq as

Imam Shadiq as dalam sebuah riwayat panjang mengatakan:

“Di kalangan Bani Israil ada seorang ahli ibadah yang digoda setan. Dia dipaksa pergi untuk pergi ke rumah seorang wanita tuna susila supaya berzina dengannya.

Wanita itu berkata kepadanya, “Meninggalkan dosa lebih mudah dari bertaubat. Karena belum tentu setiap taubat pasti diterima.”

Dua kalimat wanita ini membuat lelaki ahli ibadah itu mengurungkan niatnya. Kebetulan malam itu juga wanita tuna susila ini meninggal dunia. Ketika sudah pagi, masyarakat melihat bahwa di atas rumah wanita ini tertulis, “Masuklah ke rumah si fulan dan angkatlah jenazahnya, dia adalah ahli surga.”

Masyarakat mengalami keraguan. Selama tiga hari jenazah wanita ini tidak ada yang mengambil karena keraguan yang ada. Allah Swt mewahyukan kepada salah satu nabi Bani Israil, yaitu Nabi Musa as, pergilah ke rumah wanita itu dan salatilah jenazahnya dan perintahkan kepada masyarakat untuk mensalati jenazah jenazahnya, Aku telah mengampuninya dan aku wajibkan baginya masuk surga. Karena dia telah membuat hamba-Ku tidak jadi berbuat dosa.

Sahabat Hakiki Imam Shadiq as

Dia adalah sahabat Imam Shadiq as. Suatu hari dia bertanya kepada Imam Shadiq, “Karena kami ada hubungan dengan Anda, kami menjadi tersiksa oleh para pezalim.”

Imam Shadiq as, “Bagaimana?”

Dia berkata, “Ketika kami ingin berbicara dengan seseorang, dia mengatakan, “Hai pengikut Jakfari kotor!”

Imam Shadiq as berkata, “Masyarakat menghina kalian karena kecintaan kalian kepada kami. Tapi demi Allah! Hanya sedikit saja di antara kalian yang benar-benar sebagai pengikut Jakfari. Sahabatku adalah prang-orang yang suci, bertakwa dan teguh, menaati Allah dan berharap pada pahala-Nya. Iya, sahabatku adalah orang-orang semacam ini!”

Permusuhan Manshur Dawaniqi Terhadap Imam Shadiq as

Suatu malam, Manshur Dawaniqi berkata kepada menterinya, “Datangkahlah Shadiq di tempat yang sepi. Aku ingin memusnahkannya.”

Sang menteri berkata, “Dia sedang sibuk beribadah di Kufah. Meminta dia dengan cara semacam ini tidak benar.”

Manshur yang congkak tidak menerima dan memerintahkan untuk menangkap Imam Shadiq as. Kepada budaknya dia berkata, “Ketika dia sampai di sini, bila aku melepas topiku, maka seranglah dan bunuhlah dia!”

Secara paksa Imam Shadiq as dibawa ke istana Manshur. Imam masuk ke istana Manshur, dan Manshur sangat menghormatinya seraya berkata, “Apa yang Anda perlukan sehingga saya penuhi?”

Imam Shadiq as berkata, “Keperluanku adalah jangan engkau bawa aku kepadamu, dan biarkan aku sibuk beribadah.”

Manshur dengan segala kehormatannya memerintahkan agar kepulangan Imam Shadiq disiapkan. Kemudian, dia pingsan karena badannya gemetaran. Setelah siuman, sang menteri mengatakan kepadanya, “Apa yang Anda alami sehingga demikian?”

Manshur mengatakan, “Begitu Jakfar Shadiq datang ke sini, melihat di sisinya ada sebuah naga yang bibir bagian bawahnya ada di bawah gedung dan bibir bagian atasnya ada di bagian atas gedung dan berkata, “Bila engkau menciderai Imam Shadiq as maka aku akan menelanmu sekaligus istana ini. Aku gemetaran karena takut pada naga dan aku menghormati Imam dan membebaskannya kemudian aku tidak sadar.

Meski Manshur sering melihat peristiwa penuh pelajaran, namun dia tetap menyakiti dan mengganggu Imam Shadiq as.

Balasan Berani Berbuat Dosa

Imam Shadiq as berkata, “Sejumlah orang telah berbuat dosa, tapi mereka merasa ketakutan akan akibatnya. Sejumlah orang lainnya melihat mereka dan berkata, “Ada apa kalian merasa ketakutan?”

Mereka menjawab, “Kami telah berbuat dosa dan kami takut kepada Allah.”

Sejumlah orang yang congkak itu berkata, “Tenang saja, dosa kalian ada di pundak kami. Kami yang menanggung dosa kalian.”

Allah berfirman, “Mereka [kelompok yang pertama] takut akan dosa dan mereka [kelompok kedua] berani berbuat dosa. Kemudian Allah mengirim azab untuk kelompok yang kedua dan membinasakan mereka.

Musafir Tak Dikenal

Imam Shadiq as menceritakan tentang Imam Zainul Abidin demikian:

“Beliau tidak bepergian kecuali dengan orang-orang yang tidak mengenalnya dan memberikan syarat kepada mereka agar mengizinkan beliau untuk ikut membantu pekerjaan yang ada. Ketika beliau pergi bersama sebuah rombongan, di tengah perjalanan ada yang mengenal beliau. kepada teman-temannya orang ini berkata, “Tahukah kalian siapakah bapak ini?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Dikatakan, “Beliau adalah Ali bin Husein Zainul Abidin.

Mereka datang mendekati beliau dan mencium kakinya seraya berkata, “Wahai putra Rasulullah! Bila tanpa sengaja kami berbuat sesuatu atau tidak sopan terhadap Anda, apakah Anda membayangkan bahwa kami harus terbakar di dalam neraka untuk selamanya? Apa yang menyebabkan Anda tidak mengenalkan diri kepada kami?”

Imam Zainul Abidin berkata, “Beberapa waktu yang lalu saya bepergian bersama sejumlah orang yang mengenal saya. Mereka melayani saya demi Rasulullah. Padahal saya tidak memiliki kelayakan untuk itu. Saya khawatir kalian juga akan seperti mereka.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Jakfar Shadiq as