Akhlak Mulia Islam
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i34636-akhlak_mulia_islam
Imam Shadiq as berkata, “Seorang lelaki Kristen di tengah jalan menjadi teman Amirul Mukminin, sementara dia tidak mengenal beliau. Dia bertanya, “Anda mau pergi ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Kufah.”
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Mar 18, 2017 09:28 Asia/Jakarta
  • Imam Shadiq as
    Imam Shadiq as

Imam Shadiq as berkata, “Seorang lelaki Kristen di tengah jalan menjadi teman Amirul Mukminin, sementara dia tidak mengenal beliau. Dia bertanya, “Anda mau pergi ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Kufah.”

Ketika sampai di persimpangan jalan. Orang Kristen ini ingin menempuh jalan lain. Imam Ali mengiringinya sebentar. Dia berkata, “Bukankah Anda mau ke Kufah? Untuk apa Anda lewat jalan ini? Tidakkah Anda tahu bahwa ini bukan jalan menuju Kufah?”

Imam Ali berkata, “Saya tahu, tapi di antara perintah nabi kami tentang persahabatan yang baik adalah membarengi dan mengiringi sahabat. Oleh karena itu saya mengiringimu.”

Lekaki Kristen ini berkata, “Aku tertarik pada akhlak mulia Islam. Saya menjadikan Anda sebagai saksi bahwa saya memeluk Islam.”

Dari situ lelaki ini bersama Imam Ali sampai ke Kufah. Di Kufah dia baru mengenal beliau dan melakukan acara pembacaan dua kalimat syahadah.

Akibat Berakhlak Buruk

Ibnu Sanan menukil dari Imam Shadiq as; dikabarkan kepada Rasulullah Saw bahwa Sa’ad bin Mu’adz meninggal dunia. Rasulullah datang bersama para sahabat dan memerintahkan untuk memandikannya. Beliau berdiri di samping pintu. Setelah acara memandikan dan mengkafani selesai, beliau meletakkan jenazah di atas papan dan menggerakkannya untuk siap dimakamkan. Untuk acara pemakaman, Rasulullah Saw tidak memakai alas kaki dan jubah. Sesekali papan itu dibawa ke arah kanan dan ke arah kiri dan akhirnya sampai ke kuburan.

Rasulullah masuk ke dalam liang lahad dan meletakkannya jenazah. Dengan tangannya sendiri Rasulullah meletakkan batu bata. Di sela-sela batu bata itu dipenuhi tanah liat sehingga kuburan itu tertutup penuh. Kemudian beliau berkata, “Saya tahu bahwa batu bata dan tanah ini akan rusak. Tapi Allah senang bila hamba-Nya melakukan setiap pekerjaan secara kuat.”

Pada saat itu ibunya Sa’ad datang di samping kuburan seraya berkata, “Sa’ad selamat untukmu surga.”

Rasulullah Saw berkata, “Hai ibu! Jangan menyampaikan kabar dari Allah dengan pasti dan yakin seperti ini. Sa’ad sedang mengalami derita dan sakitnya tekanan kubur dan kuburan telah menekan seluruh tubuhnya.”

Rasulullah Saw kembali pulang dan masyarakat juga pulang. Saat kembali mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Pekerjaan yang Anda lakukan terkait acara pemakaman Sa’ad tidak seperti yang sudah dilakukan pada yang lainnya. Anda memakamkannya dengan tanpa alas kaki dan jubah. Sesekali jenazah Anda bawa ke kanan dan sesekali Anda bawa ke kiri.

Rasulullah Saw menjawab, “Malaikat juga tidak memakai alas kaki dan jubah. Aku mengikuti mereka. Karena tanganku berada di tangan Jibril, setiap arah dia membawanya aku juga membawanya.

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Anda telah menyalati jenazahnya dan Anda telah meletakkannya di kuburan dengan tangan Anda sendiri. Anda telah membuat kuburannya. Namun Anda mengatakan bahwa kuburan telah menekannya.”

Beliau berkata, “Iya. Sa’ad agak buruk akhlaknya terhadap keluarganya. Tekanan kubur ini karena keburukan akhlaknya.”

Batas Tetangga

Imam Shadiq as berkata, “Seorang lelaki Anshar datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Saya membeli sebuah rumah di sebuah tempat. Tetangga-tetangga yang paling dekat adalah orang yang saya tidak merasa aman dari keburukannya dan tidak bisa diharapkan kebaikannya.”

Rasulullah Saw memerintahkan Imam Ali, Salman dan Abu Dzar untuk menyampaikan dengan suara keras di masjid, “Tidak beriman orang tidak membuat tetangganya merasa aman dari gangguannya.”

Kemudian beliau berkata, “Umumkan bahwa sampai empat puluh rumah dari empat arah kiri dan kanan, depan dan belakang, terhitung sebagai tetangga.”

Menaati Allah

Syeikh Abi Hazin ibnu Abdul Ghaffar berkata, “Pada zamannya Manshur Dawaniqi, aku bersama Ibrahim Adham datang ke Kufah, dan Jakkfar bin Muhammad terlebih dahulu datang ke Kufah. Hari ketika beliau mau kembali lagi ke Madinah dan keluar dari Kufah, para ulama dan orang-orang pandai mengiringinya. Pada saat itu Ibnu Tsauri dan Ibrahim Adham bergerak lebih dulu. Tiba-tiba dia berhadapan dengan seekor harimau.

Ibrahim Adham berkata, “Berhentilah sampai Jakfar bin Muhammad Saw datang. Kita lihat apa yang akan dilakukannya terhadap harimau ini.”

Ketika Imam Shadiq datang, kejadian yang ada disampaikan kepada beliau dan beliau terus berjalan ke depan mendekati harimau itu. Beliau memegang telinganya dan menjauhkannya dari jalan. Kemudian menghadap kepada orang-orang dan berkata, “Bila masyarakat menaati Allah sebagaimana seharusnya, maka beban-bebannya yang berat bisa dilimpahkan kepada hewan seperti ini.”

Menghindari Sikap Tergesa-gesa

Jarir berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq as bahwa saya bermaksud untuk pergi umrah dan nasihatilah saya.”

Imam Shadiq as berkata, “Takutlah kepada Allah. Hindarilah sikap tergesa-gesa.” Aku minta dinasihati lainnya juga, tapi beliau tidak banyak menyampaikan nasihatnya.

Ketika aku keluar dari Madinah, aku bertemu dengan seorang lelaki Syam yang mau pergi ke Mekah. Kami berdua menjadi sahabat di pertengahan jalan. Di tempat peristirahatan, masing-masing membuka bekal makanan dan makan bersama.

Pada saat itu tersebut nama penduduk Basra. Lelaki Syam ini menjelek-jelekannya. Tersebut juga nama warga Kufah, dia juga mencaci maka mereka. Nama Imam Shadiq juga disebutkan dan dia berkata mengenai Imam Shadiq di luar adab.

Aku marah atas ucapannya. Aku ingin memukul wajahnya.  Bahkan aku berniat untuk membunuhnya. Tapi aku teringat akan nasihat Imam Shadiq as yang berkata kepadaku, “Takutlah kepada Allah dan hindarilah bersikap tergesa-gesa. Oleh karena itu, meski aku mendengar caci makinya, aku tetap menahan diri.

Aku menjaga kemaslahatan dan tidak menunjukkan reaski pada diriku .(Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as