Konspirasi Melakukan Pelanggaran Terhadap Al-Quran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i36080-konspirasi_melakukan_pelanggaran_terhadap_al_quran
Suatu hari empat orang pembesar yang terkenal dari kelompok Dahriun [orang-orang yang mengingkari Allah] berkumpul di Mekah di sisi ka’bah. Mereka adalah Abi Syakir Daisani, Ibnu Abil Auja’, Abdul Malik Bashri dan Ibnu Muqfi’. Setelah berbincang-bincang lama, Ibnu Abil Auja’ mengusulkan:
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Apr 15, 2017 13:02 Asia/Jakarta
  • Imam Shadiq as
    Imam Shadiq as

Suatu hari empat orang pembesar yang terkenal dari kelompok Dahriun [orang-orang yang mengingkari Allah] berkumpul di Mekah di sisi ka’bah. Mereka adalah Abi Syakir Daisani, Ibnu Abil Auja’, Abdul Malik Bashri dan Ibnu Muqfi’. Setelah berbincang-bincang lama, Ibnu Abil Auja’ mengusulkan:

“Kita empat orang harus mengambil keputusan bahwa masing-masing dari kita harus  melakukan pelanggaran terhadap seperempatnya al-Quran dan menolaknya. Untuk pekerjaan ini, kita memerlukan waktu selama satu tahun.”

Mereka semua menyetujui dan pergi. Tahun berikutnya keempat orang ini datang dan berkumpul di sisi ka’bah dan saling menanyakan hasil pekerjaan masing-masing.

Ibnu Abil Auja’ berkata:

“Ketika aku sudah berpisah dari kalian, aku memikirkan tentang ayat ini, “Maka tatkala mereka berputus asa dari pada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik.” Usaha apapun yang kulakukan untuk menguasai kefasihan ayat itu dan aku ganti dengan kalimat lainnya yang lebih bagus, tetap saja aku tidak bisa. Karena memikirkan ayat inilah, sehingga aku tidak ada kesempatan untuk memikirkan ayat lainnya.”

Abdul Malik berkata:

“Aku memikirkan tentang ayat ini, “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” Bagaimanapun aku berusaha untuk membuat ayat yang serupa dengannya, tetap saja aku juga tidak bisa.”

Abu Syakir berkata:

“Dari sejak masa itu sampai sekarang aku sedang memikirkan ayat ini, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” Aku juga tidak punya kemampuan untuk membuat ayat seperti ini.”

Ibnu Muqfi’ berkata:

Hai kawan-kawan! Aku meyakini bahwa kata-kata al-Quran bukan kata-kata manusia dan aku sejak saat itu sampai sekarang sedang memikirkan tentang ayat ini, “[Terkait kejadian topan Nuh] Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan...” Aku tidak bisa mencapai kefasihan dan ketinggian makna ayat ini dan aku tidak menemukan bandingannya.”

Hisyam mengatakan, “Pada saat itu juga Imam Shadiq as lewat dan membaca ayat ini, “Katakanlah; sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

Keempat orang itu saling memandang yang lainnya dan terperangah dan berkata, “Bila Islam memang benar, pemimpinnya tidak lain adalah Jakfar bin Muhammad as. Setiap kali kita melihatnya, kebesaran pemikiran dan wujudnya mempengaruhi kita.” Kemudian mereka berpisah satu sama lainnya sambil mengakui kelemahan dan ketidakmampuannya.

Jangan Bersandar Kepada Selain Allah

Imam Shadiq as berkata, “Ketika Yusuf as dipenjara, Allah mengilhamkan ta’bir mimpi kepadanya dan dia menafsirkan mimpi orang-orang yang dipenjara. Ketika dia dimasukkan ke penjara, hari itu juga ada dua pemuda yang dimasukkan ke penjara. Keesokan harinya mereka mendatangi Yusuf dan berkata, tadi malam kami bermimpi, coba tafsirkan untuk kami. Dia bertanya, kalian mimpi apa?

Yang satu mengatakan, aku bermimpi membawa roti di atas kepala dan sebuah burung memakannya. Yang lainnya berkata, aku memeras airnya anggur. Yusuf menjawab, aku akan menafsirkannya dan akan jelas hakikatnya sebelum makan.

Satu dari kalian akan menjadi orang yang menyediakan minuman untuk raja. Namun yang lain akan digantung di tiang gantungan dan burung-burung akan hinggap di atas kepalanya makan otaknya.

Yang tafsir mimpinya digantung di atas tiang gantungan, berkata, aku bohong. Aku tidak mimpi. Jujur atau bohong tidak lagi ada pengaruhnya. Peristiwa itu akan terjadi sebagaimana yang aku katakan.

Kemudian Nabi Yusuf berkata kepada yang satunya yang akan selamat, sebut namaku juga di sisi raja. Setelah bebas, setan membuat pemuda ini lupa dan tidak menyebut Yusuf di sisi raja. Nabi Yusuf tinggal di penjara selama tujuh tahun lagi. Karena pada waktu itu dia tidak mengingat Allah dan bersandar pada yang lainnya.

Allah menurunkan wahyu untuk Yusuf, siapakah yang menunjukkan mimpi itu kepadamu?

Dia menjawab, “Engkau Ya Tuhanku.”

Ditanya, “Siapakah yang mengirim kafilah itu ke tepi sumur? Dan siapakah yang mengajarimu doa itu? Sehingga engkau bebas mendapatkan keselamatan?

Dia menjawab, “Engkau Ya Tuhanku.”

Ditanya, “Ketika engkau dituduh Zulaikha, siapakah yang menjadikan bayi itu berbicara? Sehingga engkau selamat dari tuduhan?

Bertanya, “Ya Allah, Engkau.”

Berfirman, “Siapakah yang menjauhkan tipudaya istri gubernur Mesir dan para wanita?

Dia menjawab, “Ya Allah, Engkau.”

Lalu mengapa engkau berlindung pada orang lain dan tidak berlindung kepada-Ku? Dan engkau tidak meminta supaya aku bebaskan dari penjara? Engkau telah berharap kepada salah satu hamba-Ku dan dia sendiri berada di bawah hamba yang ikhtiyarnya juga ada di tangan-Ku. Sekarang tinggallah di penjara tujuh tahun lagi. Karena engkau telah mengirim seorang hamba kepada hamba lainnya.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as