Sebab Lambat Dikabulkannya Doa
-
Imam Shadiq as
Imam Shadiq as berkata, “Suatu hari Ibrahim Khalil as menjelajahi sekitar gunung Baitul Muqaddas untuk mencari padang rumput, sebagai tempat penggembalaan kambing-kambingnya. Pada saat itu dia mendengar suara. Dia melihat, ternyata dia menyaksikan seorang yang berbadan tinggi sedang mengerjakan salat. Dia bertanya, hamba Allah, engkau mengerjakan salat untuk siapa? Dia menjawab, untuk Tuhan semesta alam.
Dia bertanya, “Apakah masih tersisa seseorang dari sanak familimu?”
Dijawab, “Tidak.”
Ibrahim bertanya, “Dari mana engkau menyiapkan makananmu?”
Dia mengisyaratkan ke sebuah pohon dan berkata, “Aku memetik buah dari pohon ini dan aku simpan untuk musim dinginku.”
Ditanya tentang rumahnya, dia mengisyaratkan pada sebuah gunung dan berkata, “Di sana!”
Ditanya, “Bisakah engkau membawaku ke rumahmu dan aku menjadi tamumu semalam?”
Lelaki tua itu berkata, “Di depan rumahku ada air dan sulit melewatinya.”
Ditanya, “Engkau sendiri bagaimana melewatinya?”
Lelaki tua itu memegang tangan Ibrahim dan keduanya melewati air. Ketika sudah sampai di rumah, Nabi Ibrahim as bertanya, “Hari yang manakah yang paling besar?”
Dia berkata, “Hari Kiamat dimana Allah akan memberikan pahala amal masyarakat pada hari itu.”
Ibrahim berkata, “Adalah baik bila kita doa bersama-sama. Sehingga kita dijaga dari keburukan hari itu.”
Lelaki tua itu berkata, “Doa untuk apa? Demi Allah! Aku telah berdoa selama tiga tahun, aku meminta sesuatu, tapi belum terkabulkan.”
Ibrahim as berkata, “Maukah aku sampaikan mengapa doamu lambat dikabulkan? Sebabnya adalah ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan melambatkan pengabulan doanya. Sehingga dia terus bermunajat dan meminta karena Dia menyukai permohonan dan doa. Namun, seorang hamba yang tidak disukai oleh Allah, bila dia meminta sesuatu, maka Allah akan segera mengabulkannya atau menjadikan hatinya putus asa sehingga ia mengurungkan permintaanya dan tidak lagi menyampaikan permintaannya.”
Kemudian bertanya, “Apa Hajatmu?”
Lelaki tua itu berkata, “Tiga tahun yang lalu, ada gerombolan kambing dengan penggembalanya yang tampan berambut panjang. Kepadanya aku bertanya, “Kambing-kambing ini milik siapa dan siapakah engkau?” Dia berkata, “Milik Ibrahim Khalil dan aku adalah putranya.” Pada waktu itu aku memohon, Ya Allah tunjukkan Ibrahim Khalil kepadaku!”
Ibrahim berkata, “Allah telah mengabulkan doamu. Aku Adalah Ibrahim Khalil.” Lelaki tua itu bergerak dan memeluknya serta menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah.
Sedekah; Kunci Rezeki
Imam Muhammad Baqir berkata kepada putranya; Imam Shadiq as, “Putraku sayang! Ada berapakah yang tersisa dari uang belanja? Dijawab, “Empat puluh dinar.”
Imam Baqir as memerintahkannya, “Keluarlah dari rumah dan berikan uang itu sebagai sedekah.”
Imam Shadiq as berkata, “Sudah tidak ada lagi, hanya ada empat puluh dinar ini.”
Imam Baqir as berkata, “Berikanlah uang itu sebagai sedekah, pasti Allah akan menggantinya.”
“Engkau tidak tahu, apa saja ada kuncinya dan kunci rezeki adalah sedekah. Untuk itu, sekarang berikanlah uang itu sebagai sedekah.”
Imam Shadiq pun menjalankannya.
Sebelum sampai sepuluh hari, ada uang dari sebuah tempat untuk beliau sebanyak empat ribu dinar.
Imam Baqir as berkata, “Putraku sayang! Kita telah memberi empat puluh dinar karena Allah. Allah telah menggantinya dengan empat ribu dinar.”
Mencegah Kesialan Dengan Bersedekah
Imam Shadiq as berkata, “Rencananya, ada pembagian tanah antara aku dan seorang lelaki. Lelaki itu mengerti tentang ilmu nujum [perbintangan]. Dia menunda pekerjaan ini sehingga bisa menentukan waktunya yang menurut keyakinannya waktu itu baik baginya dan buruk bagiku. Sehingga dia mendapat keuntungan dan aku mendapat kerugian...”
Akhirnya hari dan waktu yang ditentukannya tiba, tanah telah dibagi tapi menguntungkan aku. Ahli nujum ini dengan sedih menepuk kedua tangannya seraya berkata, “Aku tidak pernah melihat hari seperti hari ini.”
Aku bertanya, “Memangnya ada apa?”
Dia menjawab, “Aku adalah seorang lelaki ahli nujum. Aku keluar pada waktu yang baik dan memilih waktu yang buruk buat Anda. Tapi sekarang aku melihat urusannya malah sebaliknya. Bagian yang lebih bagus menjadi milik Anda.” Aku berkata, “Maukah aku ajari sebuah hadis yang diajarkan ayahku kepadaku?”
Dia meminta, “Katakanlah!”
Aku berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang ingin agar Allah mencegah kesialan harinya, maka hendaknya bersedekah di pagi hari. Bila ingin agar kesialan malamnya hilang, maka bersedekahlah di awal malam.”
Aku memulai awal perjalanan dan keluarku dengan bersedekah. Bersedekah ini lebih baik bagimu daripada ilmu nujum.” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as