Teladan Kehidupan Sayidah Fathimah Zahra as Dari Segi Lahiriah dan Malakuti
-
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei
Islam telah mengenalkan Fathimah as dari sisi kehebatan dan keistimewaan malakutinya sebagai teladan dan contoh bagi wanita.
Kehidupan lahiriah, jihad, perjuangan, pengetahuan, pidato, pengorbanan, berbakti kepada suami, sebagai ibu, sebagai istri, hijrah, partisipasi di semua pentas politik, militer, revolusi dan kehebatan beliau dari semua sisi yang membuat para lelaki besar tunduk di hadapannya, juga posisi spiritualnya, ruku dan sujudnya, berada di mihrab ibadahnya, doa dan sahifah, ketundukannya, zat malakutinya, dan unsur spiritualnya dan kesejajarannya dengan Amirul Mukminin dan Rasullah. Inilah wanita. Inilah teladan wanita yang ingin dibuat oleh Islam. (dalam pertemuan besar bersama para wanita, 26/10/1368)
Mengambil Pelajaran Dari Ucapan dan Gerakan Malakuti Sayidah Fathimah Zahra as
Dalam posisi turunnya wujud, ketika keagungan malakuti menyatu dengan kenyataan alam jasmani, dan bingkai kemanusiaan ini mengemban spiritual, maka pada saat itu setiap gerakan dan isyarat serta ucapan dari mulut mereka, menjadi sebuah pelajaran bagi kita yang berada di belakang ini. Tidak cukup bagi kita hanya sekedar mengetahui Sayidah Fathimah saat di alam ini dalam puncak dan keagungan yang bagaimana dan akan berada di alam makna dan malakut. Tentunya mengetahuinya bagi kita merupakan sebuah makrifat. Bila sebuah makrifat bisa didapatkan oleh seseorang, itupun tidak didapatkannya selain dalam naungan amal, merupakan sesuatu yang sangat berharga. Makrifat yang murni dan jelas sebagai penjelas makna-makna itu, tidak bisa didapatkan oleh setiap orang. Para wali Allah sajalah yang bisa memahami sudut-sudutnya. Sebatas yang kita ketahui dan kita pahami darinya harus menjadi pelajaran bagi kita dalam gerakan dan amal. Para pengikut Ahlul Bait jangan sampai melupakan hal ini. Tentunya semua umat Islam juga punya andil. Hanya saja pengetahuan seperti ini lebih sedikit di selain para pengikut Ahlul Bait. Bukan sama sekali tidak ada. Sebagian orang yang bukan pengikut Ahlul Bait, ada yang lebih terdepan terkait pengetahun tentang Ahlul Bait. Namun dalam batas ini kebanyakan dan pada umumnya dimiliki oleh para pengikut Ahlul Bait. (dalam pertemuan bersama para pembaca kidung Ahlul Bait di hari lahir Sayidah Fathimah as, 17/10/1369)
Teladan Fathimah; Pelajaran Bagi Kehidupan Pribada, Sosial dan Rumah Tangga
Para wanita muslim dalam kehidupan pribadi, sosial dan rumah tangganya harus menjadikan kehidupan Sayidah Fathimah as dari sisi rasionalis, kecerdasan dan makrifat sebagai teladan dan pelajaran baginya. Mereka harus mengikuti Sayidah Fathimah dari sisi ibadahnya, perjuangannya, kehadirannya di lapangan, mengambil keputusan besar di tengah-tengah masyarakat, sebagai ibu rumah tangga, berbakti kepada suami dan mendidik anak yang saleh. Karena kehidupan wanita besar Islam ini menunjukkan bahwa seorang wanita muslim dengan mengikuti Sayidah Fathimah as bisa masuk ke dalam kancah politik, lapangan kerja, usaha dan memainkan perannya di tengah-tengah masyarakat sekaligus dalam kondisi belajar, ibadah, berbakti kepada suami dan mendidik anak-anak dan menjadikan putri mulia Rasulullah Saw sebagai teladan dan panutannya. (dalam pertemuan umum bersama para wanita di pekan wanita, 17/9/1372)
Berkumpulnya Tiga Kewajiban Sebagai Ibu Rumah Tangga, Hadir Di Tengah-Tengah Masyarakat dan Ibadah Kepada Allah Dalam Kehidupan Sayidah Fathimah as
Dalam kehidupan sehari-hari Sayidah Fathimah, ada satu poin penting dan itu adalah berkumpulnya antara kehidupan seorang wanita muslim dengan perilakunya kepada suami dan anak-anaknya dan melaksanakan kewajibannya di dalam rumah dari satu sisi, dan dari sisi lain antara kewajiban seorang pejuang yang komitmen dan tidak kenal lelah dalam menghadapi kejadian-kejadian penting politik pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana beliau pergi ke masjid dan berpidato serta menyampaikan pendapatnya, melakukan pembelaan dan berbicara. Beliau adalah pejuang sepenuhnya dan tak kenal lelah dan bertahan di hadapan segala kesulitan. Sisi yang ketiga adalah beliau adalah seorang ahli ibadah dan pelaku salat di malam-malam yang gelap, tunduk di hadapan Allah, di mihrab ibadah wanita muda ini berdoa dan bermunajat di kepada Allah. Kumpulan tiga sisi ini adalah titik terang kehidupan Fathimah Zahra as. Beliau tidak memisahkan tiga sisi ini.
Kalian di dalam lingkungan kerja dan kehidupan harus melakukan kewajiban pribadi kalian terkait pada suami, anak-anak, tetangga dan teman-teman kalian. Lakukan ikatan sosial sehari-hari dengan baik. Pada saat yang sama kalian harus hadir di arena politik, kancah revolusi dan hal-hal yang dituntut oleh sistem sosial, pemilihan umum, medan perang, menyampaikan keinginan revolusi dan nasional kalian di seluruh penjuru negara dan dunia dan menjelaskan keinginan politik kalian di arena poltik. Kalian harus tetap menjaga kehadiran kalian dalam acara-acara pawai dan pembangunan, medan perang dan pemilihan umum dan menyanpaikan keyakinan politik kalian di saat menjelaskan pendapat hukumnya wajib. Mainkan peran dalam menentukan nasib negara dan revolusi. Pada saat yang sama perbaikilah hubungan spiritual dan hati kalian dengan Allah melalui ibadah, perhatian, zikir dan kehadiran, spiritual dan meminta pertolongan kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan mengerjakan salat-salat sunnah dan wajib. Tiga sisi inilah yang membangun seorang muslim. Islam menginginkan hal ini dari kita. Jika ditanya, bagaimana bisa terjadi? Kita jawab, kita punya teladan yaitu Fathimah Zahra as. (dalam pertemuan bersama staf pengawas dan pelaksana pemilu, 22/9/1368)
Teladan Perilaku dan Pengetahuan Dalam Kehidupan Sayidah Fathimah Zahra as
Kehidupan Sayidah Fathimah Zahra as adalah teladan bagi kehidupan seorang wanita muslim. Karena kesederhanaan hidup putri Rasulullah Saw, qanaah dan tidak adanya kejiwaan konsumerisme beliau bisa menjadi contoh terbaik bagi para wanita sosial kita saat ini. Sayidah Fathimah Zahra as dari sisi pemikiran Islam dan pengetahuan, merupakan salah satu pemuka pemikiran Islam dan beliau adalah seorang pengajar bagi anak-anaknya dan murid bagi ayahnya. Beliau telah mendidik anak-anaknya di lingkungan Islam, dengan pemikiran Islam dan suasana rumahnya penuh dengan spiritual Islam. Pribadi yang hebat dan terhormat ini ikut berpartisipasi di saat-saat diperlukan bahkan dalam perkumpulan masyarakat. Selain berpidato, beliau juga menjelaskan berbagai masalah kepada masyarakat menurut pandangannya. Beliau adalah seorang wanita pejuang, ulet, pandai, ilmuwan dan pada saat yang sama adalah seorang ibu rumah tangga, dan tidak banyak menuntut, serta teladan bagi para wanita di dunia. Karena pemikiran panjangnya, pendidikan anak-anaknya, kehadirannya di semua sisi di lapangan dan ucapannya bagi orang lain bisa menjadi pelajaran yang baik. Para wanita dengan ketakwaan, ibadah, keberanian, mendidik anak, keimanan, mengelolah rumah, menjaga kehangatan rumah tangga, bisa menjadikan Sayidah Fathimah sebagai teladannya. (dalam khutbah salat Jumat, 4/11/1364)
Teladan Yang Cerdas, Kuat Dan Bertakwa
Sayidah Fathimah Zahra as dari sisi kecerdasan dan pengetahuan telah berbuat sesuatu sehingga bila seseorang menganalisa masalah politik saat ini, dia akan melihat bahwa beliau sungguh cerdas dan kuat. Betapa cerdasnya wanita ini selain keimanan dan ketakwaannya. Lalu dari sisi ketakwaan, kesucian, pendidikan awal anak-anak, dari sisi sayang kepada suami, dari sisi tidak peduli kepada dunia. Pada malam pernikahannya, kehidupannya. Dari sisi resistensinya, keterusterangannya, dari sisi menahan derita, kesulitan, kesakitan, pemukulan, menahan kesedihan; semua ciri khas ini juga ada pada Sayidah Zainab as. Ini juga demikian, wanita itu juga putri wanita ini. Kekuatan, ketegasan, ketegaran, keberanian, jiwanya yang tinggi, kewaspadaannya, kata-katanya yang tepat, memiliki semua sifat yang dimiliki oleh orang-orang besar, kedewasaan, tidak luluh dan tidak depresi di hadapan beban musibah dan bertahan menghadapinya. Iya, inilah Zainab Kubra as. Mereka inilah teladan kalian. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan II, Olgou-ye Zan Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Udzma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami