Protes Warga Palestina atas Pembatasan Ketat di Masjid Al-Aqsa
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i40322-protes_warga_palestina_atas_pembatasan_ketat_di_masjid_al_aqsa
Otorita Ramallah dalam statemennya menyatakan, langkah rezim Zionis Israel menutup Masjid al-Aqsa bagi jamaah shalat warga Palestina merupakan pelanggaran nyata terhadap seluruh hukum dan resolusi internasional serta bertentangan dengan seluruh nilai-nilai dan moral manusia.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Jul 01, 2017 06:27 Asia/Jakarta
  • Masjid al-Aqsa
    Masjid al-Aqsa

Otorita Ramallah dalam statemennya menyatakan, langkah rezim Zionis Israel menutup Masjid al-Aqsa bagi jamaah shalat warga Palestina merupakan pelanggaran nyata terhadap seluruh hukum dan resolusi internasional serta bertentangan dengan seluruh nilai-nilai dan moral manusia.

Sumber-sumber Palestina menyatakan, polisi Israel menutup Masjid al-Aqsa bagi jamaah shalat Palestina dan secara total melarang jamaah shalat memasuki tempat suci ini.

Muhammad Jadallah, pengamat Palestina terkait hal ini mengatakan,  sangat jelas bahwa langkah rezim Zionis ini mengirimkan pesan jika Masjid al-Aqsa tidak lagi berada di bawah kekuasaan Palestina atau umat Islam, dan mereka mencitrakan bahwa tempat suci ini sepenuhnya berada di bawah kontrol Israel.

Israel dengan berbagai metode termasuk mencegah lalu lalang warga Palestina di berbagai wilayah Palestina dan tempat-tempat suci Islam, secara praktis ingin memaksakan warga Palestina dan masyarakat dunia mengakui hegemoninya.

Proses seperti ini dengan jelas ditindaklanjuti Israel terhadap Baitul Maqdis dan tempat suci Islam khususnya Masjid al-Aqsa. Beragam cara termasuk pembagian waktu dan tempat bagi tempat suci Islam di Baitul Maqdis dan pelarangan azan di tempat suci tersebut termasuk langkah-langkah mengerikan Israel untuk menguasai total Masjid al-Aqsa serta Baitul Maqdis secara keseluruhan.

Aksi hegemoni Israel terhadap al-Quds dilancarkan di saat UNESCO satu tahun lalu dalam sebuah keputusannya menolak segala bentuk hubungan bersejarah dan agama atau budaya Yahudi dengan tempat suci di al-Quds khususnya Masjid al-Aqsa. UNESCO menetapkan bahwa Masjid al-Aqsa adalah tempat suci umat Islam. Di sisi lain, selama beberapa bulan terakhir konspirasi Israel di berbagai wilayah Palestina untuk mendistorsi realita termasuk di Baitul Maqdis dan Masjid al-Aqsa semakin berbahaya. Dalam koridor ini, rezim Israel selama beberapa tahun terakhir menambah jam kehadiran Zionis di Masjid al-Aqsa.

Selain jam-jam yang telah ditentukan, umat Muslim selama ritual dan hari raya Yahudi juga dilarang memasuki Masjid al-Aqsa. Total waktu tersebut sekitar 200 hari dari satu tahun, di mana Israel tidak akan mengijinkan umat Muslim memasuki tempat suci ini. Dari sisi tempat, Zionis juga melontarkan klaim kepemilikan sebagian besar Masjid al-Aqsa. Mengingat program pembangunan dan peta yang dipalsukan Israel, dapat diprediksikan bahwa jika pembagian tempat Masjid al-Aqsa terealisasi, maka akan muncul banyak lokasi palsu dan tak jelas dengan nama Yahudi di kompleks Masjid al-Aqsa dan sekitarnya.

Berlanjutnya pelanggaran hak agama bangsa Palestina di Masjid al-Aqsa bukan saja merupakan pelanggaran terhadap hukum dan ketentuan internasional, bahkan juga pelanggaran terhadap komitmen rezim Zionis sendiri terkait bangsa Palestina terhadap negara-negara Arab. Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani tahun 1994 antara Israel dan Yordania, ditetapkan bahwa ritual keagamaan Zionis dilarang digelar di kompleks Masjid al-Aqsa.

Bagaimana pun juga berbagai bukti dan indikasi menunjukkan bahwa selama beberapa bulan terakhir, seiring dengan berkuasanya Donald Trump di Amerika dan lampu hijau terhadap aksi-aksi ekspansif Israel di berbagai wilayah Palestina, khususnya al-Quds, konspirasi rezim ilegal di wilayah Palestina semakin berbahaya.

Kebijakan Trump selaras dengan Netanyahu dan di atmosfer seperti ini, Israel mencantumkan penghapusan total hak-hak bangsa Palestina termasuk hak beragama di agenda kerjanya. Hegemoni Israel terhadap Baitul Maqdis mengindikasikan kebijakan rasis rezim Zionis untuk melawan agama samawi.

Namun begitu transformasi Palestina selama beberapa pekan terakhir, khususnya selama penyelenggaran peringatan Hari Quds Sedunia dan disusul dengan partisipasi luas warga Palestina untuk menunaikan shalat di Masjid al-Aqsa menunjukkan bahwa bangsa tertindas ini terus menentang kebijakan hegemoni Zionis dan siap melebarkan domain intifada al-Quds. Hal ini tentu saja membuat petinggi Zionis semakin khawatir.

Disebutkan bahwa Zionis selama beberapa tahun terakhir berencana menfinalkan hegemoninya terhadap Masjid al-Aqsa, namun konstelasi Zionis dan kegagalannya menghadapi bangsa Palestina semakin kentara dengan perlawanan sengit bangsa tertindas ini khususnya pasca pawai akbar Hari Quds Sedunia.

Intifada al-Quds yang meletus sejak tahun 2015 dan semakin luas dimensinya setiap hari menunjukkan bahwa rakyat Palestina pantang mundur dalam meraih tujuan mereka membentuk negara independen dengan ibukota al-Quds. (MF)