Lagi, Saudi Lontarkan Tudingan Palsu terhadap Hizbullah
-
Salman bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi (kanan).
Menteri Penasihat Arab Saudi untuk Urusan Teluk Persia melontarkan pernyataan terbaru anti-Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) dan mengklaim bahwa gerakan ini terlibat dalam operasi anti-Arab Saudi.
Thamer al-Sabhan dalam pernyataan terbaru, mengakui bahwa sebelumnya Salman bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi kepada Saad al-Hariri, Perdana Menteri Lebanon yang telah mengundurkan diri mengatakan bahwa langkah Hizbullah sama halnya pengumuman perang Lebanon dengan Arab Saudi.
Menurut laporan Tasnim News, Selasa (7/11/2017), al-Sabhan menambahkan, Arab Saudi berharap al-Hariri mampu mencegah Hizbullah Lebanon.
Pernyataan tersebut dilontarkan pejabat Arab Saudi ketika Michel Aoun, Presiden Lebanon baru-baru ini mengatakan, Hizbullah hanya menggunakan senjatanya untuk menjamin perlawanan rakyat Lebanon dalam menghadapi rezim Israel.
Menteri Penasihat Arab Saudi untuk Urusan Teluk Persia lebih lanjut menegaskan bahwa Riyadh akan mengerahkan semua kekuatan politik dan non-politiknya untuk menghadapi Hizbullah.
Al-Sabhan mengatakan, Hizbullah memiliki pengaruh dalam keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah Lebanon. Ia juga mengklaim bahwa Lebanon telah "diculik" oleh Hizbullah dan Iran.
Klaim dan tudingan itu dilontarkan oleh pejabat Riyadh ketika pekan lalu, Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran untuk Urusan Internasional bertemu dengan al-Hariri dan mengumumkan dukungannya kepada kabinetnya.
Velayati mengatakan, Iran tidak pernah berusaha untuk mencampuri urusan di Lebanon, dan Tehran selalu mendukung independensi, kemajemukan dan kedaulatan Nasional Lebanon.
Sebelum itu, Michel Aoun, Presiden Lebanon juga telah membantah klaim sejumlah sumber Barat dan Arab tentang intervensi Iran di Lebanon.
Ia mengatakan, Lebanon hingga sekarang tidak melihat adanya campur tangan dari Iran, dan klaim-klaim mengenai hal itu tidak benar.
Iran dan Hizbullah memiliki peran mendasar dalam menggagalkan berbagai konspirasi poros Arab Saudi dan rezim Zionis Israel di kawasan terutama upaya untuk membagi Suriah dan negara-negara di kawasan Timur Tengah, sehingga perang tesebut telah menyulut kemarahan Riyadh. (RA)