Lebanon dan Koalisi Muqawama Kecam Deklarasi Liga Arab
-
Hizbullah
Pemerintah Lebanon dan kelompok muqawama (resistensi) Palestina mengecam keras deklarasi Liga Arab yang menyebut Hizbullah sebagai kelompok teroris.
Menteri Luar Negeri Lebanon, Gebran Bassil dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa dia menolak pelabelan Hizbullah sebagai kelompok teroris karena gerakan muqawama adalah "elemen fundamental Lebanon."
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit pada konferensi pers di Kairo pada hari Ahad (19/11/2017) mengatakan bahwa negara-negara Arab sepakat untuk menyebut Hizbullah sebuah kelompok teroris, menambahkan bahwa dia tidak akan "mengabaikan membawa masalah ini Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai langkah selanjutnya."
Perwakilan Lebanon di Liga Arab, Antoine Azzam, menolak pernyataan tersebut, mengatakan bahwa Hizbullah mewakili sebagian besar rakyat Lebanon. Dia mengatakan Hizbullah memiliki perwakilan di parlemen Lebanon.
Lebanon abstain pada komunike hari Ahad untuk melabel Hizbullah sebagai kelompok teroris. Irak juga menyatakan keberatan dalam hal ini.
Rincian resolusi tersebut tidak dipublikasikan. Namun, laporan media menyebutkan satu-satunya hasil konkret dari pertemuan tersebut adalah satelit telekomunikasi Arab yang melarang stasiun yang didanai Iran karena diduga merupakan ancaman bagi keamanan Arab.
Di lain pihak, kelompok muqawama Palestina juga mengecam keputusan Liga Arab itu dan menilainya hanya akan melayani kepentingan Israel dan AS serta bertujuan untuk memuaskan rezim Saudi.
Aliansi kelompok muqawama Palestina menyebut keputusan tersebut "berbahaya", dan menekankan bahwa "Hizbullah merupakan kekuatan muqawama paling penting dalam melawan Israel dan terorisme."
Keputusan tersebut dirilis saat sidang darurat Liga Arab, yang diprakarsai oleh Arab Saudi untuk membahas "antisipasi" Iran dan Hizbullah.(MZ)