Pengumuman Dimulainya Intifada Ketiga di Palestina
Mereaksi keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk memindahkan kedutaan besar negara itu dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, salah satu juru bicara gerakan perlawanan Islam Palestina, Hamas mengumumkan dimulainya Intifada Ketiga.
Sepekan setelah pengumuman keputusan Donald Trump yang mengakui Al Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel, Abdul Latif Qanou, salah satu jubir Hamas, Selasa (12/12) mengatakan, rakyat Palestina memprotes langkah melanggar hukum ini dan memulai Intifada Ketiga. Qanou menegaskan bahwa Al Quds adalah ibukota Palestina.
Kencangnya gelombang protes rakyat atas keputusan terbaru Trump terkait Al Quds dan luasnya cakupan protes tersebut yang berhasil membangkitkan solidaritas dunia mendukung Palestina, merupakan salah satu karakteristik Intifada Ketiga.
Wilayah-wilayah Palestina dalam beberapa hari terakhir dilanda aksi demonstrasi rakyat memprotes keputusan Trump. Aksi serupa bahkan meluas sampai ke beberapa negara sekutu Amerika sendiri di Eropa. Beberapa hari lalu, rakyat Palestina mengumumkan, keputusan kontroversial dan sepihak Trump yang berarti pengabaian atas cita-cita rakyat Palestina untuk mendirikan negara independen beribukotakan Al Quds, pada kenyataannya adalah pengumuman perang terhadap rakyat Palestina yang dapat memicu intifada baru.
Mustafa Barghouti, salah satu aktivis Palestina menganggap peristiwa terbaru di Baitul Maqdis sebagai pertanda dimulainya intifada baru dan memperingatkan bahwa rakyat Palestina tidak akan membiarkan Israel dan para pendukungnya menjalankan rencana berbahayanya.
Al Quds bagi rakyat Palestina begitu penting, sehingga membela Al Quds selalu menjadi tema utama setiap intifada dalam melawan Israel. Perkembangan kawasan menunjukkan bahwa intifada tetap menjadi salah satu indikator sensitif dalam arena politik Palestina.
Berbagai fase yang dilalui intifada Palestina, karena memiliki sejumlah karakter khusus, dikenal dalam sejarah kontemporer sebagai kebangkitan-kebangkitan rakyat yang gemilang, dan seiring dengan kekalahan mesin-mesin perang Israel serta kegagalan konspirasi para pendukungnya, intifada-intifada itu semakin menunjukkan kekuatan.
Sekarangpun, slogan "perlawanan satu-satunya opsi untuk membebaskan Palestina dan melawan konspirasi atas Al Quds", menjadi jawaban rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel dan para pendukungnya. Dengan memperhatikan sepintas pengalaman intifada Palestina, kita akan memahami bahwa rakyat Palestina tidak pernah mundur untuk membebaskan tanah airnya dari penjajahan Zionis.
Tanggal 8 Desember 1987 adalah pecahnya Intifada pertama Palestina melawan Israel yang dikenal sebagai Intifada Batu dan dimulai dari wilayah utara Jalur Gaza. Intifada kedua Palestina yang dikenal dengan Intifada Al Aqsa pecah pada 28 Desember 2000. Pemicu intifada ini adalah masuknya Ariel Sharon, perdana menteri Israel kala itu ke Masjid Al Aqsa, bersama sejumlah militer Israel.
Intifada baru Palestina yang pecah dalam beberapa hari terakhir memiliki sejumlah alasan yang melatarinya dan kembali ke awal Oktober 2015. Intifada ini pecah seiring dengan demonstrasi besar-besaran rakyat Palestina memprotes kelancangan militer dan pemukim Zionis yang masuk ke Masjid Al Aqsa serta upaya mereka membagi waktu dan tempat kiblat pertama umat Islam itu, dan sampai sekarang masih berlanjut.
Di tengah gelombang protes rakyat Palestina, aksi provokatif Trump terkait Al Quds, sama saja dengan menyulut api untuk semakin membakar aksi-aksi demonstrasi rakyat Palestina dan memicu dimulainya Intifada Ketiga. Tidak diragukan, Intifada Ketiga adalah kelanjutan dari intifada-intifada sebelumnya dan merupakan titik balik perlawanan rakyat Palestina yang kembali akan membuktikan kegigihan perjuangannya. (HS)