2017, Tahun Tersulit bagi Penduduk Gaza
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i48547-2017_tahun_tersulit_bagi_penduduk_gaza
Ketua Komite Rakyat untuk Melawan Blokade Rezim Zionis Israel menggambarkan 2017 sebagai tahun tersulit bagi penduduk Jalur Gaza dari sisi ekonomi dan kemanusiaan. Hal itu disampaikan Jamal al-Khudara dalam pernyataan terbarunya.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Des 22, 2017 15:31 Asia/Jakarta

Ketua Komite Rakyat untuk Melawan Blokade Rezim Zionis Israel menggambarkan 2017 sebagai tahun tersulit bagi penduduk Jalur Gaza dari sisi ekonomi dan kemanusiaan. Hal itu disampaikan Jamal al-Khudara dalam pernyataan terbarunya.

Gaza bukan sebuah negara. Gaza adalah bagian penting dari wilayah Palestina, namun kerena penuduknya mengedepankan Muqawama (perlawanan) ketimbang kompromi dengan rezim Zionis dan membela bumi Palestina, maka wilayah ini ditekan dan tindas lebih kuat oleh Israel ketimbang wilayah Palestina lainnya.

Sejak tahun 2006, rezim Zionis telah memblokade penuh Gaza, sebab Tel Aviv menilai transformasi politik di wilayah ini bertentangan dengan kepentingannya. Pasca berlalunya 11 tahun dari blokade tersebut, alih-alih pengepungan ini dicabut, namun justru diperketat dan segala bentuk bantuan kemanusiaan dilarang masuk.

Sejak tahun 2006, rezim Zionis juga telah melancarkan tiga perang dan agresi terhadap Gaza; yaitu tahun 2008, 2012 dan 2014. Keputusan terbaru dan ilegal Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang mengumumkan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis juga telah mendorong terbentuknya babak baru dari kekerasan rezim penjajah tersebut terhadap rakyat Palestina, terutama penduduk Gaza.

Gaza.

Blokade keji rezim Zionis terhadap Gaza telah menimbulkan persoalan serius bagi ekonomi dan kemanusiaan di wilayah yang berpenduduk lebih dari 1,5 juta jiwa ini. 80 persen penduduk Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Tingkat pengangguran di wilayah ini telah mencapai 50 persen, di mana 60 persennya adalah para pemuda dan lulusan sekolah.

Rata-rata pendapatan perkapita di Gaza adalah dua dolar perhari. Dari 1,5 juta penduduk Gaza, sekitar dua jutanya hidup dari bantuan lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan, namun bantuan ini terlalu kecil dan tidak sampai ke tangan mereka tepat waktu.

Dari sisi kemanusiaan dan kesehatan, data di Gaza juga menunjukkan memburuknya kondisi wilayah ini. 40 persen anak-anak di Gaza menderita anemia dan kekurangan gizi. 50.000 orang juga cacat sejak lahir atau disebabkan serangan dan agresi militer rezim Zionis.

Di sisi lain, 13.000 warga Gaza menderita kanker dan membutuhkan perawatan medis. Sementara ribuan lainnya menderita penyakit kronis terutama orang-orang miskin. Dalam kondisi seperti itu, 30 persen obat-obatan terutama obat yang berkaitan dengan penyakit tertentu dan 45 persen bahan pemakaian medis tidak tersedia di Gaza.

Sebagian besar peralatan medis juga rusak dan tidak bisa digunakan. Selain itu, karena blokade, para pasien Gaza juga tidak bisa keluar dari wilayah ini untuk berobat ke pusat-pusat kesehatan di Tepi Barat atau ke negara-negara lain.

Sementara itu, sejumlah negara Arab telah berjanji untuk merekonstruksi Gaza, namun dengan berlalunya waktu, realisasi atas janji tersebut semakin jauh dari kenyataan. Rencana normalisasi hubungan rezim Zionis dengan sejumlah negara Arab terutama Arab Saudi juga telah menyebabkan janji untuk merekonstruksi Gaza menjadi terlupakan.

Resolusi Majelis Umum PBB pada Kamis, 21 Desember 2017 yang didukung oleh 128 suara untuk mengecam keputusan Trump tentang al-Quds menunjukkan bahwa masyarakat internasional sebenarnya mengakui kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina terutama Gaza dan dukungan AS kepada rezim ini. Namun mekanisme tidak adil dalam sistem internasional terutama terkait dengan hak veto di Dewan Keamanan PBB telah mencegah tekanan serius untuk menghentikan kejahatan tersebut. (RA)