Di Balik Layar Skenario Hizbullah-phobia
-
Parade pasukan Hizbullah di Lebanon.
Kontribusi Iran dan sekutunya dalam menciptakan stabilitas regional tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Misalnya dalam krisis Daesh, jika tidak ada kelompok-kelompok seperti al-Hashd al-Shaabi di Irak atau kehadiran efektif Hizbullah Lebanon di Suriah, maka tidak ada tentara lain yang mampu melumpuhkan teroris Daesh.
Namun, jelas bahwa para pecundang – yang mengimpikan kemenangan Daesh dan terbentuknya sebuah kekhalifahan teroris – tidak senang dengan situasi saat ini dan kemudian memperkenalkan Hizbullah sebagai organisasi teroris dan menekan kelompok pejuang ini.
Musuh ingin melucuti senjata Hizbullah sehingga tidak bisa berkontribusi dalam perang menumpas teroris dan kemudian menjalankan rencananya untuk mengacaukan situasi di Timur Tengah.
Permainan amatir Arab Saudi dengan Saad Hariri, sudah terbaca oleh semua orang dan dirancang untuk menghancurkan Hizbullah di Lebanon. Sebuah misi yang disusun dengan melibatkan rezim Zionis Israel, dan tentu saja gagal berkat kewaspadaan rakyat Lebanon.
Tidak satu pun dari pengamat independen, memandang Hizbullah sebagai pemicu ketidakamanan dan instabilitas di Timur Tengah, dan semua pihak yang peduli dengan kondisi regional juga mengakui peran positif Hizbullah dalam membela cita-cita bangsa-bangsa Muslim. Mereka mengetahui, Hizbullah bukanlah elemen pengobar konflik sektarian, tapi ia adalah sebuah instrumen penting untuk pendekatan antar-mazhab dan agama.
Namun, proyek Hizbullah-phobia – masih satu paket dengan proyek Syiahphobia dan Iranphobia – terus mencoba untuk memaksakan tuduhan miring kepada Hizbullah Lebanon.
Israel – yang sudah lama berusaha untuk melemahkan Hizbullah – kini meminta Arab Saudi untuk memimpin proyek penghancuran kelompok pejuang tersebut.

Mungkin sejalan dengan rencana ini, Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian menjelang kunjungannya ke Tehran, mengatakan bahwa ia akan datang ke Iran untuk membahas masalah dukungan negara ini kepada pejuang Lebanon dan kubu revolusioner Yaman.
Amerika Serikat, Eropa dan rezim-rezim reaksioner di Timur Tengah mengetahui bahwa Iranphobia dalam isu nuklir telah gagal dan juga tidak punya peluang untuk mendorong sebuah negosiasi terkait isu rudal Iran. Kali ini, mereka menargetkan kubu pejuang dan poros perlawanan di kawasan, dan memperkenalkan kelompok-kelompok yang didukung Tehran, bertanggung jawab atas kekacauan di Timur Tengah.
Di sini, kita harus bertanya kepada "para pahlawan HAM" di Barat, siapakah yang harus bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan di Yaman, kubu revolusioner atau tentara Arab Saudi dan senjata AS dan Inggris? Apakah Iran penyebab terbentuknya Daesh atau sekutu-sekutu Barat di kawasan? Dan apakah sumber krisis baru-baru ini di Palestina, dipicu oleh keputusan Trump atau ulah kubu perlawanan?
Barat akan menemukan jawaban yang tepat terhadap kekacauan di Timur Tengah dengan menjawab pertanyaan tersebut. Jika jawabannya proporsional dan adil, Barat harus berterimakasih kepada Iran karena kontribusi positif yang diberikan oleh kelompok-kelompok Lebanon, Irak, dan Yaman, bukan malah mengkritik Iran karena mendukung mereka. (RM)