UEA, Negara Milik Asing
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i50279-uea_negara_milik_asing
Televisi Aljazeera mengungkapkan meluasnya aktivitas perusahaan militer dan keamanan Barat di Uni Emirat Arab.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Jan 22, 2018 16:03 Asia/Jakarta
  • Dubai
    Dubai

Televisi Aljazeera mengungkapkan meluasnya aktivitas perusahaan militer dan keamanan Barat di Uni Emirat Arab.

Aljazeera, menyinggung pada gerakan kebangkitan Arab dan revolusi yang terjadi di sejumlah negara Arab dan menyebutkan mengatakan bahwa orang-orang di negara-negara ini menyerukan "kebebasan dan keadilan sosial".

Tuntutan ini telah ditekan di UAE selama bertahun-tahun. Munculnya kebangkitan Arab membuat rezim Al Nahyan berusaha mencegah gerakan tersebut demi mengamankan kekuasaan dengan memperketat kontrol keamanan serta mengawasi setiap warganya baik di dalam maupun di luar negeri.

Jassem Rashed Al-Shamsi, mantan penasihat Kementerian Keuangan UEA, mengatakan bahwa rezim UEA telah melanggar hak warganya. Ditambahkannya, bahwa badan keamanan rezim UEA memantau secara ketat kehidupan rakyatnya dan warga Emirat tidak dapat mengungkapkan pandangan mereka atau berkontribusi pada kehidupan politik negara mereka.

tentara bayaran Blackwater

Ditegaskannya bahwa rezim UEA, dengan membeli perlengkapan untuk penumpasan dan penyadapan dari negara-negara Barat, khususnya Inggris, dan bersikeras melanggar hak asasi manusia dan represi rakyatnya. Dikatakannya, rezim UEA dalam beberapa kasus juga membunuh warganya di luar negeri, dan penguasa UEA secara praktis "telah masuk dalam konfrontasi dengan rakyatnya dan bangsa-bangsa Arab."

Dalam beberapa dekade terakhir, UEA telah merekrut jenderal dan personil militer asing dan memperkerjakan mereka dalam jajaran pasukan keamanan internalnya. Pada tahun 2009, Jenderal Mike Hindmarsh dari Australia bertanggung jawab atas pembentukan pasukan garda pemimpin UEA. Pasukan dari garda tersebut adalah tentara bayaran asal Pakistan, Nepal, Bangladesh, Somalia, Kolombia dan Panama dan beberapa negara Afrika.

Abu Dhabi menjadi tuan rumah perusahaan multinasional yang mengkhususkan diri dalam rekrutmen dan pelatihan tentara bayaran dari Eropa, Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Yang paling terkenal dari perusahaan-perusahaan tersebut adalah Saracen International.

Perusahaan itu telah menandatangani kemitraan dengan pendiri Blackwater, Erik Prince. Meskipun menghadapi gugatan untuk Blackwater (karena kejahatan yang dilakukan terhadap warga Irak), Erik Prince, pendiri perusahaan ini, merelokasi Blackwater ke Abu Dhabi dan mendirikan sebuah perusahaan bernama "Reflex Responses Company". UEA memiliki 51% saham perusahaan tersebut.

Reflex Responses Company bertanggungjawab melatih tentara bayaran Eropa dan Afrika yang datang ke Emirat. Tentara bayaran ini melindungi istana dan instalasi minyak, berpartisipasi dalam penyiksaan oposisi dan dikirim ke medan perang Yaman dan Libya dalam kerangka kebijakan intervensionis rezim Al Nahyan.

Di balik tabir modernitas, perdagangan dan keamanan UEA, terdapat rezim polisi yang mendominasi kekuasaan dan pasukan keamanan yang berada di bawah kendali Barat.

Di bawah pemerintahan rezim Al Nahyan, UEA telah menjadi basis spionase bagi Barat di kawasan, dan kedalaman pengaruhnya sedemikian rupa sehingga pada praktiknya, Barat memainkan peran penting dalam menentukan kebijakan internal dan luar negeri UEA.(MZ)