Sikapi Dinamika Yaman, Perselisihan Saudi dan UEA Meningkat
-
Abd Rabbuh Mansur Hadi
Perselisihan sengit antara kubu dewan transisi Yaman selatan dan pasukan yang berafiliasi dengan Abd Rabbuh Mansur Hadi berujung bentrokan yang menyebabkan 45 orang tewas dan terluka dari kedua kubu loyalis Saudi dan Uni Emirat Arab tersebut.
Gerakan Ansarullah Yaman menyatakan, Sengketa antara Arab Saudi dan sesama sekutunya sendiri dalam masalah Yaman menyebabkan krisis dan perang di Yaman terus berlanjut hingga kini.
Gerakan rakyat Yaman ini meyakini penyelesaian krisis Yaman adalah solusi Yaman-Yaman, dan di luar dari tekanan asing dan kawasan.
Dewan transisi selatan Yaman memberikan tenggat waktu kepada Mansur Hadi untuk membubarkan pemerintahan Ahmad Abid bin Dagar.
Dewan transisi selatan Yaman dibentuk Mei 2017 dengan dukungan Uni Emirat Arab (UEA).
Salah satu tujuan pembentukannya untuk menjalankan prakarsa pemisahan wilayah selatan menjadi negara sendiri.
Menjelang berakhirnya tenggat waktu yang diberikan dewan transisi selatan Yaman kepada Mansur Hadi terjadi bentrokan di Aden antara kubu pendukung Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Dilaporkan, kubu pendukung UEA menyerang gedung pemerintahan Mansur Hadi dan tempat-tempat lain yang dikuasainya.
Sejak Maret 2015 hingga kini, Arab Saudi bersama sekutunya, termasuk Uni Emirat Arab melancarkan agresi militer dengan dalih mengembalikan Abd Rabbuh Mansur Hadi ke tampuk jabatan presiden meski mayoritas rakyat Yaman tidak menghendakinya.
Sebelumnya, di awal tahun 2014, Arab Saudi menggulirkan prakarsa memecah belah Yaman dalam enam federasi, dan Mansur Hadi sebagai pimpinan wilayah Aden.
Koalisi Arab yang dipimpin rezim Al Saud sejak Maret 2015 memblokade wilayah darat, laut dan udara Yaman yang menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia.(PH)