Kontrak Jual-Beli Senjata Saudi-Spanyol
-
Mohammed bin Salman di Spanyol
Arab Saudi tak henti-hentinya menandatangani kontrak militer dengan negara-negara Barat, baru-baru ini negara itu menandatangani kontrak militer dengan salah satu perusahaan Spanyol.
Perusahaan industri militer Saudi, SAMI, Kamis (19/7) menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan nasional pembuat kapal Spanyol, Navantia untuk membeli lima kapal perang jenis Avante 2200 Corvettes. Kapal perang ini rencananya akan diserahkan kepada Saudi hingga tahun 2022.
Salah satu ciri khas Saudi adalah ketergantungan negara itu dari segi keamanan terhadap negara-negara asing. Kenyataannya, Saudi harus mengeluarkan uang hasil minyak dalam jumlah sangat besar sebagai kompensasi atas jaminan keamanan negara-negara Barat, yang menjadikan penjualan senjata sebagai salah satu sumber pendapatan utamanya.
Menurut laporan lembaga riset perdamaian internasional, Saudi dalam lima tahun terakhir berada di posisi kedua negara pengimpor terbesar senjata, dan penjualan senjata ke negara ini dalam kurun waktu itu mengalami peningkatan sebesar 212 persen.
Di antara negara Barat yang paling banyak menjual senjata ke Saudi adalah Amerika Serikat. Negara itu meraup keuntungan luar biasa besar dari penjualan senjata tersebut. Hanya dalam satu kunjungan saja ke Saudi, Presiden Amerika, Donald Trump, pada Mei 2017, bisa menjual senjata senilai 460 juta dolar ke negara itu.
Hingga kini, negara-negara Barat termasuk Spanyol terus menjual senjatanya ke Saudi. Dalam lawatan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman ke Spanyol akhir April lalu, dua negara menandatangani sebuah kontrak senilai 2,2 milyar dolar terkait penjualan kapal perang ke Saudi.
Dalam kontrak jual-beli itu, perusahaan Spanyol, Navantia menjual lima unit kapal perang jenis Avante 2200 Corvettes ke Saudi, dan personil militer Spanyol berkewajiban memberikan pelatihan kepada pasukan Saudi. Selain itu akan dibangun pusat konstruksi maritim di Saudi.
Sepertinya, kontrak yang ditandatangani Saudi dan Spanyol kemarin itu adalah kelanjutan dari kontrak sebelumnya yang ditandatangani April 2018 lalu.
Pemerintah Spanyol mengetahui bahwa peralatan militernya yang dijual ke Saudi kemungkinan besar akan digunakan untuk menyerang negara-negara lain terutama Yaman dan mendukung kelompok teroris terutama di Suriah. Perang Saudi di Yaman berlangsung sejak Maret 2015 dan sejumlah lembaga internasional juga berulangkali memprotes negara-negara Barat karena terus menjual senjata ke Saudi. (HS)