Ketika PBB Seru Hentikan Perang di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i64986-ketika_pbb_seru_hentikan_perang_di_yaman
Para pemimpin organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seraya tersirat mengungkapkan penolakan koalisi Arab bekerja sama dengan rencana perdamaian dan perundingan Yaman, dalam statemen bersamanya menuntut dihentikannya serangan koalisi ini ke Yaman.
(last modified 2026-07-13T15:18:31+00:00 )
Des 04, 2018 17:13 Asia/Jakarta
  • Perang di Yaman
    Perang di Yaman

Para pemimpin organisasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seraya tersirat mengungkapkan penolakan koalisi Arab bekerja sama dengan rencana perdamaian dan perundingan Yaman, dalam statemen bersamanya menuntut dihentikannya serangan koalisi ini ke Yaman.

Serangan koalisi agresor Arab ke Yaman sampai saat ini masih terus berlanjut meksi ada permintaan berulang dari petinggi PBB termasuk Martin Griffiths, Utusan khusus sekjen PBB untuk menghentikan serangan ke negara Arab miskin ini.

 

Dialog terbaru Yaman rencananya akan digelar di Swedia antara Gerakan Ansarullah dan pemerintah Yaman yang mengundurkan diri serta dengan dukungan internasional dan mediasi PBB, namun begitu berlanjutnya serangan koalisi Arab ke Yaman meningkatkan kekhawatiran atas nasib rakyat negara miskin ini.

 

Dialog politik untuk menyelesaikan krisis Yaman sampai saat ini berulang kali gagal karena sabotase Arab Saudi dan sekutunya. Sikap dan pendekatan ini semakin menguak esensi haus perang koalisi agresor Arab Saudi dan menunjukkan sikap kubu muqawama pimpinan Ansarullah yang menghendaki solusi damai. Sabotase Arab Saudi ini secara praktis membuat masa depan perdamaian di Yaman semakin kabur.

Perang Yaman

 

Laman Koran Libération Perancis terkait hal ini menulis, meski ada upaya PBB untuk menyelesaikan krisis Yaman melalui perundingan, namun sepertinya sangat jauh untuk menggapai solusi efektif. Mungkin dialog damai dapat diingat sebagai peluang diplomatik untuk menyelesaikan krisis Yaman, namun perang di Yaman cenderung sebuah perang yang diabaikan ketimbang perang yang dilupakan. Hal ini yang membuat masyarakat internasional masih menyaksikan sabotase dan pelanggaran Arab Saudi di rute perdamaian dan berlanjutnya perang koalisi Arab di Yaman.

 

Kesiapan Ansarullah untuk menghentikan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang diumumkan beberapa hari terakhir harus dicermati sebagai langkah lain kubu muqawama Yaman untuk merealisasikan perdamaian di negara ini, di mana saat ini konsensus global semakin kencang.

 

Pengumuman ini dirilis ketika rudal balistik dan drone militer Yaman bersifat defensif dan hanya digunakan untuk mencegah serangan musuh serta perusakan insfrastruktur di negara ini. Oleh karena itu, para pengamat politik meyakini bahwa sikap Ansarullah menghentikan serangan rudal dan dronenya ke Arab Saudi dan UEA harus dinilai sebagai itikad baik gerakan ini dan sebagai upaya diplomatik di mana sekitar dua pekan lalu upaya ini memasuki fase baru dalam koridor usaha PBB menerapkan perdamaian di Yaman.

 

Di sisi lain, kebalikan dari kecenderungan internasional untuk mengakhiri perang di Yaman, koalisi Arab pimpinan Riyadh senantiasa menolak dan meningkatkan serangannya ke Yaman serta mensabotase proses perdamaian dan menyeret proses perdamaian yang saat berlangsung ke arah jalan buntu.

 

Transformasi Yaman mengindikasikan bahwa petinggi militer Arab Saudi dan UEA tidak berencana menghentikan serangannya ke Yaman dan koalisi Arab telah membuktikan bahwa mereka bukan pihak yang dapat dipercaya dalam sebuah perundingan, karena jika mereka komitmen dengan wacana ini maka perdamaian di Yaman cepat terealisasi.

 

Perdamaian di Yaman kini berubah menjadi tuntutan internasional dan ketidakpedulian Arab Saudi terhadap tuntutan ini hanya akan menjadi kekalahan beruntun para pemimpin Saudi khususnya Mohammad bin Salman, sebagai arsitek utama perang di Yaman. (MF)