Kegagalan Konferensi Minyak di Doha
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i6511-kegagalan_konferensi_minyak_di_doha
Penentangan Arab Saudi menghentikan kelebihan produksi minyaknya, membenturkan perundingan minyak di Doha pada jalan buntu. Konferensi kolektif untuk menstabilkan produksi minyak antarnegara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), digelar pada Ahad 17 April di Doha, namun diakhiri tanpa kemufakatan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 18, 2016 13:35 Asia/Jakarta
  • peserta konferensi OPEC
    peserta konferensi OPEC

Penentangan Arab Saudi menghentikan kelebihan produksi minyaknya, membenturkan perundingan minyak di Doha pada jalan buntu. Konferensi kolektif untuk menstabilkan produksi minyak antarnegara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), digelar pada Ahad 17 April di Doha, namun diakhiri tanpa kemufakatan.

Alexander Novak, Menteri Energi Rusia, usai konferensi di Doha mengatakan, "Kami sebelumnya berpikir bahwa perundingan Doha digelar dengan tujuan penandatanganan kesepakatan, bukan dalam rangka dialog, dan kami datang ke Doha dengan asumsi bahwa semua pihak akan menandatangani kesepakatan tersebut."

Novak menambahkan, kesepakatan itu gagal karena Arab Saudi menuntut partisipasi Iran. Namun pejabat Rusia itu menilai tuntutan Riyadh tidak masuk akal, karena Tehran tidak terlibat dalam perundingan tersebut.

Menteri Perminyakan Iran, Bijan Zanggeneh sebelumnya menekankan bahwa mengingat akhirinya sanksi, Iran akan meningkatkan produksi dan ekspor minyaknya, serta akan bergabung dalam kesepakatan tersebut ketika telah mencapai kuota empat juta barel per hari.

Akan tetapi para pejabat Arab Saudi sebelum konferensi Doha mengatakan menolak menandatangani kesepakatan tanpa kehadiran Iran. Politik keras kepala Arab Saudi itu terjadi di saat Riyadh telah memproduksi minyak melebihi kuota yang ditetapkan OPEC dan membuat harga minyak di pasar global mengalami shock. Adapun para pejabat Riyadh menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan mempedulikan penurunan harga minyak bahkan jika anjlok di bawah 20 USD per baral. Penekanan Arab Saudi dalam hal ini menunjukkan bahwa anjoknya harga minyak di pasar dunia sepenuhnya bersifat politis.

Politik Arab Saudi itu menimbulkan kerugian besar bagi para produsen OPEC maupun non-OPEC. Namun pertanyaan yang lebih penting dalam hal ini adalah siapa sebenarnya pemenang dan pecundang dari fenomena politik ini? Pada akhirnya bagaimana nasib negara-negara dan emas hitam ini di tingkat global?

Nampaknya salah satu pihak yang merugi di balik kembalinya Iran ke pasar minyak adalah negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC). Karena pasca pencabutan sanksi Iran, negara-negara yang untuk sementara menutupi permintaan pasar dari minyak Iran, akan kehilangan pendapatan mereka. Sementara Iran yang memiliki simpanan minyak dan gas melimpah memiliki kapasitas yang cukup besar di pasar minyak

Para analis berpendapat bahwa penurunan harga minyak dunia telah mengganggu perekonomian Rusia. Meski bukan anggota OPEC, akan tetapi perkembangan yang sedang terjadi telah merusak perekomian Rusia mengingat separuh dari pendapatannya dari ekspor minyak. Venezuela juga termasuk di antara produsen minyak yang sangat menginginkan peningkatan harga minyak.

Sekarang telah lebih dari satu tahun OPEC meningkatkan produksi minyaknya melebihi permintaan pasar, atas desakan Arab Saudi, untuk menekan produsen non-OPEC khususnya produsen minyak Shell Amerika Serikat. Namun dengan kondisi pasar saat ini, kegagalan konferensi di Doha akan berdampak mengkhawatirkan bagi produsen non-OPEC. Sementara di lain pihak, pihak yang paling diuntungkan dalam permainan politik Arab Saudi ini adalah para konsumen besar energi seperti Jepang, Cina, Eropa dan Amerika Serikat. (IRIB Indonesia/MZ)