Heboh!Tentara Sudan ini Ungkap Perilaku Rasis Militer Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i65625-heboh!tentara_sudan_ini_ungkap_perilaku_rasis_militer_saudi
Seorang tentara Sudan berhasil melarikan diri dari pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mengagresi Yaman dan mengungkap cara rezim Al Saud merekrut pasukan serta perilaku mereka terhadap tentara dari negara-negara koalisinya.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Des 20, 2018 19:04 Asia/Jakarta
  • Tentara Sudan di Bandara Arab Saudi.
    Tentara Sudan di Bandara Arab Saudi.

Seorang tentara Sudan berhasil melarikan diri dari pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mengagresi Yaman dan mengungkap cara rezim Al Saud merekrut pasukan serta perilaku mereka terhadap tentara dari negara-negara koalisinya.

Abdullah al-Shadiq (as-Shiddiq) Mahmoud Abdul Razaq dalam wawancara dengan jaringan televisi al-Masirah mengatakan, Arab Saudi menyebarkan berita bohong bahwa orang-orang Yaman adalah ancaman terhadap keamanan Haramain as-Sharifain (Mekkah dan Madinah) dan mereka membutuhkan bantuan untuk membela kedua tempat suci ini. Dengan cara inilah, lanjut Abdul Razaq, mereka merekrut tentara untuk ikut memerangi Yaman.

 

Dia menambahkan, setelah bergabung dengan pasukan koalisi untuk memerangi Yaman, mereka baru memahami bahwa rakyat Yaman bukan ancaman terhadap keamanan Haramain as-Sharifain, namun mereka hanya membela dan mempertahankan negaranya dari serangan pasukan agresor.

 

Abdul Razaq menjelaskan, pasukan Sudan dan pasukan bayaran lainnya yang bergabung dalam perang di Yaman beraktivitas di bawah petunjuk pasukan Amerika Serikat.

 

Dia juga menyinggung perilaku rasis militer Arab Saudi terhadap pasukan Sudan, dan menjelaskan, mereka memperlakukan pasukan Sudan seperti budak dan ini tidak adil, sebab, militer Sudan bergabung dalam perang ini atas permintaan Arab Saudi.

 

Abdul Razaq menuturkan, Arab Saudi menyerang orang-orang Muslim lainnya yaitu rakyat Yaman dengan dalih agama, dan mereka berusaha menyeret negara ini ke ambang kelaparan dan di bawah blokade.

 

Abdul Razaq melarikan diri dari barisan pasukan koalisi setelah mendengar pidato Pemimpin Gerakan Rakyat Yaman Ansarullah Sayid Abdul Malek Badreddin al-Houthi yang menjelaskan posisi Syuhada Yaman yang gugur dalam perang yang tidak seimbang dalam melawan pasukan penjajah.

 

Mendengar pidato tersebut, Abdul Razaq berubah pikiran dan mengutarakan hal itu kepada teman-temannya. Dia pun mendapat teguran keras dan bahkan ditembak ketika berusaha melarikan diri.

 

Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman sejak Maret 2015 ini telah merenggut nyawa belasan ribu orang dan melukai puluhan ribu lainnya.

 
Serangan militer ke Yaman dengan dukungan Amerika Serikat itu juga telah meluluhlantakkan infrastruktur negara Arab tersebut. Blokade laut, darat dan udara membuat jutaan orang, terutama anak-anak kelaparan. 


Para ahli PBB dari Program Pangan Dunia mengatakan pengeboman pasukan koalisi terhadap warga sipil adalah potensi kejahatan perang dan blokade telah membuat 12 juta pria, wanita dan anak-anak Yaman berisiko kelaparan, di mana ini adalah kelaparan terburuk dalam 100 tahun terakhir. 


Astrid Stackelberg, salah satu pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 20 November 2018 menyebut situasi di Yaman sangat tragis dan mengatakan, 22 juta warga Yaman tidak memiliki akses makanan.

Stackelberg juga mengisyaratkan penyebaran kolera di Yaman dan mengungkapkan, penyakit ini mengancam nyawa jutaan warga Yaman.

 

Dia menjelaskan, Yaman menjadi pusat penyebaran kolera terbesar di abad 21. 
Seiring dengan berlanjutnya serangan Arab Saudi ke Yaman dan rusaknya infrastruktur negara ini khususnya jaringan air bersih, kolera akan cepat menyebar di pelosok negara Arab ini. (RA)